<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>pituluik.com</title>
	<atom:link href="http://pituluik.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pituluik.com</link>
	<description>fakta berestetika</description>
	<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 05:57:30 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Diklat Jurnalistik Tingkat Lanjut STSI Padangpanjang</title>
		<link>http://pituluik.com/diklat-jurnalistik-tingkat-lanjut-stsi-padangpanjang</link>
		<comments>http://pituluik.com/diklat-jurnalistik-tingkat-lanjut-stsi-padangpanjang#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 05:45:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pituluik</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Utama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pituluik.com/?p=260</guid>
		<description><![CDATA[UKM Pers STSI Padangpanjang pada tanggal 10,11, dan 12 Desember 2009 akan melaksanakan &#8220;Diklat Jurnalistik Tingkat Lanjut&#8221; di Ruang Seminar Tari dengan mengundang pembicara yang terdiri dari praktisi jurnalistik SUMBAR dan Nasional diantaranya :
1. Mustafa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>UKM Pers STSI Padangpanjang pada tanggal 10,11, dan 12 Desember 2009 akan melaksanakan &#8220;Diklat Jurnalistik Tingkat Lanjut&#8221; di Ruang Seminar Tari dengan mengundang pembicara yang terdiri dari praktisi jurnalistik SUMBAR dan Nasional diantaranya :</p>
<p>1. Mustafa Ismail S.E (Redaktur Mingguan Koran Tempo ) dengan judul materi &#8220;Jurnalistik Seni II &#8221;</p>
<p>2. Tedi Chandra (Redaksi Antara) dengan judul &#8221; Jurnalistik Kontemporer dan Media Online &#8221;</p>
<p>3. Syukri Umar S.Pt ( Redaktur Post Metro Padang ) dengan judul &#8221; Manajemen Redaksi Pers Kampus &#8221;</p>
<p>untuk dapat mengikuti kegiatan ini harap konfirmasi ke sekretariat UKM Pers STSI Padangpanjang. dengan Contact Person : Linda ( jurusan TV STSI Padangpanjang dan Ayie ( jurusan Teater STSI Padangpanjang )</p>
<p>Kegiatan ini tidak dipungut biaya dan peserta akan mendapatkan fasilitas alat tulis, Buku &#8220;Bahasa Jurnalistik&#8221; dan Sertifikat. Namun peserta terbatas sebanyak 35 orang.</p>
<p>linda</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pituluik.com/diklat-jurnalistik-tingkat-lanjut-stsi-padangpanjang/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Politik Perlu</title>
		<link>http://pituluik.com/pendidikan-politik-perlu</link>
		<comments>http://pituluik.com/pendidikan-politik-perlu#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jan 2009 14:35:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Camin]]></category>

		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pituluik.com/?p=251</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Pendidikan politik dan kepemerintahan layak di terapkan kepada mahasiswa di berbagai perguruan tinggi,&#8221; ujar Anggota DPRD Kota Padang Panjang Drs Batlimus kepada PITULUIK di ruang kerjanya akhir pekan lalu. Kata Batlimus, pembelajaran politik tidak harus ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Pendidikan politik dan kepemerintahan layak di terapkan kepada mahasiswa di berbagai perguruan tinggi,&#8221; ujar Anggota DPRD Kota Padang Panjang Drs Batlimus kepada <strong>PITULUIK</strong> di ruang kerjanya akhir pekan lalu. Kata Batlimus, pembelajaran politik tidak harus menempatkannya sebagai konten kurikulum, tetapi lebih sebagai bagian dari kegiatan pendidikan non kurikuler.</p>
<p>&#8220;Pendidikan politik bisa dilakukan dengan memuat konten tulisan berwawasan politik pada media-media yang dekat dengan mahasiswa, semisal koran kampus. Selain untuk menambah wawasan, hal ini juga akan mampu meningkatkan daya nalar dan berpikir lebih luas bagi mahasiswa itu sendiri. Jadi tidak hanya berkutat di seputar kampus, mahasiswa dengan sendirinya juga akan mengetahui segala perkembangan di luar. Khususnya politik itu tadi,&#8221; ungkapnya.<br />
<span id="more-251"></span><br />
Alur seperti ini imbuh Batlimus, juga layak di tempuh untuk memberikan pendekatan keilmuan bidang pemerintahan, khususnya kepada mahasiswa dengan fokus study berbeda. Sebagai pelajar seni misalnya, bukan berarti mahasiswa STSI Padang Panjang harus menjauh dari berbagai persoalan politik. Karena kelak begitu terjun ke tengah-tengah masyarakat, para mahasiswa juga tak bakalan bisa melepaskan diri dari persoalan tersebut.</p>
<p>&#8220;Paradigma yang menyebutkan jika kehadiran sebuah pemberitaan atau bahasan politik dalam media kampus adalah salah satu bentuk penodaan terhadap kesucian idealisme perjuangan mahasiswa, menurut saya sudah seharusnya dirubah. Karena dari hal ini secara otomatis akan membuat mahasiswa semakin menjauh dari persoalan paling besar dalam struktur kemasyarakatan,&#8221; papar Batlimus.</p>
<p>&#8220;Sudah saatnya pola pikir semacam ini dirubah. Jika tidak, bagaimana mahasiswa akan menjalankan fungsi kontrolnya, sementara aturan main dalam sistem yang akan di kritisinya itu justru tidak ia ketahui,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Dengan adanya pendidikan politik yang baik, Batlimus mengharapkan adanya kesiapan para mahasiswa dalam menghadapi Pemilu 2009. Siap dalam menentukan pilihan dan siap dengan konsekwensi pilihannya tersebut. Hal ini sebut Batlimus, tentu dalam kapasitas mahasiswa sebagai pemilih yang kritis.(281282)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pituluik.com/pendidikan-politik-perlu/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Teater Syahid Mentas di STSI</title>
		<link>http://pituluik.com/teater-syahid-mentas-di-stsi</link>
		<comments>http://pituluik.com/teater-syahid-mentas-di-stsi#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 23:46:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Camin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pituluik.com/?p=246</guid>
		<description><![CDATA[Selasa, tepatnya 11 November 2008 lalu, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padang Panjang kedatangan tamu dari Labor Teater Syahid Jakarta. Selain untuk menampilkan pertunjukan teater, kedatangan rombongan ini juga bertujuan untuk lebih meningkatkan jalinan silahturahmi ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pituluik.com/wp-content/uploads/2009/01/teater-sahid.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-247" title="teater-sahid" src="http://pituluik.com/wp-content/uploads/2009/01/teater-sahid.jpg" alt="teater-sahid" width="300" height="225" /></a>Selasa, tepatnya 11 November 2008 lalu, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padang Panjang kedatangan tamu dari Labor Teater Syahid Jakarta. Selain untuk menampilkan pertunjukan teater, kedatangan rombongan ini juga bertujuan untuk lebih meningkatkan jalinan silahturahmi dengan keluarga besar segenap civitas akademika STSI Padang Panjang, khususnya jurusan teater.</p>
<p>Tema &#8220;Kubangan&#8221; yang dipilih sang sutradara, sempat membuat para mahasiswa kebingungan dalam memaknai penggalan kata itu sendiri. Karena jika dilihat pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kubangan berarti lumpur atau genangan air kotor.</p>
<p>Kang Bambang, begitu sapaan akrab sang sutradara mengutarakan alasannya mengambil tema kubangan. Menurutnya, naskah kubangan berangkat dari catatan kecil dan puisi yang ditulis sang sutradara pasca reformasi. Melihat kondisi umum dari proses reformasi, ternyata menurut penglihatan Bambang, proses tersebut mengalami stagnasi dan reformasi. Bahkan proses yang dilewatinyapun bisa dikatakan hanya sebatas euphoria.</p>
<p>&#8220;Kata-kata kubangan begitu melekat dibenak saya dan lansung saya uraikan kedalam puisi. Situasi ini akan dialami oleh seluruh kalangan masyarakat layaknya ketika berada di dalam lumpur,&#8221; ujar pemilik nama lengkap Bambang Prihadi ini.</p>
<p>Saat ditanyai seputar persiapan-persiapan yang dilakukan menjelang pertunjukan, sang sutradara menjawab dengan yakin bahwa usaha untuk mengkondisikan tempat dengan berbagai macam properti yang ada, sudah sangat maksimal. &#8220;Pertunjukan yang berulang kali dipentaskan namun dengan tema dan konsep yang berbeda, sangat memerlukan latihan yang matang, karena musuh terbesarnya adalah mekanis,&#8221; pungkas Kang Bambang.</p>
