Pencak Silat Tradisional ;Wujud Kreatifitas Generasi Muda
Dewasa ini, keberadaan silat sudah menjadi tradisi yang tidak asing lagi. Aktivitas dan kreativitas para generasi muda dalam upaya pelestarian dan pengembangan silat sudah bisa diacungkan jempol. Mereka membuat event yang dapat dijadikan sebagai wadah guna merangsang masyarakat untuk tertarik dengan dunia bela diri ini. Salah satunya kegiatan Seminar Internasional, yang terselenggara atas kerjasama Pemerintah Kota Padang Panjang dengan pihak Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang.
Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Padangpanjang yang ke 218 yang jatuh pada 1 Desember 2008 lalu itu, digelar sepanjang 28 hingga 30 November 2008, bertempat di Gedung Auditorium STSI Padang Panjang. Menurut Ketua Panitia Dafinos S.Sn, salah satu sasaran utama dari pelaksanaan kegiatan ini, tak lain dalam rangka mencari dan menyiapkan kader-kader penerus pencak silat tradisional di Ranah Minang.
“Selain untuk menyaring kader-kader dan mempertahankan jati diri dari silat itu sendiri, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk lebih memberikan pemahaman bagi masyarakat akan pentingnya pelestarian terhadap kekayaan nilai-nilai tradisi di Ranah Minang ini,” ujar Dafinos.
Pada tahun 2007 lalu, kegiatan Seminar Internasional juga telah sukses digelar di Gedung M Syafei Padang Panjang dan INS Kayu Tanam. Seperti yang telah dijadwalkan, kegiatan ini diikuti oleh peserta sebanyak 50 orang. Selain berasal dari sejumlah group silat di Kota Padang Panjang, kegiatan itu juga diramaikan para peserta dari Negeri Sembilan Malaysia dan kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Seminar internasional mengenai pencak silat ini menghadirkan dua orang pemakalah yang berkompeten di bidangnya ini, antara lain membahas tentang makna Filosofi silat dan relevansinya dengan pembangkitan jati diri anak nagari. Mereka adalah Emral Djamal Dt. Rajo Mudo dan Zulkifli Dt. Sinaro Nan Kuniang, S.Kar, M.Hum. Dalam seminar ini Asril, salah satu dosen Jurusan Karawitan STSI Padangpanjang tampil sebagai moderator.
Dalam makalahnya, Zulkifli lebih menekankan akan pentingnya tentang silat untuk paga diri dan pengaruhnya disisi masyarakat Minangkabau yang sebagian besar beragama Islam. Kemudian Emrar Djamal dalam makalahnya membahas besarnya manfaat silat. Apalagi ketika negeri berada dalam keadaan aman dan damai. Dimana dari kepandaian bela diri, taktik dan strategi berperang tersebut, bisa saja diolah menjadi suatu permainan seni perang. Apalagi imbuh Emrar, silat merupakan salah satu ilmu bela diri yang unik.
Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) dalam programnya juga telah memberikan arah, bahwa pencak silat sekarang perlu dilihat dari dua masalah. Yakni pencak silat sebagai gelanggang prestasi olahraga dan pencak silat sebagai gelanggang kekayaan Budaya Nusantara.
Erfidawati, S.Pd, Salah seorang peserta seminar yang sempat diwawancarai PITULUIK mengatakan, salah satu faktor ketertarikannya untuk mengikuti seminar tersebut karena ingin mengetahui sejarah perkembangan silat, hingga mencapai titik stagnasi seperti halnya kondisi yang terjadi pada saat sekarang. “Saya ingin mengetahui apa yang menyebabkan silat terhenti dan sekaligus ingin mendalaminya,” kata Efrida yang mengaku sebagai salah seorang staf pengajar di SD 13 Balai-balai ini.
“Semoga dengan adanya adanya gelaran seminar internasional mengenai Filosofi Pencak Silat dan relefansinya dengan jati diri generasi muda ini, akan mampu melahirkan kader-kader yang berkompeten sebagai generasi yang memegang teguh sebuah tradisi. Basilek berarti beradat, beradat berarti mengaji diri, mengaji diri berarti mengaji bana, tahu diri tahu di nan bana, bana badiri sandirinyo,” tutup Zulkifli berpetatah.(indah)



Leave your response!