<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Pendidikan Budaya Minangkabau</title>
	<atom:link href="http://pituluik.com/pendidikan-budaya-minangkabau/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pituluik.com/pendidikan-budaya-minangkabau</link>
	<description>fakta berestetika</description>
	<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 07:10:01 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: RD</title>
		<link>http://pituluik.com/pendidikan-budaya-minangkabau/comment-page-1#comment-6</link>
		<dc:creator>RD</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 Jan 2009 12:04:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pituluik.com/?p=203#comment-6</guid>
		<description>Ya, memang sudah banyak berjangkit virus "malinkundang kebudayaan". Dulu cerita itu dipopulerkan oleh orang Minang melalui lisannya dan sekarang, telah dipopulerkan melalui perbuatannya. 
Pertama, mengenai pengaruh Barat yang telah mengaburkan semua ajaran adat. Banyak sekali, dari cara berpakaian, sikap, aktifitas, dan lain sebagainya. Ada salah satu yang sangat tidak saya sepakati. Dalam sebuah rumah, semua anggota keluarga (nenek, ayah, ibu, dan anak-anak)menonton pada saat yang bersamaan. Memang yang ditonton hanya sinetron,tapi ketidaklayakannya terdapat pada anggota yang menonton tadi. Tidak sepantasnya seorang mertua perempuan menonton film percintaan bersamaan dengan menantu laki-lakinya dan sebaliknya, atau anak dengan Bapak. Memang kita harus menjalin kebersamaan, tetapi saya rasa tidak dalam hal ini.
Ke dua, saya sudah sering berbagi pengalaman dengan mereka para perantau, baik itu langsung ataupun tidak. Anehnya, kenapa sebagian mereka selalu mengatakan kalau kita "orang Padang" itu munafik? Padahal mereka sendiri adalah orang Padang. Mungkin mereka menganggap bahwa rantau yang mereka diami sekarang adalah yang terbaik, dan menganggap kita yang dikampung kolt dan tidak mau maju. Saya hanya dapat menjelaskan bahwa kita ini sebetulnya bisa saja memakai gaya melebihi mereka, tetapi karena kita diatur oleh ajaran adat dan agama sehingga menjadikan kita bisa membedakan mana pematang, dan mana sawahnya. Itulah mereka yang dewasa badan, namun pemikirannya tidak.Bukannya membangun, ataupun mengembangkan negri, tapi malah memojokkan diri sendiri. "Manapuak aia di dulang" kata orang besar. Bisa saja para perantau menyebarkan ajaran kita dan bukan hanya kita yang saja yang bisa dipengaruhi. Sebetulnya, merekapun rindu terhadap kampung. Buktinya, dari kaset hingga ring tone hp lagunya Minang semua, tetapi kenapa masih saja seperti itu? Mungkin hanya waktu yang bisa menjawab. Saya berharap selain berkembang rezky tapi berkembang jualah para "kacang yang indak lupo jo kulit" di perantauan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ya, memang sudah banyak berjangkit virus &#8220;malinkundang kebudayaan&#8221;. Dulu cerita itu dipopulerkan oleh orang Minang melalui lisannya dan sekarang, telah dipopulerkan melalui perbuatannya.<br />
Pertama, mengenai pengaruh Barat yang telah mengaburkan semua ajaran adat. Banyak sekali, dari cara berpakaian, sikap, aktifitas, dan lain sebagainya. Ada salah satu yang sangat tidak saya sepakati. Dalam sebuah rumah, semua anggota keluarga (nenek, ayah, ibu, dan anak-anak)menonton pada saat yang bersamaan. Memang yang ditonton hanya sinetron,tapi ketidaklayakannya terdapat pada anggota yang menonton tadi. Tidak sepantasnya seorang mertua perempuan menonton film percintaan bersamaan dengan menantu laki-lakinya dan sebaliknya, atau anak dengan Bapak. Memang kita harus menjalin kebersamaan, tetapi saya rasa tidak dalam hal ini.<br />
Ke dua, saya sudah sering berbagi pengalaman dengan mereka para perantau, baik itu langsung ataupun tidak. Anehnya, kenapa sebagian mereka selalu mengatakan kalau kita &#8220;orang Padang&#8221; itu munafik? Padahal mereka sendiri adalah orang Padang. Mungkin mereka menganggap bahwa rantau yang mereka diami sekarang adalah yang terbaik, dan menganggap kita yang dikampung kolt dan tidak mau maju. Saya hanya dapat menjelaskan bahwa kita ini sebetulnya bisa saja memakai gaya melebihi mereka, tetapi karena kita diatur oleh ajaran adat dan agama sehingga menjadikan kita bisa membedakan mana pematang, dan mana sawahnya. Itulah mereka yang dewasa badan, namun pemikirannya tidak.Bukannya membangun, ataupun mengembangkan negri, tapi malah memojokkan diri sendiri. &#8220;Manapuak aia di dulang&#8221; kata orang besar. Bisa saja para perantau menyebarkan ajaran kita dan bukan hanya kita yang saja yang bisa dipengaruhi. Sebetulnya, merekapun rindu terhadap kampung. Buktinya, dari kaset hingga ring tone hp lagunya Minang semua, tetapi kenapa masih saja seperti itu? Mungkin hanya waktu yang bisa menjawab. Saya berharap selain berkembang rezky tapi berkembang jualah para &#8220;kacang yang indak lupo jo kulit&#8221; di perantauan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