<p>Usai gelaran pertunjukan, forum diskusi-pun dibuka. Pandu Birowo S.Sn, Dosen jurusan teater STSI Padangpanjag, mengkritik habis-habisan seputar pertunjukan &#8220;Kubangan&#8221; malam itu. Dalam pandangannya, Pandu mengkritik banyaknya material-material yang mengganggu pementasan. Dari hal ini sebut Pandu, imbasnya hanya memunculkan aktor yang bersifat individual/ personal, serta banyaknya sisi-sisi keaktoran yang dirugikan.</p>
<p>&#8220;Dialog-dialog yang dikeluarkan oleh pemain justru membuat para penonton menjadi bingung, karena terjadi perebutan ucapan,&#8221; kritiknya.</p>
<p>Tidak hanya Pandu, berbagai kritik dan komentar yang terkesan sedikit menghantam hasil pementasan ini, tak menjadikan wajah sang sutradara “masam”. Hal ini juga selaras dengan pernyataan kang Bambang, yang menyatakan kagum dan apresiasi terhadap antusias penonton yang menyaksikan pertunjukan karyanya tersebut.(ayie)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pituluik.com/teater-syahid-mentas-di-stsi/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menuju Pendidikan Tinggi yang Kualitatif</title>
		<link>http://pituluik.com/menuju-pendidikan-tinggi-yang-kualitatif</link>
		<comments>http://pituluik.com/menuju-pendidikan-tinggi-yang-kualitatif#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 23:37:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cipeh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pituluik.com/?p=240</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Q-Noy 
Kondisi pendidikan di negara kesatuan Republik Indonesia saat ini makin carut marut. Apakah kita yang berada di wilayah pendidikan dan yang menjalaninya hanya bisa menjalani apa yang diseting oleh orang-orang yang menginginkan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Oleh : Q-Noy </p></blockquote>
<p><a href="http://pituluik.com/wp-content/uploads/2009/01/qinoy.jpg"><img src="http://pituluik.com/wp-content/uploads/2009/01/qinoy-150x150.jpg" alt="qinoy" title="qinoy" width="150" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-241" /></a>Kondisi pendidikan di negara kesatuan Republik Indonesia saat ini makin carut marut. Apakah kita yang berada di wilayah pendidikan dan yang menjalaninya hanya bisa menjalani apa yang diseting oleh orang-orang yang menginginkan ini semua. Dimana selama 32 tahun kita dibodohi oleh negara-negara investor yang mengambil keuntungan dari titik peluh rakyat Indonesia.</p>
<p>Ini semua dikembalikan pada kita lagi sebagai orang-orang yang berpendidikan. Apakah pendidikan yang kita jalani ini benar-benar mendidik rakyat Indonesia menjadi cerdas? Mari kita fokuskan ke ruang lingkup pendidikan kita masing-masing, baik itu eksak maupun non eksak, mari kita bedah dan analisa kembali!!! </p>
<p>Sebuah tanda tanya besar “apakah telah benar paradigma pendidikan di Indonesia yang sedang kita jalani ini? Realita yang terjadi di pendidikan pada saat sekarang adalah pemerintah hanya menginginkan kuantitas, bukannya dari kualitas pendidikan itu sendiri. Pemerintah hanya meningkatkan infrastruktur dan fasilitas. Tapi apa hasil pendidikan itu sendiri bisa terjun langsung ke masyarakat dengan menerapkan dan sesuai profesi peserta didik yang telah didapat di bangku pendidikannya?</p>
<p>Sampai saat sekarang ini lembaga pendidikan di Indonesia yang mendidik untuk bertanggung jawab pada masyarakat adalah Perguruan Tinggi. Dan mari sama-sama kita perkecil lagi ke wilayah Perguruan Tinggi yang menciptakan peserta didik yang ahli di profesinya masing-masing dan sama-sama kita pilih perguruan tinggi seni.</p>
<p>Perguruan tinggi seni di Indonesia mempunyai paradigma untuk melahirkan peserta didik yang ahli di bidang kesenian. Ada lima profesi yang akan dijalankan oleh peserta didik untuk masyarakat setelah keluar dari Perguruan Tinggi. Seni, Yaitu sebagai Player (pelaku), Peneliti (pengkajian), Pendidik, Management dan karya (penyaji). Apakah kelima profesi ini akan didapatkan oleh peserta didik setelah keluar dari Perguruan Tinggi Seni, dan apakah benar-benar mahir di bidangnya?</p>
<p>Kita fokuskan pada lembaga Perguruan Tinggi Seni yang ada di wilayah bagian barat Indonesia yaitu STSI Padangpanjang. Sama-sama dapat kita lihat dan ketahui tamatan STSI Padangpanjang mungkin puluhan bahkan ratusan setiap periode dengan menyandang gelar sarjana seni yang siap terjun ke masyarakat dengan gelar profesinya masing-masing yang dipilih selama proses pendidikan. Ini belum tentu benar 100%. Realita yang terjadi saat ini mungkin hanya 10 hingga 20 % lulusan STSI Padangpanjang yang terjun ke masyarakat dan mengabdi sesuai dengan profesinya masing-masing.</p>
<p>Tetapi apa yang terjadi pada sebagian besar lainnya? Kemana selebihnya lulusan STSI Padangpanjang? Kenapa kebanyakan lulusan STSI Padangpanjang melanjutkan ke akta empat? Ataukah memang hanya ada satu profesi yang diprogamkan dari STSI Padangpanjang bidang keahlian khusus yaitu Pekerja Seni (Seniman)!!! Siapa yang bertanggung jawab dengan ini semua?(***)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pituluik.com/menuju-pendidikan-tinggi-yang-kualitatif/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>43 Tahun STSI Padangpanjang; Semarak Dies Songsong Perubahan Status</title>
		<link>http://pituluik.com/43-tahun-stsi-padangpanjang-semarak-dies-songsong-perubahan-status</link>
		<comments>http://pituluik.com/43-tahun-stsi-padangpanjang-semarak-dies-songsong-perubahan-status#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 23:30:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Ranah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pituluik.com/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[Selama seminggu, terhitung dari tanggal 10 Desember sampai dengan 18 Desember 2008 kampus Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padang Panjang semarak dengan berbagai kegiatan yang telah disusun dalam rangka menyambut ulang tahun kampus atau Dies ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Selama seminggu, terhitung dari tanggal 10 Desember sampai dengan 18 Desember 2008 kampus Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padang Panjang semarak dengan berbagai kegiatan yang telah disusun dalam rangka menyambut ulang tahun kampus atau Dies Natalis ke 43. Acara tahunan dengan anggaran dana dari lembaga sebesar Rp.31.000.000,- ini mengangkat tema “Dengan kebersamaan kita tingkatkan kreatifitas talenta seni dan olah raga”.</p>
<p>Laporan - Indah Susanti</p></blockquote>
<p><a href="http://pituluik.com/wp-content/uploads/2009/01/dies-natalis.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-238" title="dies-natalis" src="http://pituluik.com/wp-content/uploads/2009/01/dies-natalis.jpg" alt="dies-natalis" width="300" height="193" /></a>Untuk dies natalis tahun ini, semua kegiatan dipusatkan pada tempat yang sama guna memudahkan koordinasi dan kemudahan penonton dalam menyaksikan acara yang disuguhkan. Tempat yang dipakai adalah lobi Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam dan Lobi Gedung pertunjukan Boestanil Arifin Adam. Untuk tahun ini seluruh HMJ di STSI terlibat dalam membuat dan menyusun acara dalam rangka ikut memeriahkan dies.</p>
<p>Acara yang dibuat tersebut bermacam-macam ada lomba lagu Minang ( HMJ Karawitan), lomba baca puisi ( HMJ Teater), Festival lagu anak ( HMJ Musik), lomba mewearnai ( HMJ Seni Murni), lomba kaligrafi, lomba desain katalog ( HMJ Kriya), lomba MC Tv, lomba penyiar atau baca berita komedi berbahasa Minang ( HMJ Televisi) dan lomba rias busana ( HMJ Tari).<br />
Kemudian ada acara ajang gelar oleh HMJ Se STSI dalam bentuk acara bebas. Pembukaan acara dies natalis yang ke 43 ini dilakuakn di lapangan Rektorat, yang dibuka oleh wakil PK III bidang kemahasiswaan yakni Marta Roza, S.Sn, M.Hum melalui upacara resmi.<br />
