Cara Mecegah Anemia, Penyebab dan Pengobatannya

Cara Mecegah Anemia, Penyebab dan Pengobatannya

Kita pasti tidak asing lagi dengan kalimat “Anemia”. Seringkali masyarakat Indonesia menyebutnya sebagai kurang darah.

Menurut WHO, anemia merupakan suatu kondisi dimana jumlah sel darah merah (dan akibatnya kapasitas untuk membawa oksigen) tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan fisiologis tubuh.

Spesifikasi fisiologi tubuh bervariasi kebutuhan seseorang usia, jenis kelamin, ketinggian tempat tinggal, kebiasaan merokok, dan berbagai tahap kehamilan.

Anemia secara laboratorik merupakan, suatu keadaan apabila terjadi penurunan di bawah normal kadar hemoglobin, hitung jenis eritrosit dan hematokrit (packed red cell). Kadar hemoglobin yang ideal berbeda-beda sesuai dengan kelompok umur.

Menurut standar WHO, kadar hemoglobin untuk anak usia di bawah 5 tahun adalah 11 g/dl. Sementara anak usia 5-10 tahun adalah 11,5 gram, anak usia di bawah 14 tahun kadar hemoglobinnya di bawah 12 gram, sedangkan di atas usia 14 tahun kadar hemoglobinnya mengikuti standar orang dewasa. Anak, balita, remaja, dewasa, ibu hamil, ibu menyusui, serta manula rentan mengalami anemia.

Cara Mecegah Anemia, Penyebab dan Pengobatannya

Penyebab Anemia

Pada dasarnya, ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang anemia. Menurut Parulian, I. tiga kategori anemia berdasarkan penyebabnya yaitu:

  • Anemia karena hilangnya sel darah merah
  • Terjadi akibat pendarahan karena berbagai sebab seperti luka, perdarahan gastrointestinal, perdarahan uterus, perdarahan hidung, perdarahan akibat operasi.
  • Anemia karena produksi sel darah merah menurun
  • Disebabkan oleh kekurangnya unsur penyusun sel darah merah (asam folat, vitamin B12 dan zat besi), gangguan fungsi sumsum tulang (adanya tumor, pengobatan, toksin), tidak adekuatnya stimulasi karena berkurangnya eritropolian)
  • Anemia yang diakibatkan meningkatnya destruksi/kerusakan sel darah merah yang disebabkan over aktifnya Reticu Ioenshotelial System (RES)

Faktor lain penyebab anemia adalah:

  • Genetik (beberapa penyakit kelainan darah bawaan antara lain Hemoglobinopati, Thalasemia, abnormal enzim Glikolitik, dan Fanconi anemia)
  • Nutrisi (kekurangan zat besi, kekurangan asam folat, kekurangan vitamin B12, alkoholis, dan kekurangan nutrisi)
  • Pendarahan
  • Imunologi
  • Penyakit infeksi (hepatitis, Cytomegalovirus, Parvovirus, Clostridia, sepsis gram negative, malaria, dan Toxoplasmosis)
  • Pengaruh obat-obatan dan zat kimia
  • Trombotik Trombositopenia Purpura dan Syndroma Uremik Hemolitik
  • Efek fisik (trauma, luka bakar, pengaruh gigitan ular)
  • Penyakit kronis dan maligna (gangguan pada ginjal dan hati).

Cara Mecegah Anemia, Penyebab dan Pengobatannya

Akibat Anemia

Anemia terjadi di semua siklus kehidupan, tentunya memiliki efek negatif bagi seseorang. Berikut akibat dari anemia:

  • Bayi

Berakibat pada tubuh rawan terhadap penyakit infeksi, menurunya aktivitas fungsional fagositosis, dan kemunduran intelektual.

  • Anak

Berakibat pada terganggunya pertumbuhan dan perkembangan, sering terkena infeksi karena sistem pertahanan tubuhnya menurun, menurunya kecerdasan dan daya tangkap anak. Anak yang menderita anemia biasanya apatis, mudah tersinggung dan kurang memperhatikan lingkungannya.

  • Remaja

Dampaknya menyebabkan kerugian bagi kesehatan anak seperti gangguan tumbuh kembang, penurunan daya tahan tubuh serta konsentrasi.

