Empat Sifat Nabi Dalam Mengelolah Bisnis

  • Bagikan
Empat Sifat Nabi Dalam Mengelolah Bisnis
Empat Sifat Nabi Dalam Mengelolah Bisnis
Empat Sifat Nabi Dalam Mengelolah Bisnis

Empat Sifat Nabi Dalam Mengelolah Bisnis

            Ada empat hal yang menjadi key success factors (KSF) dalam mengelolah suatu bisnis, agar mendapat celupan nilai-nilai moral yang tinggi. Untuk memudahkan mengingat, kita singkat dengan SAFT, yaitu :

  1. Shiddik (benar dan jujur)
  2. Amanah (terpercaya, kredibel)
  3. Fathanah (cerdas)
  4. Thabligh (komunikatif)

            Keempat SKF ini “shiddiq, amhanah, dan thablig” merupakan sifat-sifat Nabi Muhammad Saw. Yang suda sangat dikenal dikalangan ulama, tapi masi jarang diimplementasikan khususnya dalam dunia bisnis.

 

Shiddiq

            Shiddik adalah sifat Nabi Muhammad Saw., artinya “benar dan jujur”. Jika seorang   pemimpin, ia senantiasa berperilaku benar dan jujur dalam sepanjang kepemimpinannya. Benar dalam mengambil keputusan-keputusan dalam perusahaan yang bersifat strategis, menyangkut visi/misi, dalam menyusun objektif dan sasaran serta evektif dan efisien dalam implementasi dan operasionalnya dilapangan. Sebagai pemimpin perusahaan, ia selalu jujur, baik kepada company (pemegang saham), cultomer (nasabah), competitor (pesaing), maupun kepada people  (karyawan sendiri),  sehingga bisnis ini benar-benar berjalan dengan prinsip-prinsip kebenaran dan kejujuran..

            Jika ia seorang pemasar, sifat shiddiq (banar dan jujur) haruslah menjiwai seluruh perilakunya dalam melakukan pemasaran, dalam berhubungan dengan pelanggan, dalam bertransaksi dengan nasabah, dan dalam membuat perjanjian dengan mitra bisnisnya. Ia senantiasa mengedepankan kebenaran informasi yang diberikan dan jujur dalam menjelaskan keunggulan produk-produk yang dimiliki. Sekiranya dalam produk yang dipasarkan terdapat kelemahan atau cacat, maka ia menyampaikan secara jujur kelemahan atau cacat dalam produknnya kepada calon pembeli. Inilah bisnis syari’ah yang diwarnai oleh sifat shiddiq nya Nabi Muhammad Saw., sebagaimana beliau juga mencontohkan hal yang sama ketika melakukan perdagangan yang suda banyak  dibahas didepan.

            Rasulullah  Saw. Adalah mahkluk Allah yang paling sempurna dalam hal kejujuran. Pada awal kerasulannya Muhammad Saw. Perna bertanya sekalian beliau kukatakan bahwa dibalik bukit ini mereka, “Ya, engkau tidak perna disangsikan. Belum perna kami melihat engkau berdusta”.

            Jawaban orang Quraisy itu disampaikan secara spontan karena yang bertanya adalah Muhammad ibn Abdullah. Sosok yang selama ini mereka gelari dengan al-amin  ini, karena gelar al-amin ini keluar dari mulut orang-orang Quraisy. Padahal, sejarah pencatat  bahea peradaban Quarisy saat itu dan jazirah arab umumnya berada ditengah peradaban jahiliah. Sebuah peradaban yang sudah tidak bias lagi membedakan antara yang hak (benar) dan (batil) salah. Namun kejujuran Muhammad  ibn Abdullah tidak luntur oleh peradaban disekelilingnya. Justru orang-orang yang hidup diperadaban jahiliah itu (Quraisy) secara suka rela memberikan penghargaan kepada kejujuran Muhammad dengan menggelarinya al-amin.

            Sikap jujur berarti selalu melandaskan ucapan, keyakinan, serta  perbuatan berdasarkan ajaran Islam. Tidak ada kontradiksi dan pertentangan yang disengaja antara ucapan dan perbuatan. Oleh karena itulah, Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk senantiasa memiliki sifat shiddiq dan juga dianjurkan untuk menciptakan lingkunan yang shiddiq. Sebagaimana firman Allah Swt., “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar” (QS Al-Taubat [9]: 119).

