43 Tahun STSI Padangpanjang; Semarak Dies Songsong Perubahan Status
Selama seminggu, terhitung dari tanggal 10 Desember sampai dengan 18 Desember 2008 kampus Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padang Panjang semarak dengan berbagai kegiatan yang telah disusun dalam rangka menyambut ulang tahun kampus atau Dies Natalis ke 43. Acara tahunan dengan anggaran dana dari lembaga sebesar Rp.31.000.000,- ini mengangkat tema “Dengan kebersamaan kita tingkatkan kreatifitas talenta seni dan olah raga”.
Laporan - Indah Susanti
Untuk dies natalis tahun ini, semua kegiatan dipusatkan pada tempat yang sama guna memudahkan koordinasi dan kemudahan penonton dalam menyaksikan acara yang disuguhkan. Tempat yang dipakai adalah lobi Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam dan Lobi Gedung pertunjukan Boestanil Arifin Adam. Untuk tahun ini seluruh HMJ di STSI terlibat dalam membuat dan menyusun acara dalam rangka ikut memeriahkan dies.
Acara yang dibuat tersebut bermacam-macam ada lomba lagu Minang ( HMJ Karawitan), lomba baca puisi ( HMJ Teater), Festival lagu anak ( HMJ Musik), lomba mewearnai ( HMJ Seni Murni), lomba kaligrafi, lomba desain katalog ( HMJ Kriya), lomba MC Tv, lomba penyiar atau baca berita komedi berbahasa Minang ( HMJ Televisi) dan lomba rias busana ( HMJ Tari).
Kemudian ada acara ajang gelar oleh HMJ Se STSI dalam bentuk acara bebas. Pembukaan acara dies natalis yang ke 43 ini dilakuakn di lapangan Rektorat, yang dibuka oleh wakil PK III bidang kemahasiswaan yakni Marta Roza, S.Sn, M.Hum melalui upacara resmi.
Dalam sambutannya Marta Roza selaku wakil PK III bidang kemahasiswaan berharap, ”43 tahun umur STSI, adalah waktu yang cukup panjang dalam berproses dan sudah dilalui, mulai dari proses perubahan status dari ASKI ke STSI dan sebentar lagi akan menjadi ISI, dari D3 menjasi S1 sampai kepada kreatifitas mahasiswa yang terus mengalami peningkatan. Seiring dengan itu mudah-mudahan dies menjadi pilar untuk pembangunan STSI kedepan.” Sambut Marta yang sekaligus mewakili Ketua STSI yang tidak bisa hadir berhubung dengan adanya perjalanan dinas. Usai upacara pembukaan dilanjutkan dengan jalan sehat dan pacu goni.
Pembukaan dies yang bentrok dengan pembukaan MTQ membuat acara dies terkesan tidak terkonsep dengan baik,”Jauh sebelumnya kami sudah menanyakan bagaiman dengan MTQ, DAN kapan pembukaan MTQ. Awalnya pembukaan MTQ direncanakan pada tanggal 9 Desember dan dies dibuka pada tanggal 10-nya. Pada tanggal 5 Desember, yakni pada rapat terakhir itu saya ketahui masih tetap dibuka pada tanggal itu dan pada hari jum`at itu juga tidak ada lagi membahas MTQ. Kita tidak bisa saling menyalahkan dan bukan tidak ada koordinasi antara panitia dies dengan MTQ, semua terkendala masalah waktu yang mepet atau mendesak sehingga acara jadi bentrok. Memang diakui acara tidak terkonsep dengan baik karena masalah waktu tadi.” Buka Yandri, S.Sn selaku ketua panitia pelaksana dies natalis STSI Padangpanjang yang ke 43, ketika ditemui di kantor jurusan Seni Murni.
Yandri juga menuturkan bahwa acara dies akan dibuka pada tanggal 9 Desember, tetapi berhubung masih ada suasana Idul Adha di daerah ini dan mahasiswa juga masih belum banyak maka diundurlah pada tanggal 10 Desember. Publikasi dies yang tidak begitu jauh diakibatkan karena waktu yang mendesak dan persiapan yang begitu singkat, sehingga niat untuk mengaet sponsor diabaikan. Persipan yang mendadak ini juga membuat para mahasiswa kewalahan dalam menghadirkan dan menyusun acara, begitu juga dengan para panitia dies yang telah dibentuk.
