Tambologi 2 “Ovolum dan Segumpal Tanah”
Oleh : Rahma Diana
Selasa, 4 november 2008 di gedung Teater tertutup taman budaya Sumatra Barat dipentaskan sebuah pertunjukan teater Sekolah Tinggi Seni Indonesia Padang Panjang. Pertujukan teater yang berjudul Tambologi 2, ”Ovolum dan Segumpal Tanah” adalah karya dari seorang dosen muda STSI Padang Panjang jurusan seni teater, Dede Pramayoza S.Sn yang sekaligus menjadi sutradara dalam karya ini.
Sore itu taman budaya padang diguyur hujan deras dan sangat memungkinkan para pengunjung untuk enggan mengunjungi lokasi tersebut. Namun setelah waktu magrib, hujan pun mereda dan para peminat teater pun berdatangan. Hingga pada saat pertunjukan telah dimulaipun para pengunjung masih berdatangan dan akhirnya bangku penonton pun diisi oleh para penonton. Mereka yang datang adalah teaterwan, mahasiswa, siswa smu, dan laen sebagainya.
Diawal pertunjukan, saya kurang mengerti berhubungan banyaknya kata-kata Biologi yang dilontarkan oleh para actor dalam dialog-dialognya. Namun setelah mengetahui konsep yang sebenarnya, saya sangat tertarik dengan garapan ini. Pertujukan ini memiliki banyak semiotika ( ilmu tentang tanda ) yang tiap adegan, kata, bahkan setting yang dapat kita terjemahkan menurut bahasa kita sendiri. Namun terjemahan kita itu akan lebih konteks apabila kita mengetahui konsep sutradara sebagai berikut.
Tambologi ( ilmu tentang kelahiran Minangkabau ) berangkat dari pembacaan Tambo Minangkabau, akar dari budaya Minangkabau. Bundo kanduang berperan dalam Tambologi 2 yang merupakan salah satu penanda garis keturunan matrilineal yang dimiliki oleh orang Minangkabau.
Sutradara berpendapat bahwa Tambo masa kini sangat instant, maka dari itu ia memilih plastik sebagai sebagai pilihan properti. Setting yang dihadirkan menggambarkan isi perut seorang wanita. Secara realitas/ kasat mata, Ovolum dan Segumpal Tanah menghadirkan sebuah imajinasi keadaan manusia saat masih dalam kandungan, mulai pada saat sperma menyembur didalamnya hingga proses kelahiran.
Menurut sutradara, manusia tidak mengetahui apa yang terjadi padanya pada saat masih dalam kandungan. Konon, kita berasal dari ribuan bahkan jutaan sel sperma yang berpacu mencapai sel telur. Dan satu-satunya sperma yang berhasil adalah kita yang hidup sekarang ini. Kita yang beruntung, maka hendaknya kita hargai kemanusiaan itu dengan sebaik-baiknya.
Namun pada saat ini banyak mausia yang menghancurkan kemanusiaan itu sendiri. Saat janin mulai tumbuh, diantara mereka ada yang berniat untuk menggugurkannya. Ada juga diantar mereka yang melakukan proses kelahiran yang tidak wajar. Demikianlah jika kita lihat menurut realitas kasat mata pertunjukan “ Ovolum dan Segumpal Tanah “.
Jika kita bedah secara suryalis, ini berarti proses kelahiran kebudayaan Minangkabau menurut Tambo. Kelahiran 3 ( tiga ) system pemerintahan, Koto Piliang ( Titik Dari Atas ), Bodi Chaniago ( Mambasuik dari Bumi ), dan Pisang Sikalek-kalek Hutan.
Awal mula kelahiran 3 sistem pemerintahan ini adalah seorang bundo kanduang yang mempunyai dua orang suami. Dari suami pertama yang merupakan seorang Raja lahirlah seorang anak laki – laki yang diberi gelar Datuk Ketumanggungan. Dari suaminya yang kedua yang merupakan seorang Dubalang lahirlah seorang putra yang diberi gelar Datuk Perpatih Nan Sabatang. Kedua anak laki-laki yang kemudian diwariskan kekuasaan kepada mereka membentuk dua laras ( dua pemerintahan ) yang berbeda dan bertolak belakang. Datuk Ketumanggungan yang merupakan pemimpin kelarasan Koto Piliang memakai sistem “ Titiak dari Ateh “, maksudnya segala sesuatu pengambilan keputusan berasal dari pemimpin. Sesuai dengan nama kelarasannya Koto Piliang yang berarti kata pilahan.