            Selain itu dalam sebuah hadis Rasulullah Saw. Bersabda, “Hendaklah kalian jujur (benar) karena kejujuran mengantarkan kepada kebaikan. Dan kebaikan akan mengantarkan kedalam surga. Seseorang yang selalu berusaha untuk jujur akan dicatat oleh Allah sebagai orang jujur. Dan jauhilah skalian oleh kamu sekalian dusta (kidzib), karena dusta itu akan mengantarkan kepada kejahatan. Dan kejahatan akan mengantarkan kedalam neraka seseorang yang selalu berdusta akan dicatat oleh Allah sebagai pendusta (HR Al-Bukhari).

            Alangkah indahnya jika kita bias menjalankan bisnis dengan sifat shiddiq dan memengaruhi lingkungan bisnis kita dengan sifat siddiq. Kekotoran, kezaliman, kemunafikan, penipuan, dan keserakahan akan lenyap dengan menghidupkan sifat-sifat shiddiq di benak semua pelaku bisnis.

            Dalam dunia bisnis, kejujuran bias juga ditampilkan dalam bentuk kesungguhan dan ketepatan (mujahadah dan itqan), baik ketepatan waktu, janji, pelayanan, pelaporan, mengakui kelemahan dan kekurangan (tidak ditutup-tutupi) yang kemudian diperbaiki secara terus-menerus, serta menjauhkan diri dari berbuat bohong dan menipu (baik kepada diri sendiri, teman sejawat, perusahaan maupun mitra kerja). Tarmasuk memberikan informasi  yang penuh kebohongan adalah iklan-iklan di media tulis dan elektronik. Bisnis yang dipenuhi kebohongan dan manipulasi seperti ini insyah Allah tdk akan mendapat rahmat dan barokah dari Allah Swt.

            Akan tetapi, perlu menjadi catatan pula bagi para profesional  bisnis syari’ah bahwa berbekal kejujuran saja dalam menjalankan suatu bisnis tuntu tidaklah cukup. Sekirahnya bekal kejujuran saja cukup menjadi syarat bagi seseorang untuk ditunjuk menjadi pemimpin, maka Abu Dzar Al-Ghifari (sahabat Nabi Muhammad Saw yang paling jujur) pasti telah mendapat amanat untuk pemimpin pemerintahan dari Nabi Muhammad Saw.

            Ibn Taimiyyah mengatakan, sesungguhnya Abu Dzar r.a. adalah sahabat yang paling saleh dalam hal amanat dan kejujuran (daripada Khalid ibn Wahid), tetapi Rasulullah Saw. Sendiri bersabda kepadanya, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya aku melihat dirimu itu lemah, dan sesungguhnya aku mencintai untuk kamu atas sesuatu yang kamu mencintainya untuk diriku : janganlah kamu memerintah dua orang dan menjadi wali bagi harta anak yatim!” (HR Muslim)

            Padahal sebuah kesaksian mengatakan, “sesungguhnya tidak terdapat dikolong langit dan di atas bumi orang yang paling jujur perkataannya melebihi Abu Dzar”.

Amanah

             Amanah artinya adapat “dipercaya “, bertanggung jawab dan kredibel , dan amanah bisa juga bermakna keinginan untuk memenuhi sesuatu sesuai dengan ketentuan.diantara nilai-nilai yang terkait dengan kejujuran dan melengkapinya adalah amanah. Ia juga merupakan salah satu moral keimanan. Seorang pebisnis haruslah memiliki sifat amanah karena allah menyebutkan sifat orang-orang mukmin yang beruntung adalah yang dapat memelihara amanat yang diberikan kepadanya. Allah SWT. Berfirman ,” dan orang –orang yang memelihara amanat-amanat dan janji-janjinya “(QS Al–Mu’Minun [23] :8 ).

         Konsekuensi amanah adalah mengembalikan setiap hak kepada pemiliknya ,baik sedikit ataupun banyak, tidak mengambil lebih banyak dari pada yang ia miliki, dan tidak mengurangi hak orang lain, baik itu berupa hasil penjualan ,fee, jasa atau upah buruh.

        Amanah juga memiliki tanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan kewajiban yang diberikan padanya.amanah dapat ditampilkan dalam keterbukaan, kejujuran, dan pelayanan yang optimal kepada nasabah. Allah SWT .berfirman, “ sesungguhnya allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya ,dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu.sesungguhnya allah maha melihat lagi maha mendengar “.( QS AL –NISSA [4]: 58.

         Rasulullah Saw .bersabda, “bahawa amanah akan menarik rezeki dan sebaliknya khianat akan mengakibatkan kekafiran”. (HR Al – Dailami ).