Dalam sambutannya Marta Roza selaku wakil PK III bidang kemahasiswaan berharap, ”43 tahun umur STSI, adalah waktu yang cukup panjang  dalam berproses dan sudah dilalui, mulai dari proses perubahan status dari ASKI ke STSI dan sebentar lagi akan menjadi ISI, dari D3 menjasi S1 sampai kepada kreatifitas mahasiswa yang terus mengalami peningkatan. Seiring dengan itu mudah-mudahan dies menjadi pilar untuk pembangunan STSI kedepan.” Sambut Marta yang sekaligus mewakili Ketua STSI yang tidak bisa hadir berhubung dengan adanya perjalanan dinas. Usai upacara pembukaan dilanjutkan dengan jalan sehat dan pacu goni.</p>
<p>Pembukaan dies yang bentrok dengan pembukaan MTQ membuat acara dies terkesan tidak terkonsep dengan baik,”Jauh sebelumnya  kami sudah menanyakan  bagaiman dengan MTQ, DAN kapan pembukaan MTQ. Awalnya  pembukaan MTQ direncanakan pada tanggal 9 Desember dan dies dibuka pada tanggal 10-nya. Pada  tanggal 5 Desember, yakni pada rapat terakhir itu saya ketahui masih tetap dibuka pada tanggal itu dan pada hari jum`at itu juga tidak ada lagi membahas MTQ. Kita tidak bisa saling menyalahkan dan bukan tidak ada koordinasi antara panitia dies dengan MTQ, semua terkendala masalah waktu yang mepet atau mendesak sehingga acara jadi bentrok. Memang diakui acara tidak terkonsep dengan baik karena masalah waktu tadi.” Buka Yandri, S.Sn selaku ketua panitia pelaksana dies natalis STSI Padangpanjang yang ke 43, ketika ditemui di kantor jurusan Seni Murni.</p>
<p>Yandri juga menuturkan bahwa acara dies akan dibuka pada tanggal 9 Desember, tetapi berhubung masih ada suasana Idul Adha di daerah ini dan mahasiswa juga masih belum banyak maka diundurlah pada tanggal 10 Desember. Publikasi dies yang tidak begitu jauh diakibatkan karena waktu yang mendesak dan persiapan yang begitu singkat, sehingga niat untuk mengaet sponsor diabaikan. Persipan yang mendadak ini juga membuat para mahasiswa kewalahan dalam menghadirkan dan menyusun acara, begitu juga dengan para panitia dies yang telah dibentuk.</p>
<p>“Minimal untuk persipan itu satu bulan menjelang hari H, jadi kita dapat mempersipan konsep acara dengan baik. Lembaga mengintruksikan acara dies ini 10 hari menjelang harinya, untuk rapat pertama yang mengundang rapat masih pihak lembaga dan hari kedua rapat barulah panitia yang telah terbentuk rapat membahas acara kemudian usai rapat ketiga hari sudah dekat.” Tambah Yan panggilan dosen ini sehari hari. Dengan waktu yang mepet pihak panitia  mengutamakan siapa yang mau bekerja dan optimis dalam menjalankanya.</p>
<p>Seperti setiap tahunnya, dies natalis jatuh pada penghujung tahun. Pada  penghujung tahun itu cuaca selalu tidak bersahabat dan sering hujan, namun hal  tersebut sudah menjadi masalah klasik bagi STSI dalam membuat acara. Walaupun begitu acara tetap berlangsung dan walaupun juga tidak sepenuhnya terlaksana dengan apa yang telah direncanakan dari awal.s</p>
<p>Dies yang mengusung tema” Dengan kebersamaan kita  tingkatkan  kreatifitas talenta seni dan olah raga.” Yang diisi dengan berbagai kegiatan olah raga, pameran, pertunjukan, seminar, ajang gelar dan berbagai macam perlombaan dari masing-masing HMJ di STSI Padangpanjang. Berbicara masalah telenta seni  adalah berbicara masalah kreatifitas  seni di STSI, hal itu sudah  berjalan bagus dan orang pun sudah  mengakuinya.</p>
<p>Namun seiring dengan dies hendaknya lebih memacu semangat para mahasiswa dalam berkreatifitas. Kemudian masuknya olah raga dalam tema dies karena setiap tahunnya kegiatan olah raga mampu menyemarakkan acara. Di samping itu kreatifitas olah raga di kampus ini aktif dalam setiap ivent-ivent tertentu walaupun  tidak mampu meraih prestasi yang gemilang. Ini terbukti setiap ada permintaan untuk pertandingan, STSI selalu mengirimkan utusannya.</p>
<p>Pentingnya diadakan dies tidak lain dalam meningkatkan rasa kebersamaan dan rasa memiliki, berkolaborasi dan  berbaur menjadi satu sebagai seniman yang selalu menjunjung tinggi rasa kekeluargaan. Terjalinnya hubungan antar mahasiswa dengan mahasiswa, antar jurusan, dosen, staf dan seluruh civitas akademik. Dengan begitu akan mendukung proses perkuliahan yang mantap. Namun senada denga itu tidak semua mahasiswa yang  memanfaatkan moment ini dengan baik, bahkan ada dari sebagian mahasiswa memanfaatkan moment ini sebagai  jatah libur. Ini membuktikan masih kurangnya kesadaran mahasiswa dalam memeriahkan acara di kandangnya sendiri.</p>
<p>Seiring dengan itu Susasrita L.V., S.Sn, M.Sn selaku koordinator seksi acara,”Ya kendalanya  dalam mengendel acara adalah mengumpulkan rekan semua (mahaiswa) dan kesadaran akan acaranya sendiri masih kurang. SemuGa dengan adanya keterlibatan 7 HMJ pada acara dies tahun ini, ada timbul sebuah kesadaran  akan memeriahkan acaranya sendiri dan rasa memiliki.” Jelas dosen jurusan seni tari ini ketika ditemui di depan Audi dalam memantau rekan mahasiwa yang sedang bekerja.</p>
<p>Dosen yang sehari-hari sering dipanggil Bunda ini sangat senang dengan adanya keterlibatan HMJ se STSI, karena dengan adanya keterlibatan HMJ membuat terbentuknya tali persaudaraan dan kebersamaan. Karena melalui dies misalnya mahasiswa Tari yang tidak kenal dengan mahasiswa Karawitan, Musik atau Televisi dan jurusan lainnya dapat saling kenal dan bekerjasama. Menurut Bunda kerjasama itu sudah terbentuk dengan baik.<br />
Senada dengan itu, juga diakui oleh  Doni mahasiswa jurusan Musik yang merupakan perwakilan dari MHJ Musik, pada saat itu membantu  perlengkapan sound bahwa koordinasi antar HMJ sudah bagus, dan gabungan 7 HMJ sangat tepat sekali dalam moment sepereti ini (dies). Semoga  kegiatan atau acara dies tahun ini adalah sebuah gebrakan yang  ikut mendukung dan menyosong  perubahan status dari STSI  Padangpanjang ke ISI Padangpanjang.(***)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pituluik.com/43-tahun-stsi-padangpanjang-semarak-dies-songsong-perubahan-status/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tambologi 2 “Ovolum dan Segumpal Tanah”</title>
		<link>http://pituluik.com/tambologi-2-%e2%80%9covolum-dan-segumpal-tanah%e2%80%9d</link>
		<comments>http://pituluik.com/tambologi-2-%e2%80%9covolum-dan-segumpal-tanah%e2%80%9d#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 22:51:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kaji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pituluik.com/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Rahma Diana
Selasa, 4 november 2008 di gedung Teater tertutup taman budaya Sumatra Barat dipentaskan sebuah pertunjukan teater Sekolah Tinggi Seni Indonesia Padang Panjang. Pertujukan teater yang berjudul Tambologi 2, ”Ovolum dan Segumpal Tanah” ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Oleh : Rahma Diana</p></blockquote>
<p><a href="http://pituluik.com/wp-content/uploads/2009/01/tambology.jpg"><img src="http://pituluik.com/wp-content/uploads/2009/01/tambology-300x245.jpg" alt="tambology" title="tambology" width="300" height="245" class="alignleft size-medium wp-image-234" /></a>Selasa, 4 november 2008 di gedung Teater tertutup taman budaya Sumatra Barat dipentaskan sebuah pertunjukan teater Sekolah Tinggi Seni Indonesia Padang Panjang. Pertujukan teater yang berjudul Tambologi 2, ”Ovolum dan Segumpal Tanah” adalah karya dari seorang dosen muda STSI Padang Panjang jurusan seni teater, Dede Pramayoza S.Sn yang sekaligus menjadi sutradara dalam karya ini.</p>
<p>	Sore itu taman budaya padang diguyur hujan deras dan sangat memungkinkan para pengunjung untuk enggan mengunjungi lokasi tersebut. Namun setelah waktu magrib, hujan pun mereda dan para peminat teater pun berdatangan. Hingga pada saat pertunjukan telah dimulaipun para pengunjung masih berdatangan dan akhirnya bangku penonton pun diisi oleh para penonton. Mereka yang datang adalah teaterwan, mahasiswa, siswa smu, dan laen sebagainya.</p>
<p>	Diawal pertunjukan, saya kurang mengerti berhubungan banyaknya  kata-kata Biologi yang dilontarkan oleh para actor dalam dialog-dialognya. Namun setelah mengetahui konsep yang sebenarnya, saya sangat tertarik dengan garapan ini. Pertujukan ini memiliki banyak semiotika ( ilmu tentang tanda ) yang tiap adegan, kata, bahkan setting yang dapat kita terjemahkan menurut bahasa kita sendiri. Namun terjemahan kita itu akan lebih konteks apabila kita mengetahui konsep sutradara sebagai berikut.</p>