  • Dewasa

Berakibat buruk pada turunya produktivitas kerja.

  • Ibu hamil

Anemia mengakibatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan. Risiko kematian maternal, prematuritas, berat badan bayi lahir rendah, dan angka kematian perinatal meningkat.

  • Manula

Anemia menjadi faktor pemberat pada penyakit yang diderita manula.

Gejala Anemia

Gejala anemia bisa jadi sangat ringan sehingga seringkali tidak menyadarinya. Pada saat tertentu, saat sel darah berkurang, gejala sering kali berkembang. Tergantung penyebab anemia, gejala sebagai berikut:

  • Pusing, ringan, seperti akan pingsan
  • Detak jantung cepat
  • Sakit kepala
  • Nyeri, di tulang, dada, perut, dan persendian
  • Masalah pada pertumbuhan (anak-anak dan remaja)
  • Sesak napas
  • Kulit pucat atau kuning
  • Tangan kaki dingin
  • Kelelahan

Jenis Anemia

Terdapat dua tipe yang dikenal yaitu anemia gizi dan non-gizi.

Anemia gizi:

  • Anemia gizi besi

Merupakan suatu kondisi kekurangan pasokan zat gizi besi yang merupakan inti molekul hemoglobin unsur utama sel darah merah. Akibatnya bisa terjadi pengecilan ukuran hemoglobin, kandungan hemoglobin rendah, dan pengurangan jumlah sel darah merah. Anemia ini ditandai dengan, menurunnya kadar Hb di bawah nilai normal (hipokromia) dan ukuran sel darah merah lebih kecil dari normal (mikrositosis). Tanda-tanda ini akan mengganggu proses metabolisme energi yang dapat menurunkan produktivitas.

  • Anemia gizi vitamin E

Anemia defisiensi vitamin E dapat mengakibatkan integritas dinding sel darah merah lemah dan tidak normal, sehingga sangat sensitif terhadap hemolisis. Karena vitamin E merupakan faktor esensial bagi integritas sel darah merah.

  • Anemia gizi asam folat

Anemia ini juga disebut dengan anemia megaloblastik dan makrositik, keadaan sel darah merah penderita tidak normal dengan ciri-ciri bentuk lebih besar, jumlah sedikit dan belum matang. Penyebabnya, karena tubuh kekurangan asam folat dan vitamin B12, yang dimana kedua zat diperlukan dalam pembentukan nukleoprotein untuk pematangan sel darah merah dalam sumsum tulang. Kekurangan asam folat dapat menyebabkan gangguan kepribadian dan hilang daya ingat.

  • Anemia gizi vitamin B12

Anemia ini disebut juga pernicious, keadaan dan gejalanya mirip dengan anemia asam gizi folat. Namun, anemia jenis ini disertai dengan gangguan pada sistem alat pencernaan bagian dalam. Karena vitamin B12 memiliki peranan dalam pembentukan sel, defisiensi kobalamin dapat mengganggu pembentukan sel darah merah, sehingga menimbulkan kekurangan jumlah sel darah merah. Defisiensi vitamin B12 dapat terjadi karena gangguan dari dalam tubuh atau dari luar. Ditandai dengan diare, dan lidah yang licin.

  • Anemia gizi vitamin B6

Disebut juga siderotic. Keadaanya mirip seperti anemia gizi besi, namun apabila darahnya diuji secara laboratoris, serum besinya normal. Kekurangan vitamin B6 akan mengganggu pembentukan hemoglobin.

Anemia non gizi:

  • Anemia sel sabit

Merupakan penyakit keturunan, ditandai dengan sel darah merah berbentuk sabit, kaku, dan anemia hemolitik kronik. Penyakit ini jarang terjadi. Anemia sel sabit dapat menyebabkan anemia berat, penyumbatan aliran darah, kerusakan organ hingga kematian.

  • Talasemia

Merupakan penyakit keturunan, penderita thalasemia karena sel darah merah ada kerusakan (bentuk tidak normal, cepat rusak, kemampuan mengangkut oksigen menurun) oleh karena itu, tubuh penderita akan kekurangan oksigen, menjadi pucat, lemah, letih, sesak dan sangat membutuhkan pertolongan (transfusi darah). Jika tidak segera ditangani akan berakibat fatal, meninggal.

