Camin

Kesenian dan Kebudayaan adalah jiwa bangsa. Hancurlah siapa yang melupakan akal budi. Pondasi sebuah masyarakat yang maju adalah tradisinya. Maka belajar yang terbaik adalah dari sejarah.

Cipeh

Sepatah kata, Seiring berita. Sesuatu yang kecil menjadi besar karena sebuah alasan. Anda ingin tahu alasan besar dibalik sebuah berita kecil? disini tempatnya!

Garak

Dunia kata, dunia tanpa suara. Hanya rajutan huruf yang berirama. Tapi memahaminya membuat kita mengerti, bahwa dunia tak pernah mati, dari informasi.

Kaji

Dunia kampus. Tempat ide bertemu semangat. Tempat akal bertemu kejujuran hati. Kata siapa? disinilah tempatnya menemukan jati diri, untuk siapa yang bertanya.

Ranah

Opini anda tentang dunia. Kami peduli, juga orang yang tak pernah berhenti mendengarkan. Apapun bisikan Anda, pastikan semua orang mendengarnya, melalui KacaPemirsa.

Home » Cipeh

Menuju Pendidikan Tinggi yang Kualitatif

Submitted by on Thursday, 15 January 20095 Comments

Oleh : Q-Noy

qinoyKondisi pendidikan di negara kesatuan Republik Indonesia saat ini makin carut marut. Apakah kita yang berada di wilayah pendidikan dan yang menjalaninya hanya bisa menjalani apa yang diseting oleh orang-orang yang menginginkan ini semua. Dimana selama 32 tahun kita dibodohi oleh negara-negara investor yang mengambil keuntungan dari titik peluh rakyat Indonesia.

Ini semua dikembalikan pada kita lagi sebagai orang-orang yang berpendidikan. Apakah pendidikan yang kita jalani ini benar-benar mendidik rakyat Indonesia menjadi cerdas? Mari kita fokuskan ke ruang lingkup pendidikan kita masing-masing, baik itu eksak maupun non eksak, mari kita bedah dan analisa kembali!!!

Sebuah tanda tanya besar “apakah telah benar paradigma pendidikan di Indonesia yang sedang kita jalani ini? Realita yang terjadi di pendidikan pada saat sekarang adalah pemerintah hanya menginginkan kuantitas, bukannya dari kualitas pendidikan itu sendiri. Pemerintah hanya meningkatkan infrastruktur dan fasilitas. Tapi apa hasil pendidikan itu sendiri bisa terjun langsung ke masyarakat dengan menerapkan dan sesuai profesi peserta didik yang telah didapat di bangku pendidikannya?

Sampai saat sekarang ini lembaga pendidikan di Indonesia yang mendidik untuk bertanggung jawab pada masyarakat adalah Perguruan Tinggi. Dan mari sama-sama kita perkecil lagi ke wilayah Perguruan Tinggi yang menciptakan peserta didik yang ahli di profesinya masing-masing dan sama-sama kita pilih perguruan tinggi seni.

Perguruan tinggi seni di Indonesia mempunyai paradigma untuk melahirkan peserta didik yang ahli di bidang kesenian. Ada lima profesi yang akan dijalankan oleh peserta didik untuk masyarakat setelah keluar dari Perguruan Tinggi. Seni, Yaitu sebagai Player (pelaku), Peneliti (pengkajian), Pendidik, Management dan karya (penyaji). Apakah kelima profesi ini akan didapatkan oleh peserta didik setelah keluar dari Perguruan Tinggi Seni, dan apakah benar-benar mahir di bidangnya?

Kita fokuskan pada lembaga Perguruan Tinggi Seni yang ada di wilayah bagian barat Indonesia yaitu STSI Padangpanjang. Sama-sama dapat kita lihat dan ketahui tamatan STSI Padangpanjang mungkin puluhan bahkan ratusan setiap periode dengan menyandang gelar sarjana seni yang siap terjun ke masyarakat dengan gelar profesinya masing-masing yang dipilih selama proses pendidikan. Ini belum tentu benar 100%. Realita yang terjadi saat ini mungkin hanya 10 hingga 20 % lulusan STSI Padangpanjang yang terjun ke masyarakat dan mengabdi sesuai dengan profesinya masing-masing.

Tetapi apa yang terjadi pada sebagian besar lainnya? Kemana selebihnya lulusan STSI Padangpanjang? Kenapa kebanyakan lulusan STSI Padangpanjang melanjutkan ke akta empat? Ataukah memang hanya ada satu profesi yang diprogamkan dari STSI Padangpanjang bidang keahlian khusus yaitu Pekerja Seni (Seniman)!!! Siapa yang bertanggung jawab dengan ini semua?(***)

5 Comments »

  • pitei said:

    sebenarnya semua bisa saja kembali pada pesert didik semula….

    jika kita bisa meningkatkan kualitas kita mulai dari dini, pastinya kualitas tempat kita ada akan terbangun dengan sendirinya.

    Mengkaji permasalah dlam mengambil akta IV di univ. lain, itu sesuai kebutuhan, buka tuntutan atau sebuah keharusan yang mutlak


  • ANTI ACNE said:

    pendidikan memang mahal
    gmn mo jd pendidik klo ngk prnah jd yang terdidik
    seorang pendidik butuh dana untuk menjadi sang pendidik
    bukan gaya doank

    pendidikan bukan alam takambang jadi guru

    BELAJR SANA DI HUTAN

  • ANTI ACNE said:

    hidup ngk dapat diprediksi untuk besok

    liat tu yang sok seniman

    apa sich seniman???? jabarin doeloe…

    tamat ambil akta Mmmmmmm harus!!!!

    perut perlu di isi anak ma bini perlu makan

    seorang seniman butuh makan utk berpikir

    ngk hanya cukup mati, idup, laper, nangis dengan seni!!!

    seniman pikir positif donk
    dulu ma sekarang beda….. kita bukan primitif

  • none pp said:

    anda ngomong saja yang bisa !!!
    la buktinya sekaang sudah berapa semester di jurusan kriya apa yang anda lakukan untuk mempersiapkan masa depan yang baik
    yang ada gonta-ganti minat (mayor)
    ayo berbuat………, jangan hanya ngomong dan protes keadaan, toh semuanya tidak hanya tergantung instansi/ PT tetapi mahasiswanya sendiri juga harus yang benarjadi mahsiswa……..

  • Ronaldo Rozalino said:

    Rezeki harus dicari jangan hanya berdiam diri dengan masalah pendidikan ini…skill yang didapat selama kuliah akan dapat diaplikasikan dan salurkan….

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.