<p>	Tambologi ( ilmu tentang kelahiran Minangkabau ) berangkat dari pembacaan Tambo Minangkabau, akar dari budaya Minangkabau. Bundo kanduang berperan dalam Tambologi 2 yang merupakan salah satu penanda garis keturunan matrilineal yang dimiliki oleh orang Minangkabau.</p>
<p>	Sutradara berpendapat bahwa Tambo masa kini sangat instant, maka dari itu ia memilih plastik sebagai sebagai pilihan properti. Setting yang dihadirkan menggambarkan isi perut seorang wanita. Secara realitas/ kasat mata, Ovolum dan Segumpal Tanah menghadirkan sebuah imajinasi keadaan manusia saat masih dalam kandungan, mulai pada saat sperma menyembur didalamnya hingga proses kelahiran.</p>
<p>	Menurut sutradara, manusia tidak mengetahui apa yang terjadi padanya pada saat masih dalam kandungan. Konon, kita berasal dari ribuan bahkan jutaan sel sperma yang berpacu mencapai sel telur. Dan satu-satunya sperma yang berhasil adalah kita yang hidup sekarang ini. Kita yang beruntung, maka hendaknya kita hargai kemanusiaan itu dengan sebaik-baiknya.</p>
<p>	Namun pada saat ini banyak mausia yang menghancurkan kemanusiaan itu sendiri. Saat janin mulai tumbuh, diantara mereka ada yang berniat untuk menggugurkannya. Ada juga diantar mereka yang melakukan proses kelahiran yang tidak wajar. Demikianlah jika kita lihat menurut realitas kasat mata pertunjukan “ Ovolum dan Segumpal Tanah “.</p>
<p>	Jika kita bedah secara suryalis, ini berarti proses kelahiran kebudayaan Minangkabau menurut Tambo. Kelahiran 3 ( tiga ) system pemerintahan, Koto Piliang ( Titik Dari Atas ), Bodi Chaniago ( Mambasuik dari Bumi ), dan Pisang Sikalek-kalek Hutan.</p>
<p>	Awal mula kelahiran 3 sistem pemerintahan ini adalah seorang bundo kanduang yang mempunyai dua orang suami. Dari suami pertama yang merupakan seorang Raja lahirlah seorang anak laki – laki yang diberi gelar Datuk Ketumanggungan. Dari suaminya yang kedua yang merupakan seorang Dubalang lahirlah seorang putra yang diberi gelar Datuk Perpatih Nan Sabatang. Kedua anak laki-laki yang kemudian diwariskan kekuasaan kepada mereka membentuk dua laras ( dua pemerintahan ) yang berbeda dan bertolak belakang. Datuk Ketumanggungan yang merupakan pemimpin kelarasan Koto Piliang memakai sistem “ Titiak dari Ateh “, maksudnya segala sesuatu pengambilan keputusan berasal dari pemimpin. Sesuai dengan nama kelarasannya Koto Piliang yang berarti kata pilahan.    </p>
<p>	Sedangkan kelarasan yang dipimpin oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang yang bernama Bodi Caniago memakai sistem Mambasuik dari Bumi. Maksudnya adalah setiap pengambilan keputusan dilakukan dengan jalan musyawarah dan mufakat. Dan ini pun sesuai dengan nama laras Bodi Chaniago yang berarti Budi yang berharga.</p>
<p>	Untuk sistem pemerintahan yang ke tiga yaitu pisang sikalek-kalek hutan merupakan pemerintahan di luar dari Bodi Chaniago dan Koto Piliang. Pemerintahan ini tidak memihak salah satu diantaranya, namun ada sedikit penerapan kehidupan yang diambil dari dua sistem pemerintahan sebelumnya. Sistem pemerintahan ini merupakan hasil pemikiran baru yang belum diketahui siapa pencetusnya.</p>
<p>	Setelah pertujukan ini ditampilkan masih memiliki makna tanda di dalamnya. Yaitu mengerti atau tidaknya seorang penonton menandakan bahwa dia adalah orang Minangkabau atau bukan orang Minang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pituluik.com/tambologi-2-%e2%80%9covolum-dan-segumpal-tanah%e2%80%9d/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Institusi (Pendidikan) Seni, Liberalisasi dan Karakter (kesenimanan)</title>
		<link>http://pituluik.com/institusi-pendidikan-seni-liberalisasi-dan-karakter-kesenimanan</link>
		<comments>http://pituluik.com/institusi-pendidikan-seni-liberalisasi-dan-karakter-kesenimanan#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 22:22:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Kaji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pituluik.com/?p=227</guid>
		<description><![CDATA[Hikmat Budiman (ketika membedah tulisan Daniel Bell) pernah mengutip tulisan David Harvey yang memuat pendapat Marsall Bermann tentang modernitas. Dalam tulisan tersebut Bermann merinci Modernitas sebagai proyek sejarah yang cepat, simpang siur, dan keras tanpa ampun. Di sisi lain, Marx menyebut fenomena ini sebagai “semua yang padat akan menguap ke angkasa”. Kedua sinyalemen tersebut seolah menegaskan bahwa modernitas akan ditandai pergesekan yang sepertinya tak kenal lagi tapal batas, baik yang berupa ras, culture, idiologi, agama, kebangsaan dan tapal batas yang lain. Semuanya serba cair.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Oleh: Edy Suisno*</p></blockquote>
<p>Hikmat Budiman (ketika membedah tulisan Daniel Bell) pernah mengutip tulisan David Harvey yang memuat pendapat Marsall Bermann tentang modernitas. Dalam tulisan tersebut Bermann merinci Modernitas sebagai proyek sejarah yang cepat, simpang siur, dan keras tanpa ampun. Di sisi lain, Marx menyebut fenomena ini sebagai “semua yang padat akan menguap ke angkasa”. Kedua sinyalemen tersebut seolah menegaskan bahwa modernitas akan ditandai pergesekan yang sepertinya tak kenal lagi tapal batas, baik yang berupa ras, culture, idiologi, agama, kebangsaan dan tapal batas yang lain. Semuanya serba cair.</p>
<p>Dalam konstelasi yang seperti itu maka banyak yang meragukan: apakah sesuatu yang bernama identitas dalam dimensi apapun, masih signifikan untuk diungkap ke permukaan. Apakah penanda-penanda  yang kemudian disepakati sebagai ‘jatidiri’ masih layak untuk ditempatkan sebagai salah satu penyelamat wajah dunia dari dehumanisasi secara progresif  dan powerful. Dan derivasi atas pertanyaan tadi sesungguhnya adalah: benarkah liberalisasi adalah jawaban atas kebutuhan untuk tetap survive, dan kalau ‘karakter’ tetap disepakati sebagai keniscayaan atas kebutuhan pada ‘keberadaan’ lalu ‘karakter’ semacam apakah yang dimaksud? Inilah domain yang sebenarnya menjadi wilayah yang bernama intitusi pendidikan (termasuk intitusi pendidikan seni) yang semestinya menjadi titik tolak untuk menentukan dari mana ‘arah’ pembenahan harus dilakukan.<br />
<strong><br />
Liberalisasi dan Energi Kreatif di Institusi (Pendidikan) Seni<br />
</strong><br />
Kita mulai dengan perbincangan soal liberalisasi. Tentu masih dalam kerangka bahwa liberalisasi adalah anak kandung kapitalisme. Kerangka berpikir yang sering dikedepankanpun sangat jelas bahwa tidak niscaya institusi pendidikan (seni) mampu mencapai kemandirian tanpa adanya liberalisasi. Jawabannya pun sangat sederhana: otonomi. Lalu mulailah otonomi dipercayai sebagai sumber energi kreatif. Tetapi sejarah rupanya gagal membuahkan cermin, bahwa dalam kurun waktu puluhan tahun ke belakang, kita sebenarnya telah kehilangan ‘momentum’ untuk mengajarkan pentingnya integritas dalam sebuah proses.</p>
<p>Yang terjadi kemudian adalah pragmatisme yang didewakan, dan kalau sudah demikian proses pun tinggalah proses karena pembenahan akhirnya hanya identik dengan rekayasa, manipulasi, kecurangan, unjuk keserakahan demi mimpi-mimpi yang bernama ‘pencitraaan’ dan kemewahan material. Imbasnya pun jelas yakni out-put itu sendiri. Ia bukan sekedar tidak lagi menjadi hitungan, tetapi memang layak untuk dikorbankan. </p>
<p>Jadi otonomi tanpa integritas sesungguhnya hanyalah omong kosong. Jawabannya pun sebenarnya amat sedernana: sebuang sistem yang mampu mewadahai sekaligus ‘memaksa’ sebuah proses agar senantiasa berada dalam kisaran dua hal yakni kesuburan energi kreatif dan ketahanan integritas yang mendesak untuk ditegakkan, tentu saja dalam sebuah sinergia yang terus menerus. Seperti apakah bentuknya? Apapun wujud kongkretnya, yang jelas upaya untuk memecahkan ‘kejumudan’ di dunia pendidikan (seni) sebagaimana yang sedang terjadi bukanlah liberalisasi. Sekali lagi bukan itu.</p>