         Sifat amanah ini akan membentuk kredibilitas yang tinggi dan sikap penuh tanggung jawab pada setiap individu muslim. Kumpulan individu dengan kredibilitas yang tinggi akan melahirkan masyarakat yang kuat ,karena dilandasi oleh saling percaya antara anggotanya.sifat amanah memainkan peranan yang fundamental dalam ekonomi dan bisnis, karena tanpa kredibilitas dan tanggung  jawab ,kehidupan ekonomi dan bisnis akan hancur.

          Dalam praktik  perdagangan yang islami , dikenal adanya istilah “ perdagangan atas dasar amanah“.dalam akad –akad tijarah yang menggunakan prinsip mudharabah,murabahah,syirkah,dan wakalah, diperlukan komitmen semua pihak atas amanah yang diberikan kepadanya. Adanya salah satu pihak yang khianat atas amanah yang dipercayakan kepadanya bisa mengakibatkan pembatalan akad perjanjian. Misalnya, pihak pengelola ternyata menggunakan dana tersebut untuk memperkaya diri sendiri,atau untuk bisnis yang diharamkan allah Swt. Karena itu, rasulullah Saw. Mengatakan, “allah azza wa jalla berfirman : “ aku adalah pihak ketiga dari kedua belah pihak yang berserikat selama salah seorang dari keduanya tidak mengkhianati temannya. Jika salah satu dari keduanya telah mengkhianati temannya , aku berlepas diri dari keduanya “. ( HR Abu Dawud ).

   Dalam riwayat lain disebutkan , “ tangan allah menyertai kedua orang berserikat selama salah satu dari keduanya tidak mengkhianati yang lain. Apabila dari salah satu keduanya telah mengkhianati temannya, dia mengangkat kembali tangan- Nya dari keduanya “. ( HR Al- Duruqhutni ).

     Integritas seseorang akan terbentuk dari sejauh mana orang tersebut dapat memelihara amanah yang diberikan kepadanya. Pebisnis yang baik adalah yang mampu memelihara integritasnya ,dan integritas yang terpelihara akan menimbulkan kepercayaan (trust ) bagi nasabah, mitra bisnis,bahkan semua stakeholder dalam suatu bisnis.dari sinilah, bisnis yang didasarkan dengan nuansa syariah akan bangkit, sepanjang sifat-sifat nabi muhammad Saw .tadi menjadi jiwa dari perilaku bisnisnya.

Fathanah

    Fathanahdapat diartikan sebagai intelektual, ‘kecerdikan atau kebijaksanaan ‘. Pemimpin perusahaan yang  fathanah artinya pemimpin yang memahami,mengerti dan menghayati secara mendalam segala hal yang menjadi tugas  dan kewajibannya.

    Sifat fathanahdapat dipandang sebagai strategi hidup setiap muslim, karena untuk mencapai sang pencipta, seorang muslim harus mengoptimalkan segala potensi yang diberikan olehnya. Potensi paling berharga dan termahal yang hanya diberikan pada manusia adalah akal ( intelektualitas ). Karena itu ,allah dalam Al-Quran selalu menyindir orang-orang yang menolak seruan untuk kembali (tobat) kepadanya dengan kalimat “Apakah kamu tidak berpikir ? Apakah kamu tidak menggunakan akalmu ? allah menciptakan siang dan malam, menjadikan gunung-gunung ,tanaman-tanaman yang berbeda sebagai tanda kebesaran-Nya bagi kaum yang berpikir. “Allah Swt .berfirman , “dan dialah tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya.dan menjadikan padanya  semua buah-buahan berpasang-pasangan. Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran allah) bagi kaum yang memikirkan “(QS Al –Ra’d [13] : 3 ).

     Salah satu  ciri orang yang paling bertakwa adalah orang paling mampu mengoptimalkan potensi pikirnya. Dalam Al-Quran, orang yang senantiasa mengoptimalkan potensi pikirnya biasa disebut ulu al-albab, yaitu orang yang iman dan ilmunya berinteraksi secara seimbang (Dynamic Equilibrium ).

    Allah Swt. bahkan Memberikan peringatan keras kepada orang –orang  yang tidak menggunakan akalnya, “dan tidak seorang pun akan beriman kecuali dengan izin allah ; dan allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang  yang tidak mempergunakan akalnya.’’ (QS Yunus [10] : 100 ).