“Minimal untuk persipan itu satu bulan menjelang hari H, jadi kita dapat mempersipan konsep acara dengan baik. Lembaga mengintruksikan acara dies ini 10 hari menjelang harinya, untuk rapat pertama yang mengundang rapat masih pihak lembaga dan hari kedua rapat barulah panitia yang telah terbentuk rapat membahas acara kemudian usai rapat ketiga hari sudah dekat.” Tambah Yan panggilan dosen ini sehari hari. Dengan waktu yang mepet pihak panitia mengutamakan siapa yang mau bekerja dan optimis dalam menjalankanya.
Seperti setiap tahunnya, dies natalis jatuh pada penghujung tahun. Pada penghujung tahun itu cuaca selalu tidak bersahabat dan sering hujan, namun hal tersebut sudah menjadi masalah klasik bagi STSI dalam membuat acara. Walaupun begitu acara tetap berlangsung dan walaupun juga tidak sepenuhnya terlaksana dengan apa yang telah direncanakan dari awal.s
Dies yang mengusung tema” Dengan kebersamaan kita tingkatkan kreatifitas talenta seni dan olah raga.” Yang diisi dengan berbagai kegiatan olah raga, pameran, pertunjukan, seminar, ajang gelar dan berbagai macam perlombaan dari masing-masing HMJ di STSI Padangpanjang. Berbicara masalah telenta seni adalah berbicara masalah kreatifitas seni di STSI, hal itu sudah berjalan bagus dan orang pun sudah mengakuinya.
Namun seiring dengan dies hendaknya lebih memacu semangat para mahasiswa dalam berkreatifitas. Kemudian masuknya olah raga dalam tema dies karena setiap tahunnya kegiatan olah raga mampu menyemarakkan acara. Di samping itu kreatifitas olah raga di kampus ini aktif dalam setiap ivent-ivent tertentu walaupun tidak mampu meraih prestasi yang gemilang. Ini terbukti setiap ada permintaan untuk pertandingan, STSI selalu mengirimkan utusannya.
Pentingnya diadakan dies tidak lain dalam meningkatkan rasa kebersamaan dan rasa memiliki, berkolaborasi dan berbaur menjadi satu sebagai seniman yang selalu menjunjung tinggi rasa kekeluargaan. Terjalinnya hubungan antar mahasiswa dengan mahasiswa, antar jurusan, dosen, staf dan seluruh civitas akademik. Dengan begitu akan mendukung proses perkuliahan yang mantap. Namun senada denga itu tidak semua mahasiswa yang memanfaatkan moment ini dengan baik, bahkan ada dari sebagian mahasiswa memanfaatkan moment ini sebagai jatah libur. Ini membuktikan masih kurangnya kesadaran mahasiswa dalam memeriahkan acara di kandangnya sendiri.
Seiring dengan itu Susasrita L.V., S.Sn, M.Sn selaku koordinator seksi acara,”Ya kendalanya dalam mengendel acara adalah mengumpulkan rekan semua (mahaiswa) dan kesadaran akan acaranya sendiri masih kurang. SemuGa dengan adanya keterlibatan 7 HMJ pada acara dies tahun ini, ada timbul sebuah kesadaran akan memeriahkan acaranya sendiri dan rasa memiliki.” Jelas dosen jurusan seni tari ini ketika ditemui di depan Audi dalam memantau rekan mahasiwa yang sedang bekerja.
Dosen yang sehari-hari sering dipanggil Bunda ini sangat senang dengan adanya keterlibatan HMJ se STSI, karena dengan adanya keterlibatan HMJ membuat terbentuknya tali persaudaraan dan kebersamaan. Karena melalui dies misalnya mahasiswa Tari yang tidak kenal dengan mahasiswa Karawitan, Musik atau Televisi dan jurusan lainnya dapat saling kenal dan bekerjasama. Menurut Bunda kerjasama itu sudah terbentuk dengan baik.
Senada dengan itu, juga diakui oleh Doni mahasiswa jurusan Musik yang merupakan perwakilan dari MHJ Musik, pada saat itu membantu perlengkapan sound bahwa koordinasi antar HMJ sudah bagus, dan gabungan 7 HMJ sangat tepat sekali dalam moment sepereti ini (dies). Semoga kegiatan atau acara dies tahun ini adalah sebuah gebrakan yang ikut mendukung dan menyosong perubahan status dari STSI Padangpanjang ke ISI Padangpanjang.(***)



Bravo STSI Padangpanjang
Leave your response!