<p>Realitas di atas sesungguhnya bisa kita tarik dalam ranah yang lebih luas, yakni mencetak ‘mainstream-meantream’ yang tidak lagi menggantungkan pada ruang-ruang liberal untuk menstimulan bangkitnya kreativitas. Bahwa hilangnya ‘kebebasan’ adalah satu-satunya momok yang menyebabkan terpasungnya kreativitas. Kenyataan empirik yang bisa dirunut untuk membuktikan kesalahan asumsi itu dapat dilihat dari berbagai penciptaan film di berbagai belahan dunia. Iran yang semenjak lengsernya Sah Phalevi telah menerapkan aturan yang ketat dalam penciptaan film toh mampu melahirkan Children On Heaven dan Baran.</p>
<p>Di Irak pun demikian. Negeri yang masih dirundung perang tersebut justru melahirkan Turtles Can Fly, begitupun Pakistan (yang tidak selonggar Indonesia) justru melahirkan In The Name of God. Bahkan dalam situasi perang dan merebaknya kekerasan kelompokpun (terlepas karena mendapat sokongan Miramax Flm), Afghanistan justru mampu memunculkan Kandahar dan Usama. Bagaiamana dengan kita, di tengah hiruk pikuknya kontroversi UU pornografi ternyata kita masih belum mampu melahirkan Cut Nyak Dien baru yang pernah menyita perhatian besar para kritikus film dalam festival of Cannes di Paris. Momentum Doea Tanda Mata yang pernah dinobatkan sebagai film terbaik dalam festival film Asia Fasifik juga belum terulang. </p>
<p>Begitupun dalam dunia musik di tanah air, begitu beratnya untuk mengulang kembali prestasi Ruth Sahanaya yang pernah di nobatkan sebagai penyaji terbaik (Golden Award) dalam Midnight Song Festival di Finlandia. Begitu beratnya untuk menciptakan New Legend di segala lahan kesenian sepeninggal dan tidak produktifnya God Bless, The Rolies, Crisye, Gank Pegangsaan, Krakatau, Karimata, Idris Sardi, Erwin Gotawa, Affandi, Nyoman Gunarsa, Heri Dono, Wakidi, Widayat, Saiful Adnan, Amri Yahya (Tanpa mengabaikan Nyoman Masriadi, Anak-anak “Jendela” yang semakin eksis di era sekarang tetapi tetap penulis kategorikan sebagai seniman yang bukan lahir dari era kekinian) Arifin C Noer, Teguh Karya, N. Riantiarno, George Kamarullah, Yudi Datau, Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Gusmiati Suid, Bagong Kussudiharjo. Padahal diatas semua itu mereka telah mengawali kreativitas di suatu masa, di mana “kenyamanan suatu Rejim” adalah sebagai ukuran utama.</p>
<p>Padahal di atas semua itu pula ruang yang bernama “kebebasan berekspresi” belumlah selonggar sekarang. Bahkan di atas semua itu pula, sebagian dari mereka nampaknya memulai sebuah kreativitas dalam keterbatasan daya dukung (selain kemauan dan bakat). Sampai di sini, maka liberalisasi bukanlah segala-galanya dalam pertaruhan kreativitas. Hal ini sebanding juga dengan ungkapan, bahwa ketiadaan liberalisasi bukan pula semacam hikmah yang harus dirindui untuk digubah menjadi sebuah inspirasi.<br />
<strong><br />
Peneguhan Karakter: Internalisasi Nilai</strong></p>
<p>Proyeksi yang bisa dijelaskan dari fenomena di atas sesungguhnya adalah bahwa institusi pendidikan bukanlah sekedar komoditas yang ternyata hanya menguntungkan (maaf) para pengambil kebijakan dengan menjadikan peserta didiknya hanya sebagai indikator-indikator ‘pengelabuhan’ untuk (sekali lagi) ‘diuntungkan’ oleh adanya berbagai “proyek pembenahan”, tetapi pendidikan pada dasarnya adalah ruang untuk memproses manusia-manusia ‘unggul’ yang bukan sekerdar memiliki kompetensi memadahi tetapi juga memiliki kesangupan untuk menginternalisasi nilai-nilai (baca: Idiologi) yang diyakininya sebagai ‘spirit’ kekaryaan atau penciptaan.<a href="http://pituluik.com/wp-content/uploads/2009/01/seniman-abstract.jpg"><img src="http://pituluik.com/wp-content/uploads/2009/01/seniman-abstract-300x217.jpg" alt="seniman-abstract" title="seniman-abstract" width="300" height="217" class="alignright size-medium wp-image-228" /></a></p>
<p>Di sinilah sebuah ‘karakter’ akhirnya mulai ditancapkan. Sebuah karakter yang menempatkan internalisasi nilai-nilai tersebut bukan dalam bentukan yang identik dengan pengekor atau pembeo atau bahkan taklid buta tetapi internalisasi nilai yang diwujudkan dengan sikapnya yang berjarak dan obyektif dengan semua nilai yang berseberangan dengan keyakinannya sembari tetap kritis-analitis terhadap keberadaan nilai-nilai yang menjadi keyakinannya sendiri. </p>
<p>Sebuah karakter yang sesungguhnya di bentuk oleh nilai-nilai yang kemudian terproyeksikan dalam sekumpulan prilaku (attitude) dan bukan sekedar “kegenitan-kegenitan” yang bersifat demonstratif-sloganitis atau hanya bersifat ceremoni-ceremoni simbolik. Karakter tersebut pada akhirnya akan memiliki keberanian untuk mengambil sikap yang bersebrangan sekalipun cara pandangnya dianggap tidak popular ditengah arus utama yang terkadang diyakini sebagai hal yang ‘umum’ atau ‘biasa’ padahal sebenarnya justru diliputi banyak ‘kepentingan’ dan ‘pembodohan’ (kalau tidak boleh dikatakan sebagai kebohongan).</p>
<p>Kalau tidak, maka maka lansiran Paul Johnson mengenai sisi gelap para pengubah dunia, dalam bukunya Intellektuals pun akan berulang kembali (penulis kutip dari kutipan Herry Nurdi): maka munculah Karl Marx-Karl Marx baru yang ‘benalu’ sebagaimana Karl  Marx dahulu kala yang di tengah pikiran-pikiran revolusionernya ternyata dihidupi oleh Mosses Hes dan Friedrick Engels dalam separuh hidupnya, atau menjadi Ernest Hemingway-Ernest Hemingway baru sebagaimana Ernest Hemingway dahulu kala yang ternyata adalah penganut Free Sex dan menjadikan (maaf) sahabat-sahabat ibunya sebagai ‘korban’, atau menjadi J.J Rousseau yang baru sebagaimana J.J Rousseau dahulu kala yang begitu narcis sampai tega membuang semua anaknya ke dalam Foundling Home, atau menjadi Betrand Russell-Betrand Russell baru sebagaimana Betrand Russell dahulu kala yang di tengah sikap kritisnya pada semua idiologi dan sikapnya yang humanis ternyata adalah penganjur utama di bangunnya hydrogen Bom yang kemudian digunakan untuk menyerang Kremlin.</p>
<p>Atau menjadi Sartre baru sebagaimana Sartre lama yang ternyata adalah seorang alkoholic dan pelanggan setia prostitute. Dan yang paling tragis adalah akan segera lahir kaum intelektual yang sebenarnya sangat kompotibel dan pintar tapi lebih suka bersikap skeptis dan sekedar mencari keselamatan dan keuntungan pribadi bahkan dengan tega menjadi bagian dari legitimator kekuasaan yang korup, dan semena-mena.</p>
<p>Begitulah, jika masih ada kepercayaan bahwa institusi pendidikan tidak sekedar ruang untuk mengembleng pengetahuan dan ketrampilan, maka perwujudan ‘karakter’ dan internalisasi nilai-nilai  dalam identifikasi out-put ataupun pada strategi pengelolaan mutlak diperlukan. Ia akan menjelma menjadi panduan sistem yang mampu menginspirasi dan mengarahkan kebijakan sekaligus mengilhami out put yang dihasilkan. Pertanyaan berikutnya yang harus dijawab adalah: benarkah ‘kemapanan’ dan ‘kenyamanan’ yang selama ini kita peroleh dari pilihan-pilihan yang serba pragmatis tidak lagi menggoda?</p>
<p>*Penulis adalah staf pengajar Jurusan Teater STSI Padangpanjang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pituluik.com/institusi-pendidikan-seni-liberalisasi-dan-karakter-kesenimanan/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Musik : Masalah, Sebab dan Akibatnya</title>
		<link>http://pituluik.com/pendidikan-musik-masalah-sebab-dan-akibatnya</link>
		<comments>http://pituluik.com/pendidikan-musik-masalah-sebab-dan-akibatnya#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 21:50:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kaji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pituluik.com/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[Secara umum Juju Masunah mengatakan dalam makalahnya; Diharapkan pendidikan seni memiliki peranan dalam pembentukan pribadi siswa yang harmonis antara logika, etika, rasa estetis, dan artistik dalam pengembangan kreatifitas, dan dalam menumbuhkan kesadaran dan kemampuan berapresiasi terhadap keragaman budaya (Yayah Khisbiyah, Pendidikan Apresiasi Seni, 2004: 123). Pertanyaan yang mesti dijawab; sudahkah pendidikan seni musik menjalankan peranannya?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Oleh: Yogi Andika H. L.</p></blockquote>
