<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Institusi (Pendidikan) Seni, Liberalisasi dan Karakter (kesenimanan)</title>
	<atom:link href="http://pituluik.com/institusi-pendidikan-seni-liberalisasi-dan-karakter-kesenimanan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pituluik.com/institusi-pendidikan-seni-liberalisasi-dan-karakter-kesenimanan</link>
	<description>fakta berestetika</description>
	<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 07:11:23 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Dede Pramayoza</title>
		<link>http://pituluik.com/institusi-pendidikan-seni-liberalisasi-dan-karakter-kesenimanan/comment-page-1#comment-16</link>
		<dc:creator>Dede Pramayoza</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Jan 2009 07:16:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pituluik.com/?p=227#comment-16</guid>
		<description>Bagi saya, dekadensi 'pendidikan' itu terjadi karena liberalisasi di maknai secara fisik belaka. Mengenakan jeans, tank-top, mewarnai rambut, bercelana sobek, dll. Tapi jika seseorang berfikir bahwa 'yang penting saya kritis' tanpa melakukan analisis berbasis data dan usaha menawarkan solusi, bukankah ia jauh lebih liberal?
Sikap pragmatik, terutama yang bersinggungan dengan politik, pada tingkatan yang paling sederhana sekalipun, adalah liberalisasi yang lebih akut. Bergerak, tanpa 'platform' yang terukur, juga tidak pernah dilihat sebagai liberalisasi yang laten. Kecendrungan untuk menggunakan 'sempalan' teori secara membabi-buta, juga harus di sadari sebagai 'laku' yang mendorong ke arah liberalisasi. Kesan/citra/imej "intelektual", terpelajar, adalah komoditi "liberalisasi", mengkonsumsinya berarti 'terhindar' dari kedalaman, isi,jiwa,energi,dan yang terpenting menjauhkan diri dari 'hakekat' ilmu.
Mahasiswa (termasuk mahasiswa seni) cenderung bersikap seperti itu. 'Perlawanan', yang dilakukan dengan 'style' seperti yang disebutkan di awal, pada dasarnya juga membina 'liberalisasi' secara mental, dan celakanya, hal semacam itu massif, hampir bisa ditemui di setiap kampus.

"Tulisan yang menarik, pak EDI"

Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi saya, dekadensi &#8216;pendidikan&#8217; itu terjadi karena liberalisasi di maknai secara fisik belaka. Mengenakan jeans, tank-top, mewarnai rambut, bercelana sobek, dll. Tapi jika seseorang berfikir bahwa &#8216;yang penting saya kritis&#8217; tanpa melakukan analisis berbasis data dan usaha menawarkan solusi, bukankah ia jauh lebih liberal?<br />
Sikap pragmatik, terutama yang bersinggungan dengan politik, pada tingkatan yang paling sederhana sekalipun, adalah liberalisasi yang lebih akut. Bergerak, tanpa &#8216;platform&#8217; yang terukur, juga tidak pernah dilihat sebagai liberalisasi yang laten. Kecendrungan untuk menggunakan &#8217;sempalan&#8217; teori secara membabi-buta, juga harus di sadari sebagai &#8216;laku&#8217; yang mendorong ke arah liberalisasi. Kesan/citra/imej &#8220;intelektual&#8221;, terpelajar, adalah komoditi &#8220;liberalisasi&#8221;, mengkonsumsinya berarti &#8216;terhindar&#8217; dari kedalaman, isi,jiwa,energi,dan yang terpenting menjauhkan diri dari &#8216;hakekat&#8217; ilmu.<br />
Mahasiswa (termasuk mahasiswa seni) cenderung bersikap seperti itu. &#8216;Perlawanan&#8217;, yang dilakukan dengan &#8217;style&#8217; seperti yang disebutkan di awal, pada dasarnya juga membina &#8216;liberalisasi&#8217; secara mental, dan celakanya, hal semacam itu massif, hampir bisa ditemui di setiap kampus.</p>
<p>&#8220;Tulisan yang menarik, pak EDI&#8221;</p>
<p>Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