Sedangkan kelarasan yang dipimpin oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang yang bernama Bodi Caniago memakai sistem Mambasuik dari Bumi. Maksudnya adalah setiap pengambilan keputusan dilakukan dengan jalan musyawarah dan mufakat. Dan ini pun sesuai dengan nama laras Bodi Chaniago yang berarti Budi yang berharga.
Untuk sistem pemerintahan yang ke tiga yaitu pisang sikalek-kalek hutan merupakan pemerintahan di luar dari Bodi Chaniago dan Koto Piliang. Pemerintahan ini tidak memihak salah satu diantaranya, namun ada sedikit penerapan kehidupan yang diambil dari dua sistem pemerintahan sebelumnya. Sistem pemerintahan ini merupakan hasil pemikiran baru yang belum diketahui siapa pencetusnya.
Setelah pertujukan ini ditampilkan masih memiliki makna tanda di dalamnya. Yaitu mengerti atau tidaknya seorang penonton menandakan bahwa dia adalah orang Minangkabau atau bukan orang Minang.


bg hendro………..
thanks…………
tuk pak marta…makasi pak…
aduuuuuunnnnnnn…………..jangan bosan2 marahin kami…………….
kawan-kawan……………CAYOOOOOOOOOO…………..
KEEP FIGTHING ………………………..
JAYA PITULUIK………
JAYA UKM PERS!
Halo,Rahma…
Top lah, mulai menulis esai teater. Salut!
Kalau mau, kembangkan lagi dengan menulis esai, fitur, dan artikel.
Lanjutkan mah…
Hemat saya, menulis itu hasil kerajinan, jadi kamu harus jadi ‘pengrajin’ tulisan biar semakin baik.
Trus, mungkin kamu bisa terapkan ilmu teatermu, pada bahasanmu. Sekalian berbagi pengetahuan. Oke?
Sukses buat Rahma!
Dede Pramayoza
ok, thank’s so much my lecturer
Leave your response!
Camin »
Pendidikan Politik Perlu
“Pendidikan politik dan kepemerintahan layak di terapkan kepada mahasiswa di berbagai perguruan tinggi,” ujar Anggota DPRD Kota Padang Panjang Drs Batlimus kepada PITULUIK di ruang kerjanya akhir pekan lalu. Kata Batlimus, pembelajaran politik tidak harus …
Cipeh »
Menuju Pendidikan Tinggi yang Kualitatif
Oleh : Q-Noy
Kondisi pendidikan di negara kesatuan Republik Indonesia saat ini makin carut marut. Apakah kita yang berada di wilayah pendidikan dan yang menjalaninya hanya bisa menjalani apa yang diseting oleh orang-orang yang menginginkan …
Garak »
“Pemburu Emas” Bukan Dokumenter Melainkan Sebuah Catatan
Pemutaran film dokumenter bertajuk “Pemburu Emas” karya Adri Yandi S.Sn, Jumat (28/11) lalu, memang memukau ratusan pasang mata di Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam STSI Padang Panjang. Selain disaksiakan segenap civitas akademika kampus setempat, pemuataran film …
Kaji »
Tambologi 2 “Ovolum dan Segumpal Tanah”
Oleh : Rahma Diana
Selasa, 4 november 2008 di gedung Teater tertutup taman budaya Sumatra Barat dipentaskan sebuah pertunjukan teater Sekolah Tinggi Seni Indonesia Padang Panjang. Pertujukan teater yang berjudul Tambologi 2, ”Ovolum dan Segumpal Tanah” …
Ranah »
Temu Kilat Ala Teater ‘08; Satukan Visi, Wujudkan Kebersamaan
“Kita harus kompak,” teriak M Hibban Mauludi Hasibuan, penggagas temu kilat seluruh masyarakat Jurusan Teater Tahun Akademik ‘08, di Sekretariat Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Teater STSI Padang Panjang, Senin (22/12).
Ucok, demikian Hibban kerap disapa, menyebutkan …
arsip
Meta
Pages
kategori
tulisan terakhir
tags
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck requires Flash Player 9 or better.
komentar pembaca
Most Commented