<p>Secara umum Juju Masunah mengatakan dalam makalahnya; Diharapkan pendidikan seni memiliki peranan dalam pembentukan pribadi siswa yang harmonis antara logika, etika, rasa estetis, dan artistik dalam pengembangan kreatifitas, dan dalam menumbuhkan kesadaran dan kemampuan berapresiasi terhadap keragaman budaya (Yayah Khisbiyah, Pendidikan Apresiasi Seni, 2004: 123). Pertanyaan yang mesti dijawab; sudahkah pendidikan seni musik menjalankan peranannya?</p>
<p>Ditinjau dari beberapa kenyataan di lapangan, pembelajaran seni musik di lembaga-lembaga pendidikan formal (selanjutnya disebut sekolah), belum dapat memikul &#8220;beban pendidikan&#8221; seperti yang juga dijelaskan di dalam &#8220;Tujuan Kurikuler&#8221; dari GBPP 1984 untuk &#8220;Pendidikan Seni Musik SMA&#8221; dan di dalam buku &#8220;Pendidika Kesenian I (Musik)&#8221;, untuk PGSD guru kelas oleh Bapak Jamalus dan Bapak Hamzah Busroh yang diterbitkan oleh Depdikbud pada tahun 1991/1992 (sebelum kurikulum baru, yaitu kurikulum &#8220;Pendidikan Seni&#8221; 1993/1994 dirumuskan). Untuk membuktikan hal tersebut cukuplah kita mendatangi sekolah-sekolah terdekat di lingkungan sekitar tempat tinggal kita.   Perhatikan dan dengarkan, bagaimana masyarakat sekolah tersebut menyanyikan lagu Indonesia Raya karya W. R. Soepratman di saat upacara bendera atau pun acara-acara lainnya. Apabila kita perhatikan, dengarkan dan kita telaah secara seksama, maka masih banyak dapat ditemukan kesalahan dalam cara menyanyikan lagu tersebut, baik menggunakan vokal maupun instrumental. Kesalahan-kesalahan tersebut meliputi penguasaan melodi, pola ritme, tempo, harmoni, dan dinamik dalam lagu yang diinginkn si pencipta lagu sendiri.</p>
<p>Dieter Mack menilai; …seperti misalnya lagu-lagu Ibu Sud, Cornel Simanjuntak dan lain-lain. Saya setuju dan mengakui bahwa karya-karya orang itu amat penting bagi nilai-nilai bangsa Indonesia dalam rangka perjuangan kemerdekaan dan selanjutnya untuk pelestarian demikian bagi angkatan-angkatan yang akan datang. …dilihat dari segi fungsi nasional sendiri, melainkan saya sangat menghormati fungsinya sebagai teladan bangsa (Dieter Mack, Pendidikan Musik Antara Harapan Dan Realita, 2001: 7). Apabila lagu-lagu yang dianggap amat penting bagi bangsa Indonesia saja sudah tidak dapat dinyanyikamn dengan baik dan benar, bagaimana dengan menyanyikan dan mempelajari lagu-lagu lain dan memainkan alat musik untuk pelajaran seni musik di sekolah-sekolah. Mungkin terlihat terlalu mengada-ada dan terlalu membesarkan masalah, tetapi yang terjadi di lapangan memang seperti itu adanya. Dan memang terbukti secara empiris bahwa contoh kecil itu apabila ditelusuri dan dibuktikan lebih jauh, maka kita dapat menjumpai banyak ketidakberesan terhadap pendidikan seni musik di sekolah-sekolah tersebut.</p>
<p><a href="http://pituluik.com/wp-content/uploads/2009/01/pendidikan-musik.jpg"><img src="http://pituluik.com/wp-content/uploads/2009/01/pendidikan-musik-300x200.jpg" alt="pendidikan-musik" title="pendidikan-musik" width="300" height="200" class="alignleft size-medium wp-image-219" /></a>Nisaul Aulia mengatakan dalam makalahnya yang berjudul &#8220;Masyarakat, Musik Tradisi, Dan Perubahannya&#8221; bahwa setiap permasalahan pada umumnya dilandasi oleh 2 faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam lembaga pendidikan tersebut beserta unsure-unsurnya, sedangkan faktor eksternal merupakan factor yang berasal dari luar lembaga pendidikan tersebut. Kedua faktor ini saling berkaitan dan menjadi dasar sekaligus menunjang terjadinya permasalahan.<br />
. Guru merupakan tiang keberhasilan dari proses pendidikan. Memberi ruang kreatif yang dapat meningkatkan kompetensiya  dalam berkesenian adalah hal yang terpenting untuk mendapatkan perhatian khusus. Apabila baik ilmu, pengetahuan, dan keterampilan serta metode penyampaiannya (SDM seorang guru), maka baik juga hasil dari proses bermusik di sekolah tersebut. Djohan menegaskan: Dua pertanyaan penting yang ditujukan kepada para guru yang mengajarkan musik adalah: &#8220;Keterampilan apa yang dibutuhkan agar seorang anak kelak berhasil menjadi musisi?&#8221; dan &#8220;Bagaimana cara yang paling efisien untuk mendapatkan keterampilan itu?&#8221; (Djohan, Psikologi Musik, 2003: 190). Guru yang tidak memiliki keterampilan yang memadai, apalagi dengan latar belakang pendidikan yang bukan dari pendidikan seni, dapat mempengaruhi hasil dari proses pembelajaran dan pelatihan seni musik di sekolah.</p>
<p>Permasalahan yang paling penting di dalam proses belajar dan berlatih adalah permasalahan minat. Apabila seorang guru dengan serius memberi pelajaran dan pelatihan kepada para peserta didik namun peserta didik tidak berminat untuk menjalankan proses tersebut, maka tidaklah juga dapat menghasilkan hasil yang baik, dan demikian sebaliknya.</p>
<p>Ketersediaan tenaga pengajar dan alat pendukung untuk praktek musik serta pengalaman bermusik juga mempengaruhi terhadap proses dan hasil proses dari kegiatan bermusik di sekolah – sekolah. Lain halnya dalam permasalahan bakat, bukanlah suatu faktor yang dapat menjadi penyebab gagalnya proses pembelajaran musik di sekolah. Ditegaskan oleh Djohan dalam bukunya: Konsep bakat secara umum telah banyak dipertanyakan secara serius oleh para ilmuwan. Tiga orang pakar psikologi musik dari Inggris menempatkan bakat pada posisi &#8220;mitos&#8221;. Ketiga pakar tersebut adalah Richard Howe dari Universitas Exeter, Jane Davidson dari Universitas Sheffield, dan Jhon Sloboda dari Universitas Keele yang telah banyak melakukan pembuktian bahwa bakat itu ada dan menyimpulkan bahwa konsep ini tidak menjelaskan soal prestasi cemerlang dalam musik atau latihannya (Djohan, Psikologi Musik, 2003: 176)</p>
<p>Seiring berkembangnya teknologi ini banyak pihak yang justru mengapresiasi musik – musik yang lebih mengutamakan nilai komersil ketimbang nilai pendidikannya. Dieter Mack menjelaskan: Globalisasi dalam bidang musik sudah nampak sejak munculnya media massa dan berbagai konglomerat dengan tujuan tertentu, yaitu tujuan komersil. …..bila suatu karya seni hanya dibuat dengan tujuan komersial, maka pasar yang  mengaturnya, bukan keinginan ekspresi oleh seniman tersebut (Dieter Mack, Pendidikan Musik Antara Harapan Dan Realita, 2001: 2).</p>
<p>Maka tidak heran apabila banyak kita temui di mana – mana, anak – anak lebih dapat menyanyikan lagu – lagu populer dengan baik daripada lagu – lagu wajib nasional yang memang sangat jarang (kalau tidak mau dikatakan tidak ada) ditampilkan di media – media massa elektronik. Karena terlalu sering ditampilkannya lagu – lagu popular tersebut, maka anak – anak terbiasa untuk menyanyikannya.<br />
Faktor lain yang mempengaruhi terjadinya hambatan – hambatan dalam proses adalah pola pikir dan kesadaran masyarakat serta keberadaan kurikulum musik itu sendiri. Keberadaan kurikulum musik dan seni adalah penting untuk menjaga humanitas dan pendidikan seni yang benar. Sebagai pendidik musik, kita harus dapat membuat perubahan dalam mendidik masyarakat. Mendidik orang tua siswa agar sadar bahwa menanamkan nilai pendidikan musik adalah jauh lebih penting dari pendidikan lainnya (Dieter Mack, Pendidikan Musik Antara Harapan Dan Realita 2001: 176).</p>
<p>Orientasi dan apresiasi, pembelajaran yang salah menghasilkan produk yang salah pula. Apabila murid mendapatkan ilmu, pengetahuan, dan keterampilan yang kurang memadai, maka bekal itulah yang selalu akan mereka bawa untuk terjun ke masyarakat, sampai mereka menemukan kebenaran dengan cara lain atau tidak sama sekali. Dan itu berarti bertentangan pada UU &#8221; Sitem Pendidikan Nasional&#8221;, 1989, bab II. &#8220;Dasar Fungsi dan Tujuan&#8221;, pasal 4, yaitu pendidikan nasional bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa&#8230;.dan sebagainya dan sebagainnya.</p>
<p>Apabila terdapat masalah pada hasil yang ditimbulkan oleh proses bermusik itu, berarti juga tidak terlepas dari peranan guru yang mempunyai tanggung jawab besar dalam hal mendidik, memberikan ilmu, pengetahuan dan keterampilan. Jika terjadi kegagalan proses bermusik, maka gagal pula seorang guru menjalankan tanggungjawabnya. Itu berarti guru menjatuhkan martabatnya sendiri dalam dunia pendidikan.<br />