    Dalam bisnis, implikasi ekonomi sifat fathanah adalah bahwa segala aktivitas dalam manajemen suatu perusahaan harus dengan kecerdasan, dengan mengoptimalkan semua potensi akal yang ada untuk mencapai tujuan. Memiliki sifat jujur, benar, dan bertangguang jawab tidak cukup dalam mengelola bisnis secara profesional. Para pelaku bisnis syariah juga harus memiliki sifat fathanah , yaitu sifat cerdas, cerdik, dan bijaksana agar usahanya labih efektif dan efisien serta mampu mengalisis situasi persaingan (competitive setting ) dan perubahan-perubahan (change) di masa yang akan datang.

     Kecerdasan yang dimaksudkan disini adalah juga kecerdasan spiritual seperti yang dikatakan,Ary Ginanjar dalam bukunya yang sangat terkenal dan laris, yaitu : “ kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap  setiap perilaku kegiatan, melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia seutuhnya ( hanif ) ,dan memiliki pola pemikiran tauhid (Inte-gralistik ), serta berprinsip hanya  karena allah.’’

     Sifat fathanahjuga ini juga akan menumbuhkan kreaktivitas dan kemampuan untuk melakukan berbagai macam inovasi yang bermanfaat. Kreaktif dan inovatif hanya mungkin dimiliki ketika seorang selalu berusaha untuk menambah berbagai ilmu pengetahuan dan informasi, baik yang berhubungan dengan pekerjaannya maupun perusahaan secara umum. Sifat  fathanah(perpaduan antara ‘Alim dan hafidz ).Telah mengantarkan Nabi Yusuf a.s .dan tim ekonominya berhasil membangun kembali negeri mesir .” berkata Yusuf , ‘ jadikanlah aku bendaharawan negara (mesir).sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan “ ( QS Yusuf [12]:55 ). Dia lalu diberi jabatan sebagai menteri keuangan mesir. Dengan tim ekonominya, dia  kemudian kembali membangun mesir yang sudah dijurang kehancuran karena krisis ekonomi , kembali bangkit menjadi negara yang surplus dan makmur.

       Sifat fathana pulalah seperti yang diriwayatkan Imam Al Bukhari yang mengantarkan Nabi Muhammad Saw .( sebelum menjadi nabi ) mendapat keberhasilan dalam  kegiatan perdagangan. Kita mesti mampu mengadopsi sifat ini jika ingin menjadi seorang pebisnis yang sukses di masa depan, terutama dalam menghadapi situasi persaingan ( Competitive Setting) yang bukan hanya rumit (Complicated) dan canggih (Sophisticated ), tetapi bahkan kadang-kadang menghadapi situasi yang kacau (Chaos ) . kita juga harus mempunyai kecerdasan memprediksi situasi persaingan global kedepan dengan kemajuan dengan teknologi komunikasi yang demikian pesat, yanh sudah tidak mengenal batas garis wilayah dan teritorial suatu negara.

      Saat ini kita dapat berkomunokasi dan melakukan transaksi bisnis ke mancanegara hanya melalui perangkat komputer di dalam kamar tidur kita ; tanpa harus kekantor , bertemu klien secara langsung atau malah meninjau perusahaan klien yang ada di negara tertentu. Di sini sifat fathanah kita perlu optimalkan.

Tabliq

Sifat tabliq hartinya komunitatif dan argumentatif .

Orang yang memiliki sifat tabliqh,akan menyampaikan dengan benar (berbobot) dandengan tutur kata yang tepat (bi Al-hikmah) jika merupakan seorang pemimpin dalam dunia bisnis, ia haruslah menjadi seseorang yang mampu mengkomunikasikan visi dan misinya dengan benar kepada karyawan dan stakeholder  lainya .

  Jika seorang pemasar ,ia harus menyampaikan keunggulan-keunggulan produknya dengan jujur dan tidak harus berbohong dan tidak menipu pelanggan. Diaharus menjadi komunikator yang baik dan bias berbicara benar dan bi Al- hikmah (bijaksana dan tepat sasaran) kepada mitra bisnisnya. Kalimat-kalimat yang keluar dari ucapannya “terasa berat’’ dan berbobot. Al-Qur’an menyebutnya dengan istilah qaulansadidun (pembicaraan yang benar dan berbobot). Allah berfirman “Hai orang-orang yang beriman ,bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar (qaulansadidun) ,nisca ya allah akan memeperbaiki bagimu amal-amalmu  -dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah danRasul-Nya,maka sesunggunya ia telah mendapatkan kemenangan yang besar”(Qs Al-ahzab[33]:7071).