  • Anemia aplastik

Terjadi ketika tubuh tidak memiliki cukup sel punca atau tidak memiliki sel punca sama sekali. Anemia aplastik juga bisa karena gen atau karena sumsum tulang terluka karena obat-obatan, radiasi, kemoterapi, atau infeksi.

Cara Mecegah Anemia, Penyebab dan Pengobatannya

Pencegahan Anemia

Pencegahan anemia dapat melalui beberapa upaya. Salah satunya dengan suplementasi tablet besi, dianggap cara yang efektif karena, kandungan besinya padat dan dilengkapi asam folat yang sekaligus dapat mencegah dan menanggulangi anemia akibat kekurangan asam folat. Pencegahan selanjutnya dengan diet kaya zat besi, vitamin B, dan vitamin C seperti:

  • Sayuran berwarna hijau

Sayuran hijau, yang berwarna gelap merupakan salah satu sumber zat besi non heme terbaik. Seperti bayam, kubis, sawi, dan swiss chard.

  • Daging dan unggas

Selain sayuran berwarna hijau yang mengandung zat besi. Daging dan unggas juga mengandung zat besi heme, terdapat pada daging merah, domba, dan daging rusa. Unggas dan ayam memiliki jumlah zat besi yang lebih rendah, Apabila daging dan unggas di makan dengan zat besi non heme, seperti sayuran hijau, dengan buah yang kaya akan vitamin C dapat meningkatkan penyerapan zat besi.

  • Hati

Hati ini kaya akan zat besi dan folat. Sehingga, baik untuk mencegah anemia.

  • Seafood

Beberapa seafood mengandung zat besi heme. Kerang merupakan sumber yang baik seperti tiram, kerang, kepiting, dan udang. Ikan juga Sebagian besar mengandung zat besi seperti tuna, ikan kembung, dan ikan salmon.

  • Kacang-kacangan dan biji bijian

Kacang-kacangan dan biji bijian adalah sumber zat besi yang baik. Mendapatkan zat besi bisa dengan mengkonsumsi kacang merah, buncis, kedelai, kacang polong hitam, kacang lima, kacang polong, biji labu, kacang mete, kacang pistasi, biji rami, kacang pinus, dan biji bunga matahari.

Pengobatan Anemia

Mengobati penderita anemia sesuai dengan jenis anemia yang diderita. Banyak penyebab banyak juga perawatan yang tersedia.

  • Penderita anemia aplastik, akan memerlukan konsumsi obat-obatan, transfusi darah, atau transplantasi sumsum tulang.
  • Pada penderita anemia hemolitik, memerlukan obat yang menunjang sistem kekebalan.
  • Penderita anemia yang disebabkan oleh kehilangan darah, kemungkinan akan menjalani operasi untuk menemukan dan memperbaiki pendarahan. Disarankan untuk mengkonsumsi suplemen zat besi dan mengubah pola makan.
  • Penderita anemia sel sabit, akan mengkonsumsi obat pereda rasa sakit, suplemen asam folat, antibiotik intermiten atau terapi oksigen.
  • Pengobatan penderita thalasemia biasanya tidak memerlukan pengobatan, namun jika kasus parah, harus menjalani transfusi darah, transplantasi sumsum tulang, atau pembedahan.

Ada banyak cara untuk mencegah dan meringankan anemia. Salah satunya, dengan menerapkan pola hidup sehat, berolahraga, dan mengkonsumsi gizi yang seimbang. Apabila, anemia telah masuk ke level parah, segera datang ke pusat kesehatan terdekat.

Referensi:

Citrakesumasari. (2012). Anemia Gizi Masalah dan Pencegahannya. Kaliaka : Yogyakarta.
WebMD. Diakses pada 2021. Anemia.
Parulian, I. (2018). Strategi dalam Penanggulangan Pencegahan Anemia pada Kehamilan. Jurnal Ilmiah Widya, 4(3).
Who, M. Chan. (2011). Haemoglobin concentrations for the diagnosis of anaemia and assessment of severity. Ganeva, Switzerland: World Health Organization.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.