Selanjutnya yang terjadi di masyarakat juga dipengaruhi oleh apa yang terjadi pada dunia pendidikan, karena pesrta didik yang menuntut ilmu di sekolah akan kembali lagi ke lingkungan di mana  tempat mereka berasal. Apabila peserta didik membawa bekal ilmu yang salah untuk terjun kemasyarakat dan mereka pun juga mengajarkan hal yang salah kepada khalayak, maka masyarakat pun mendapatkan ilmu, pemgetahuan,  informasi, dan keterampilan yang salah pula. Hal demikian dapat menjadikan masyarakat berkutat pada hal yang salah – salah juga dan tidak terjadinya kemajuan bangsa yang sama – sama kita inginkan.<br />
Akhirnya, sebagai refleksi untuk semua, Plato pernah berkata, &#8220;Di dalam pendidikan, musik menduduki posisi tertinggi karena tidak ada satu pun disiplin yang dapat merasuk ke dalam jiwa dan menyertai dengan kemampuan bertahap melebihi irama dan harmoni&#8221;. (Plato, 428-348 SM)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pituluik.com/pendidikan-musik-masalah-sebab-dan-akibatnya/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Budaya Minangkabau</title>
		<link>http://pituluik.com/pendidikan-budaya-minangkabau</link>
		<comments>http://pituluik.com/pendidikan-budaya-minangkabau#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 21:30:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kaji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pituluik.com/?p=203</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Edy Utama
Orang Minangkabau sedang berada di persimpangan jalan. Persimpangan antara masa lalu dan masa kini. Maju sulit, mundurpun susah. Godaan masa kini dan masa depan, yang digerakkan oleh kekuatan kapitalisme global, telah menggoda cukup ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Oleh Edy Utama</p></blockquote>
<p>Orang Minangkabau sedang berada di persimpangan jalan. Persimpangan antara masa lalu dan masa kini. Maju sulit, mundurpun susah. Godaan masa kini dan masa depan, yang digerakkan oleh kekuatan kapitalisme global, telah menggoda cukup banyak orang Minang.<br />
Godaan ini tidak saja dialami anak-anak mudanya, tetapi juga melanda banyak orang tua. Ada yang telah hijrah, dan berjalan meninggalkan “rumah budayanya” yang bernama adat Minangkabau. Sekali-sekali mereka kembali lagi menengok masa lalunya, tetapi mereka telah jauh berjalan. Mereka seperti orang yang berdiri di pematang sawah, sambil membayangkan dirinya mencangkul di lumpur yang basah.</p>
<p>Memang himbauan “masalalu” untuk “kembali” cukup nyaring terdengar. Kadang-kadang bergema keseluruh negeri. Ada kecemasan orang Minangkabau tidak lagi menjadi “orang Minang”. Ia mungkin telah menjadi “orang lain”? Malin Kundang yang pulang kampung, tidak lagi si Malin yang dulu pergi. Ia telah berubah. Dan memang harus berubah. Dunia yang membesarkannya tidak lagi tradisi “surau” yang mendidik banyak laki-laki Minang. Ia tumbuh dalam alunan gelombang. Berkembang di antara kota-kota pantai yang kosmopolitan. Hidup dalam keragaman budaya dunia. Masa lalu baginya, adalah sebuah kenangan.</p>
<p>Mengamati kehidupan budaya Minangkabau dewasa ini, mungkin persis seperti melihat orang yang berada di persimpangan jalan. Dalam dekade terakhir, kita begitu sering mendengar, melihat dan mengalami, upaya-upaya untuk menjadikan kembali adat (budaya) Minangkabau sebagai identitas kultural yang harus melekat pada diri orang Minangkabau.</p>
<p>Di sekolah, di sekolah Budaya Alam Minangkabau (BAM) telah lama pula diajarkan. Banyak buku BAM yang telah dicetak. Banyak pelatihan guru BAM yang telah diselenggarakan. Pendidikan adat Minangkabau terus diupayakan. Hasilnya? Jauh panggang dari api. “Malin Kundang kebudayaan” terus saja lahir dan semakin lama mereka semakin besar.</p>
<p>Namun harapan untuk menjadikan kembali adat Minangkabau sebagai  identitas kultural belum juga dapat diwujudkan. Anak-anak mudanya mungkin lebih senang jalan-jalan ke mall, dan mengikuti trend mode yang berkembang demikian cepatnya. Tarikan masa depan jauh lebih menggoda. Masa lalu yang dipresentasikan dalam kehidupan adat semakin jauh tertinggal. Kapitalisme global kelihatannya jauh lebih berkuasa dan menggoda. Adat dan budaya Minangkabau hanya tinggal dalam pepatah-petitih.</p>
<p>Gelombang demi gelombang telah mendera orang Minangkabau. Setiap gelombang mendorong perubahan. Pergolakan PRRI telah menorehkan krisis kultural orang Minangkabau. Kekuasan sentralistik Orde Baru, telah menggeser cara pandang orang Minangkabau terhadap kebudayaannya. Kapitalisme global telah mendorong orang Minangkabau menjadi lebih pragmatis.</p>
<p>Siapakah yang salah? Mungkin tidak ada yang salah. Situasi zaman yang melanda orang Minangkabau dewasa memang cukup kompleks. Guru-guru BAM mungkin tidak salah, karena mereka hanyalah bagian dari sebuah sistem pendidikan yang telah didisain secara sentralistik.</p>
<p>Paradigma pendidikan budaya kita memang belum sepenuhnya memberikan ruang yang cukup bagi sebuah proses pendidikan budaya yang memihak pada eksistensi budaya lokal. Apa lagi jika dikaitkan dengan prinsip-prinsip pendidikan budaya yang sesuai dengan budaya lokal tersebut, seperti pendidikan adat dan budaya Minangkabau.<br />
Pendidikan budaya, seyogianya tidak bisa sama dengan pendekatan pendidikan bidang sosial lainnya, apa lagi dengan bidang pendidikan eksakta. Jika kita lihat paradigma keilmuan yang melekat pada guru-guru BAM, atau guru kesenian yang ada di lembaga pendidikan sekolah, pada umumnya adalah paradigma keilmuan Barat.</p>
<p>Contoh yang paling mudah dapat kita lihat dari paradigma pendidikan kesenian yang telah dikembangkan selama ini di lembaga pendidikan sekolah kita. Pendefinisiannya berdasarkan prinsip kesenian yang hidup di Barat. Kategorisasi kesenian seperti teater, seni rupa, musik dan tari, adalah pendefinisian menurut keilmua Barat, dan sudah pasti tidak akan dapat membangun apresiasi budaya tradisi yang ada dalam khasanah kebudayaan Minangkabau.</p>
<p>Dalam kebudayaan Minangkabau, pendefinisian dan kategorisasi seperti itu tidaklah dikenal. Semua cabang kesenian yang dikategori menurut keilmuan Barat ini, tidaklah dikenal, karena semuanya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Sebagai contoh dapat kita berikan, seperti randai. Randai dalam pemahaman kebudayaan Minangkabau, adalah sebuah bentuk kesenian yang di dalamnya ada tari, teater, sastra, musik, dan kesemuanya itu tidak bisa dilihat atau dikaji secara parsial. Semuanya merupakan sesuatu yang utuh.</p>
<p>Dengan paradigma keilmuan “orang luar” ini tidak mungkin prinsip-prinsip dan nilai-nilai adat dan budaya lokal seperti Minangkabau dapat diapresiasi secara baik oleh siswa. Paling jauh, adat dan budaya tersebut hanya menjadi pengetahuan saja. Pengetahuan yang tidak menjadi prilaku pastilah tidak akan menjadi kebudayaan. Dengan demikian, adat dan budaya Minangkabau (BAM) yang diajarkan melalui lembaga pendidikan formal kita hanya akan berhenti sampai menjadi pengetahuan, dan tidak akan hidup sebagai sebuah prilaku sosial, seperti diharapkan dari ajaran adat kita.</p>
<p>Tidak ada jalan lain, kita harus mencari dan menemukan sebuah paradigma baru pendidikan budaya kita, terutama untuk pendidikan budaya Minangkabau. Kita harus mencari modul yang tepat. Menyusun materi yang sesuai, dan mengembangkan sebuah metodelogi yang cocok dengan prinsip-prinsip adat Minangkabau.</p>
<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_204" class="wp-caption alignright" style="width: 160px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://pituluik.com/wp-content/uploads/2009/01/edi-utama.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-204" title="edi-utama" src="http://pituluik.com/wp-content/uploads/2009/01/edi-utama-150x150.jpg" alt="Edi Utama adalah seorang aktivis kebudayaan, mantan Ketua Umum Dewan Kesenian Sumatera Barat" width="150" height="150" /></a></dt>
</dl>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pituluik.com/pendidikan-budaya-minangkabau/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Fenomena Lembaga Pendidikan Tinggi Seni</title>
		<link>http://pituluik.com/fenomena-lembaga-pendidikan-tinggi-seni</link>
		<comments>http://pituluik.com/fenomena-lembaga-pendidikan-tinggi-seni#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 21:17:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kaji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pituluik.com/?p=200</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sahrul N
Dunia pendidikan di Indonesia secara umum dalam sepuluh tahun terakhir ini mengalami kemunduran yang sangat signifikan, terutama sejak bergulirnya era reformasi. Mahasiswa seperti tidak lagi mempercayai pendidikan formal yang dikelola oleh pemerintah yang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Oleh: Sahrul N</p></blockquote>
<p>Dunia pendidikan di Indonesia secara umum dalam sepuluh tahun terakhir ini mengalami kemunduran yang sangat signifikan, terutama sejak bergulirnya era reformasi. Mahasiswa seperti tidak lagi mempercayai pendidikan formal yang dikelola oleh pemerintah yang mereka anggap hanya menipu mereka. Informasi yang mereka peroleh lewat media massa tentang lembaga pendidikan yang tidak bermutu, pejabat pendidikan yang korup, mafia pendidikan yang merajalela, lapangan kerja yang sulit, dan kualitas dosen yang diragukan membuat mahasiswa berada dalam kegamangan prinsip untuk tetap bertahan atau keluar dari jalur pendidikan formal. Satu sisi mereka memerlukan identitas formal, sementara pada sisi lain mereka merasa tidak mendapatkan apa-apa dari lembaga formal tersebut.<a href="http://pituluik.com/wp-content/uploads/2009/01/perguruan-tinggi-seni.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-201" title="perguruan-tinggi-seni" src="http://pituluik.com/wp-content/uploads/2009/01/perguruan-tinggi-seni.jpg" alt="perguruan-tinggi-seni" width="300" height="202" /></a></p>
<p>Sekarang di dunia pendidikan merupakan masa-masa sulit untuk meyakinkan mahasiswa bahwa pendidikan formal itu penting. Setelah jatuhnya rezim Soeharto, eforia kebebasan melanda masyarakat Indonesia. Mereka menjadi raja untuk diri mereka masing-masing. Kepercayaan menjadi hal yang sangat sulit ditemukan. Sebaliknya rasa curiga menjadi makanan empuk sehari-hari.</p>
<p>Di lingkungan pendidikan formal yang lebih kecil yaitu STSI Padangpanjang, hal tersebut juga tidak bisa dielakkan. Kemunduran pemikiran tentang seni budaya baik tradisi maupun kontemporer juga dilandasi oleh ketidakpercayaan mahasiswa terhadap lembaga pendidikan formal. Sampai saat ini seni bagi mahasiswa masih merupakan sesuatu yang bersifat menghibur dan kegiatan pengisi waktu luang. Mereka belum bisa memahami bahwa seni bisa menjadi suatu profesi yang menghasilkan kemewahan, keagungan, kecerdasan, dan sebagainya.</p>
<p>Adalah sangat membesarkan hati bila kita menatap kembali sejarah proses belajar, dan melihat berapa seringnya pemikir-pemikir agung bermunculan di daerah-daerah sepi, di tengah suku-suku biadab dan kurun yang penuh berbagai tindasan dan kekerasan. Alangkah indahnya, dari masa-masa suram seperti sekarang ini yang penuh dengan darah, rintihan, dan lagu duka yang sedih, muncul pemikiran yang tenang dan agung, mempelajari alam dan melahirkan karya-karya seni yang monumental. Seperti contoh, Shakespeare tak mungkin mampu menulis drama-dramanya, karena ia hanyalah seorang pemuda golongan kelas menengah yang berasal dari desa, yang setelah tamat dari suatu sekolah di kota kecil terjun menjadi aktor. Tetapi kenyataan menjadi lain, Shakespeare muncul menjadi tokoh yang sampai hari ini menjadi salah satu pilar utama di dunia seni peran.</p>
<p>Untuk melihat lebih objektif penyebab dari kemunduran dunia pendidikan seni terutama di STSI Padangpanjang perlu dilakukan evaluasi dari seluruh persoalan yang terjadi di lingkungan STSI Padangpanjang. Evaluasi ini akan dibijaksanai oleh pengembangan sistem belajar mengajar yang mengarah pada profesionalisme di dunia pendidikan.</p>
<div id="attachment_243" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://pituluik.com/wp-content/uploads/2009/01/demo-teater.jpg"><img class="size-full wp-image-243" title="demo-teater" src="http://pituluik.com/wp-content/uploads/2009/01/demo-teater.jpg" alt="&lt;left&gt; &lt;b&gt; TUNTUT RUMAH &lt;/b&gt; - Belum selesainya perbaikan gedung teater membuat mahasiswa gerah dan menlancarkan aksi protes untuk merebut kembali &quot;rumah&quot; mereka tersebut (foto : ipunk) &lt;/left&gt;" width="300" height="196" /></a><p class="wp-caption-text">  TUNTUT RUMAH  - Belum selesainya perbaikan gedung teater membuat mahasiswa gerah dan menlancarkan aksi protes untuk merebut kembali &quot;rumah&quot; mereka tersebut (foto : ipunk) </p></div>
<p>Asumsi awal penyebab dari kemunduran dunia pendidikan seni di STSI Padangpanjang memiliki tiga faktor yaitu kemiskinan, kesalahan, dan hambatan yang disengaja. Kemiskinan. Kebanyakan mahasiswa STSI Padangpanjang berada sedikit saja di atas tingkat hidup minimal. Mereka hampir-hampir tidak mampu untuk membeli buku dan membayar uang sekolah (SPP). Sedangkan pendidikan tergantung pada unsur-unsur tradisi, organisasi, dan kelengkapannya. Kalau hal ini tidak terpenuhi untuk 50 tahun saja, maka dunia ini akan dipenuhi oleh mereka yang buta huruf. Hal ini perlu mendapat kajian lebih lanjut.</p>
<p>Kesalahan. Adalah sangat menyakitkan nurani bila diingat berapa banyak pikiran yang baik telah sia-sia, dihambat atau mendapat pengarahan yang salah, disebabkan kesalahan dalam sistem pendidikan. Sering kali bahwa suatu pendidikan yang baik hanya ditawarkan kepada kelompok yang terpilih, sisanya dibiarkan merana dalam kebodohan.</p>
<p>Terdapat tiga kesalahan yang menyebabkan lemahnya pendidikan masa kini yaitu pertama ada kecenderungan bahwa sekolah seni diadakan terutama untuk melatih mahasiswa untuk mampu bergaul, berintegrasi dengan kelompoknya, melengkapi mereka dengan keterampilan seni, mampu menyesuaikan diri dengan keluarga dan masyarakat. Sesungguhnya semua itu hanyalah salah satu dari tujuan kegiatan pendidikan. Tujuan yang lainnya yang sama pentingnya atau bahkan lebih penting lagi adalah melatih pemikiran individu seintensif mungkin dan mendorongnya ke arah pemikiran yang beraneka ragam, sebab kebanyakan dari kehidupan kita yang pokok adalah bersifat pribadi, dan di tengah berkecamuknya kebudayaan massal adalah penting untuk mempertahankan kebebasan pribadi.</p>
<p>Kesalahan kedua adalah terletak pada kepercayaan bahwa proses pendidikan terhenti sama sekali setelah kedewasaan mulai. Banyak sekali dosen muda meninggalkan kemampuan kritis mereka. Keadaan seperti ini tak beda dengan seorang yang belajar teater namun tak lagi mengikuti pagelaran atau bermain untuk satu pertunjukkan.</p>
<p>Kesalahan ketiga adalah terletak pada suatu gambaran yang salah bahwa proses belajar dan mengajar haruslah memperlihatkan hasil yang segera, yang membawa keuntungan, dan membawa kita ke arah keberhasilan. Memang benar bahwa pendidikan dimaksudkan untuk perkembangan kepribadian secara keseluruhan. Namun adalah tidak mungkin, bahkan tidak dikehendaki untuk mengemukakan bahwa kebanyakan dari materi pokok pendidikan akan menyebabkan mahasiswa menjadi kaya atau menempatkan mereka memiliki jabatan tertentu.</p>
<p>Hambatan yang Disengaja. Telah sering terjadi, bahkan hari ini, terdapat mereka yang mencanangkan bahwa sekumpulan pengetahuan tertentu harus dimusnahkan, atau sedemikian dibatasinya sehingga menjadi sangat rahasia. Bukan disebabkan karena fakta-fakta yang dikemukakannya keliru, atau disebabkan rasa takut bahwa hal itu akan memengaruhi moral orang yang tidak bertanggungjawab. Namun disebabkan bahwa jika hal itu diketahui orang secara luas, pengetahuan itu akan merupakan bahaya bagi golongan, organisasi politik, organisasi agama, organisasi sosial tertentu.(**)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pituluik.com/fenomena-lembaga-pendidikan-tinggi-seni/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