Dalam ayat lain disebutkan “oleh karena itu ,hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (qaulansadidan)”(Qs Al-nisa[4]:9)

Picthall, seorang ahli komunikasi menerjemahkn kata-kata qaulqnsadi dan dengan dua cara.

Pada surah al-ahzabayat 70-71, ia menerjemehkan dengan speak words straight to the point (bicaralah langsung kepada pokok persoalanya),tetapi pada surah Al-nisaayat 29,ia menerjemakannya dengan speak justly ( bicaralah yang benar). Keduanya menyampaikan makna yang tepat untuk kata sadidan ,demikian pendapat jalaludin rakhmat.

Orang yang mendapat hidaya dari Allah Swt. Memiliki  pembicaraan yang ”benar”, berbobot , dan benar  (qaulansadidan).Mereka biasanya  adalah orang-orang yang ibadanya baik, ahlaknya baik ,tidak pernah meninggalkan tahajud, dan dalam bermuamalah pun selalu terpelihara dari bisnis yang transaksinya terlarang.

Alangkah mulianya jika dalam mengelola bisnis kita memiliki pemimpin, karyawan , atau pemasar  yang  bisa di percayaan karena kesalehan dan kejujurannya yang di cintai karna kepribadian dan kecerdasannya ,sehingga bias menjadi panutan bagi siapa saja yang berinteraksi denganya. Kata-katanya selalu menjadi rujukan dan di dengarkan karna mengundang kebenaran dan memiliki makna yang dalam. Antisipasinya jauh kedepan menjangkau masa yang akan dilalui suatu bisnis.

Lebih dari itu, seorang pembisnis islami selain harus memiliki gagasan-gagasan segar, juga harus mampu mengomunikasika ngagasan-gagasannya secara tepat dan mudah di pahai oleh siapapun yang mendengarkan . Dalam bahasa AlQuran disebut dengan bi al-hikma. Allah Swt, berfirman ‘’serulah (manusia) kepada jalanTuhanmu dengan  hikma (bi al hikma) dan pelajaran yang baik , bantah mereka dengan cara yang baik, sesungguhnyaTuahnmu yang lebih mengetauhi tentanng siapa yang tersesat dari jalan –Nya dialah yang maha mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk  “(Qs Al –Nahl[16:125]).

Disini juga tersirat makna bahwa selain harus bi al- hikma dan penyampaian yang baik, seorang pemimpin juga harus mampu berargumentasi, berdialog, dan berdiskusi dengan baik. Karena itu, kami menganggap sifat tabliq hini merupakan salah satu key success factors dalam mengolola bisnis di masa depan.

Sifat tabliqh dengan bahasanya yang bi al-hikma, artinya berbicara dengan orang lain dengan sesuatu yang mudah dipahaminya dan diterima oleh akalnya, bukan berbicara sesuatu yang sulit di mengerti .Ali R.A.  pernah mengatakan ,” Ajaklah manusia berbicara dengan sesuatu yang mereka pahami, dan tinggalkan apa yang ( tidak mereka mengerti) .Apakah kamu ingin Allah dan Rasul-Nya di dustakan ?

Termasuk dalam kategori bi al-hikmah adalah berdiskusi melakukan presentasi bisnis dengan orang lain dengan bahasa yang mudah dimengerti sehingga orang tersebut mudah memahami pesan bisnis yang ingin kita sampaikan. Allah berfirman , ”kami tidak mengutus seorang –seorang Rasul pun ,melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya dia dapat member penjelasan dengan terang kepada mereka ”(Qs Ibrahim[14];4).

Pengertianya kini bukan sekedar bahwa orang-orang Cina hendaknya diajak bicara dengan bahasa Cina atau orang-orang Rusia harus menggunakan bahasa Rusia,  tetapi maksud yang lebih dalam dari pemahamanya kini adalah bahwa orang-orang berpendidikan diajak berbicara dengan  bahasa  yang lebih ilmiah,  orang-orang awam dengan bahasa yang lebih sederhana mudah di pahami, serta orang-orang bisnis dengan menggunakan bahasa bisnis.

Kita harus memahami budaya mitra bisnis kita, jika dia orang JawaTimur, pakailah gaya bahasa Timuran , yang terkeaan yang lebih bebas, akrab, tanpa harus menjaga tata karma dan tutur kata yang lembut seperti  ketika ketemirekan bisnis yang berasal dari Jawa Tengah, sekalipun mereka sama-sama orang jawa. Penyampaian  yang  benar telah disesuaikan dengan lawan bicara kita, niscaya akan menambah daya  saing  perusahaan.

Editor: Alber

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: