Lanskap Bisnis Syariah Marketing

  • Bagikan
Lanskap Bisnis Syariah Marketing
Lanskap Bisnis Syariah Marketing
Lanskap Bisnis Syariah Marketing

Lanskap Bisnis Syariah Marketing

Table of Contents

Prinsip #1 : information technology allows us to be transparent (change)

Perubahan adalah suatu hal yang pasti akan terjadi. Oleh karena itu,pebuhan perlu disikapi dengan cermat. Kekuatan perubahan terdiri dari lima unsur perubahan teknologi, perubahan politik-legal, pebuhan politik-kultural,perubahan ekonomi dan perubahan pasar. Dalam prinsip yang merubah perubahan (change) ini, saya hanya menekankan perubahan pada bidang teknologi. Perubahan-perubahan di bidang lain politik-legal, sosial-budaya, ekonomi dan pasar. Walaupun memang juga berperan penting dalam syariah marketing, sudah banyak di bahas pihak lain; misalnya saja peraturan-peraturan yang menyangkut perbankan. atau perkembangan  indutri perbankan syariah ini di indonesia yang semakin pesat.

 

Selain itu, bagi saya, perubahan teknoogi merupakan penggerak,perubahan yang paling utama. Akar terjadinya segala perubahan baik perubahan sosial,politik,ataupun ekonomi adalah karena adanya inovasi terus menerus dibidang teknologi. Jika kita lihat hampir di semua sektor industri, perkembangan teknologi sangat membantu melakukan usaha secara lebih efisien dan efektif. Tuntutan perkembangan zaman yang diiringi dengan kemempuan manusia untuk melakukan penemuan penemuan teknologi terbaru membuat perubahan yang terjadi semakin cepat. Seperti yang di katakan oleh alvin toffler dalam buku klasiknya,the third wave3,kemunculan atau kemajuan teknologi entah yang berbasis pertanian,industri, atau informasi selalu saja memengaruhi cara hidup kita secara sangat fundamental.

Baca Juga: Lembaga-Lembaga Bisnis Syariah di Indonesia

Pada pertengahan 1990-an, misalnya penggunaan telepon seluler, masih sangat terbatas. Namun sekarang bisa kita lihat, bahkan anak sekolahpun punya telepon seluler.dengan sangat mudah, kita  berkomunikasi  dan juga menerimah informasih. Hal inilah yang akhirnya menciptakan peluang-peluang baru. Maka, seinring dengan kemajuan teknologi dan tuntutan dari pasar,  Bermunjulan produk baru seperti mp3 player,PDA phone,camera phone, handycam digital camera, dan lain sebagainya.

Dalam buku beyond mobile : people,kommunicatins, and marketing in a mobilized world, Erika Svensson diterankan bahwa mobile marketplace menjadi ancaman dan segaligus peluang bagi setiap perusahaan. Setiap konsumen menjadi raja karena mereka dapat mengakses informasi yang dibutuhkan secepat mungkin, membandingkan informasi dari sumber lain, dan akhirnya memilih produk atau jasa yang mereka inginkan.

Dalam bisnis korporasi, perkembangan teknologi memudahkan perusahaan untuk memberikan standar layanan terbaik dengan biaya yang rendah. Perkembangan perangkat lunak untuk bisnis seperti Enterprise Resource Planning (ERP), customer Relationship Management (CRM), supply chain Management (SCM), dan lainnya sangat membantu perusahaan untuk mengontrol kegiatan operasionalnya. Terutama bagi kalangan perbankan, peranan teknologo sangat penting. Contohnya adalah penerapan elecronic banking (e-banking) dan mobile banking (m-banking). Teknologi digunakan bukan hanya sebagai alat untuk menyediakan informasi dan mempercepat komunikasi, melainkan juga untuk mempermudah dan memperlacar terjadinya transaksi.

Perkembangan teknologi ini tentu saja memberikan kesempatan emas bagi perusahaan yang menggunakan prinsip-prinsip syariah. Selain sebagai penunjang untuk kegiatan operasional dan standar layanan, teknologi juga membantu menunjukan kesungguhan perusahaan dalam melaksankan prinsip-prinsip syariah marketing. Kemudahan bagi konsumen untuk mendapatkan informasi  dan melakukan komunikasi menjadi kunci bagi perusahaan syariah menunjukan kejujuran secara transparan.

Baca Juga: Bisnis Unik: Jual Nama Bayi Yang Membuat Seorang Anak 16 Tahun Meraup Banyak Uang

Prinsip #2: Be Respectful to your Competitors (competitor)

Dalam mejalankan syariah marketing, perusahaan harus memerhatikan cara mereka menghadapi persaingan usaha yang serba-dinamis. Globalisasi dan perubahan teknologi menciptakan persaingan usaha yang ketat. Pasar menjadi semakin kompleks dan tidak mudah ditebak. Informasi yang mudah di dapat menjadikan perusahaan dengan mudahnya mengakses info mengenai pesaing dan persaingan. Perang yang terjadi dipasar menjadi semakin terbuka akibat pengaruh dari perkembangan komunikasi. Seperi yang di sebut dalam buku Wharton on Dynamic Competitive Strategys, As market boundaries become more blurred, bringing new outsiders into once stable industries, competition has become more complex and multidimensional.’’ Karena itu, persaingan usaha yang terjadi harus disikapi dengan pandangan dan cara-cara positif.

Persaingan antara dua pihak atau lebih tidak akan bisa dihindari karena memang sudah merupakan sifat manusia untuk berupaya menjadi dan mendapatkan yang terbaik dalam kehidupannya. Kitab-kitab suci mencerikan bahwa persaingan ini sudah terjadi sejak zaman Nabi Adam, yaitu ketika tejadi pertikaian antara kedua putra beliau: Habil (Abel) dan Qabil (kain), yang mengakibatkan Habil meninggal di tangan saudaranya sendiri.

Dalam konteks kehidupan saat ini, semakin banyak manusia yang memiliki sifat seerti Qabil. Mereka selalu merasa tidak puas, tidak mau kalah, dan selalu iri terhadap keberhasilan orng alain. Seperti kata pepatah, “Rumput tetangga selalu lebih hijau daripada rumput sendiri.” Banyak perusahaa besar yang arogan, tidak mau kalah, dan selalu merasa benar sendiri sehingga akhirnya perusahaan itu hancur dengan sendirinya.

Dalam menghadapi situasi persaingan yang semakin kompleks saat ini, di butuhkan kebesaran jiwa untuk dapat menerima persaingan dengan hati yang tulus dan terbuka. Perusahaan sebisa mungkin menciptakan win-win solution anatara perusahaan dan pesaingnya, karena yang memegang kendali teradap pasar bukanlah anda atapaun pesaing anda, melainkan masyarakat luas sebagai konsumen. Berkompetisi secara jujur dan adil, maka akan memberikan  pandangan yang positif dari masyarakat terhadap perusahaan anda.

Jadi, ketika persaingan usaha yang dihadapi semakin ketat dan kadang bersifat kotor, perusahaan anda harus punya kekuatan moral untuk tidak terpengaruh oleh pemainan bisnis seperti itu. Jika anda punya emotional inteligence (EQ) yang baik menerankan praktik bisnis yang baik, ketika pesaing menyerang anda dengan serangan yang tidak etis, yang harus anda akan merasakan bahwa tindakan mereka yang tidak dail justru akan membawa dampak yang negatif pada mereka.

Prinsip #3 : The Emergence of customers Global paradox (customer)

Pengaruh inivasi teknologi mendasari terjadinya perubahan sosial budaya. Hal ini bisa kita lihat dari lahirnya revolusi dalam bidang teknologi informasi dan telekomunikasi yang mengubah cara pandang dan perilaku masyarakat. Contoh yang paling nyata adalah kehadiran iternet yang membawa perubahan pada segala sektor kehidupan manusia. Maka, pelanggan saat ini tidak saja membeli apa yang dibutuhkan, melainkan juga sudah memiliki keinginan dan harapan atas suatu produk atau jasa yang akan mereka beli. Hal ini disebabkan oleh semakin banyaknya akses informasi dan makin beragamnya pilohan produk, sehingga membuat pelanggan akan mempunyai keinginan yang   semakin spesifik dan harapan yang semakin tinggi.

Dalam bukunya, New consumer Marketing, Susan Baker menerangkan bahwa dalam era ekonomi konsumsi seperti saat ini, mengguakan 4p atau marketing-mix sebagai basis startegi pemasaran tidaklah cukup. Hal ini dikarenakan 4p tersebut mengabaikan hal penting yang sangat fundamental, yaitu bahwa produk dan servis sebenarnya ditunjukan  untuk kepentingan masyarakay yang membeli produk atau jasa (konsumen). Sehingga, situasi dan kondisi masyarakat harus menjadi fokus utama dalam pembentukan strategi pemasaran.  Dalam menjalan suatu bisnis, tidak cukup hanya untuk memenuhi kebutuhan  masyarakat, tetapi juag untuk memuaskan masyarakat dengan memenuhi kebutuhan yang mereka inginkan.

Teknologi membuat dunia menjadi satu sehingga tercipta era globalisasi yang tidak dapat dihinadri. Perbedaan antarnegara didunia telah lenyap seta mengasilkan suatu masyarakat baru dan ekonomi baru dalam kehidupan. Era golabalisasi di abad ke-21 ini sedikit banyak mengingatkan kita pada era awal  peradaban islam di mana pada masa itu dunia seakan menjadi satu juga, ketika bangsa arab memerintah di wilayah eropa lainnya. Perekonomian dan pemerintahan  islam dijalankan, penemuan-penemuan di berbagai bidang di lahirkan, dan kehidupan berjalan dengan makmurnya. Dn di abad ke-21 ini,kiat di satukan oleh perkembangan teknologi informasi yang menyatukan bangsa-bangsa di dunia.

Di era globalisasi seperti sekarang, .masyarakat menjalani kehidupannya secara paradoks. Sebagai contoh, internet mempermudah kita memperoleh informasi global secara massal.Namun, dilain pihak,  terlalu banyak informasi yang sebenarnya dibutuhkan.  Banyaknya pilihan yang ada membuat kita justru semakin sulit memilih. Paradoks yang terjadi ini mengharuskan kita untuk fokus terhadap apa yang terpenting dalam hidup dan dalam aktifitas sehari-hari.

Derasnya arus informasi serta tuntunan masyarakat dunia terhadap globalisasi mendorong sistem nilai, perilaku, dan gaya hidup yang semakin universal dan modern. Sementara disisi lain, ada kekhawatiran bahwa deman semakin majunya zaman, nilai-nilai budaya dan agama akan luntur. Meskipun demikian, bagi islam danjuga agama lainnya, nilai-nilai yang terkandung didalamnya bersifat akomodatif terhadap perkembangan zaman, dengan aspek-aspek fundamental yang tetap teguh dan tidak berubah.

            Dan jika kita lihat sekarang, di tengah arus globalisasi dan modernisasi, ada kerinduan manusia untuk kembali ke kehidupan yang penuh kedamaian dan ketenteraman. Kehidupan yang serba tidak menentu membuat manusia kembali ke akar fundamental agamanya. Mereka meyakini bahwa dengan mengikuti peraturan-peraturan agama, kehidupan mereka akan lebih tenteram.

            John Naisbitt dalam bukunya, Megatrends 2000, pernah mengungkapkan bahwa abad ke-21 merupakan abad kebangkitan agama millennium baru (The Age of Religion). Berikut ini kutipan dari John Naisbitt.

“ In turbulen times, in times of great change, people head for the two extremes: fundamentalism and personal, spiritual experience… With no membership lists or even a coherent philosophy or dogma, it is difficult to define or measure the unorganized New Age movement. But, in every major U.S. and European city, thousands who seek insight and personal growth cluster around a metaphysical bookstore, a spiritual teacher, or an education center.”

            Bagi umat beragama, globalisasi membawa banyak manfaat dan peluang, karena itu kita mesti belajar satu sama lain tanpa meninggalkan jati diri kita. Karena itulah, kita lihat umat islam mulai menerapkan perekonomian secara syariah.

            Perkonomian islam dimulai dengan kehadiran perbankan syariah sebagai lembaga keuangan yang berlandaskan etika, dengan dasar Al-Quran dan Al-Hadis. Salah satu tonggak utama berdirinya perbankan syariah ini adalah dengan beroperasinya Mit Ghamr Local Saving Bank pada 1963 di kairo, Mesir. Dan sekarang perkembangan lembaga atau institusi keuangan syariah di dunia maju dengan pesatnya, bahkan lembaga keuangan konvensional yang notabene mengadopsi system kapitalisme juga mengakui sistem syariah dan menerapkannya dengan membuka unit-unit syariah.

            Dalam perkembangannya di Indonesia, lahirnya lembaga syariah diawali dengan berdirinya Bank Muamalat Indonesia di tahun 1992. Dan pada 2005, hanya dalam kurun waktu 13 tahun, lembaga syariah di Indonesia tumbuh dengan pesat. Lembaga-lembaga itu adalah Perbankan Syariah, Asuransi Syariah, Reksadana Syariah, Pengadaian Syariah, serta bahkan Properti dan Hotel Syariah.

            Perkembangan pesat sistem ekonomi islam berdasarkan syariah ini menjadi bukti bahwa masyarakat yang hidup di era globalisasi sekarang rindu akan ketenteraman dalam menjalani kegiatan ekonomi. Dengan menjalankan perekonomian syariah, masyarakat meyakini bahwa kegiatan ekonomi yang dijalankan sesuai dengan etika dan nilai-nilai agama. Sehingga dapat kita lihat perubahan di era globalisasi dan modernisasi pada abad ke-21 membawa masyarakat untuk kembali pada nilai-nilai etika, yang dalam hal ini menimbulkan paradoks antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.

Baca Juga: 5 Bibit Tanaman Yang Bisa Dijadikan Ladang Bisnis

            Prinsip #4: Develop A Spiritual based Organization (Company)

            Dalam era globalisasi dan di tengah situasi serta kondisi persaingan usaha yang semakin ketat, perusahaan harus merenungkan kembali prinsip-prinsip dasar perusahaannya. Perusahaan-perusahaan besar yang sukses di abad ke 21 ini umumnya dapat mendeteksi perubahan yang terjadi di pasar dan bagaimana mereka tetap konsisten untuk menjalankan nilai-nilai dan prinsip dasar perusahaannya. General Electric, di bawah kepemimpinan Jack Welch, berhasil menoreh sejarah sebagai salah satu perusahaan yang sukses karena prinsip dasar perusahaan yang dianutnya. Prinsip mereka terkenal dengan nama “GE WAY”, dengan nilai-nilai sebagai berikut:

GE VALUES

GE Leaders… Always with Unyielding Integrity:

  • Have a passion for Excellence and Hate Bureaucracy
  • Are Open to Ideas from Anywhere… and Comitted to Work-Out
  • Live Quality … and Drive Cost and Speed for Competitive Edge
  • Have the self-Confidence to Involve Everyone and Behave in a Boundaryless Fashion
  • Create a Clear, Simple, Reality-Based Vision … and Communicate it to All Constituencies
  • Have Enormous Energy and the Ability to energize Others
  • Stretch … Set Aggressive Golas … Reward
  • Progress … Yet Understand Accountability and Commitment
  • See Change as Opportunity … Not Theart
  • Have Global Brains … and Build Diverse and Global Teams

Pesan-pesan dari visi dan misi Jack Welch disampaikan di setiap kesempatan: di dalam laporan tahunan perusahaan untuk para pemegang saham, pidato-pidato di depan dewan komisaris dan direksi, dan bahkan di setiap pembicaraannya. Namun, yang menjadi kunci utama adalah  ketika ia membuat buku GE Value yang berukuran kecil sebesar dompet sehingga setiap karyawan dapat membawanya kemana pun ia pergi. Jack Welch berkata, “There isn’t a human being in GE that Wouldn’t have the Values Guide with them. In their purse. It means everything and we live it. And we remove people who don’t have those values, even when they post great result.”

Dengan menerapkan GE Values secara konsisten dan menyeluruh di perusahaannya, Jack Welch telah berhasil membawa perusahaannya mencapai kejayaan. Ia berhasil menjadi pemimpin yang dikagumi di seluruh dunia dan kepemimpinannya dijadikan contoh bagi para pemimpin perusahaan besar. Bagi Jack Welch, perubahan yang terjadi dalam kehidupan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Tetapi kenyataannya banyak manajer perusahaan takut akan perubahan dan merasa aman dengan kondisi di mana mereka merasa nyaman.

Change is a big part of the reality of business. Take the Business environment it’s constantly hanging. New competitors. New products. Any business that ignores these facts doomed to collapse.

            The Body Shop, sebuah perusahaan kosmetik yang pernah terpilih sebagai Company of the Year pada 1987, merupakan salah satu perusahaan yang sukses berkat nilai dan prinsip dasar yang dianut perusahaannya. Sebagai aktivis lingkungan hidup dan hak asasi manusia (HAM) yang gemar melakukan perjalanan ke Negara-negara Dunia Ketiga, Anita Riddick, sang pendiri The Body Shop, mempunyai visi dalam hidup untuk menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat. Karena itulah, ketika memulai bisnis The Body Shop, ia memegang teguh prinsip kejujuran, yang ditunjukkan dengan memberikan value yang sesuai kepada pelanggan dari produk-produk yang dihasilkan.

            Sejak awal membangun The Body Shop berdasarkan ajaran ibunya tentang kehematan Anita Roddick menggunakan konsep refilling, reusing,dan recycling untuk produk-produk yang dihasilkan. Konsep refilling, reusing,dan recycling ini akhirnya menjadi diferensiasi bagi perusahaannya. Namun, dalam perjalanannya mengembangkan bisnis The Body Shop, ia sempat dilanda frustasi karena beberapa kalangan media dan masyarakat masih menilai bisnisnya dari keuntungan yang didapat dan banyaknya produk yang dijual. Padahal ia ingin dinilai berdasarkan usaha-usaha positifnya untuk membantu masyarakat dunia. Ia mengatakan “ The Shaping force for us from the start has not been our products, but our products, but our principles.”

            Beberapa prinsip The Body Shop yang selalu dikomunikasikan melalui tokonya, produk, ataupun materi-materi point of salesnya adalah sebagai berikut:

  • AGAINST ANIMAL TESTING
  • SUPPORT COMMUNITY TRADE
  • ACTIVATE SELF ESTEEM
  • DEFEND HUMAN RIGHTS
  • PROTECT OUR PLANET

Berikut kutipan dari perkataan Anita Roddick: “None of our products are a matter of life and death, so campaigning for me became the method by which we could introduce values into a non-value industry.

Apa yang dilakukan Jack Welch dan Anita Riddick ini pada dasarnya adalah penerapan nilai-nilai spiritual dalam perusahaan. Dengan menerapkan spiritual-based organization,pesan-pesan di atas terus disampaikan untuk menjadikan dunia sebagai tempat yang lebih baik dengan mengedepankan kerendahan hati dan kejujuran, bahkan ketika mereka telah menjadi pengusaha yang sukses.

Syariah Marketing Strategy

            Prinsip #5: View Market Universally (Segmentation)

            Segmentasi adalah seni mengidentifikasikan serta memanfaatkan peluang-peluang yang muncul di paar. Dan, pada saat yang sama, ia adalah ilmu untuk melihat pasar berdasarkan variabel-variabel yang berkembang ditengah masyarakat. Dalam melihat pasar, perusahaan harus kreatif dan inovatif menyikapi perkembangan yang sedang terjadi, karena segmentasi merupakan langkah awal yang menentukan keseluruhan aktivitas perusahaan. Segmentasi memungkinkan perusahaan untuk lebih focus dalam mengalokasikan sumber daya. Dengan cara-cara yang kreatif dalam membagi-bagi pasar ke dalam beberapa segmen, perusahaan dapat menentukan di mana mereka harus memberikan pelayanan terbaik dan di mana mereka mempunyai keunggulan kompetitif paling besar.

            Pada dasarnya, dalam melihat pasar, pendekatan segmentasi bias melalui dua sisi, yaitu: mass-marketing dan niche marketing. Menurut karakteristiknya, pendekatan sejatinya bias dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: static attribute segmentation, dynamic attribute segmentation, dan individual segmentation. Dalam segmentasi static attribute, pendekatan yang dilakukan adalah dengan membagi pasar berdasarkan atribut-atribut yang statis sifatnya, seperti geografis atau demografis. Segmentasi geografis membagi pasar berdasarkan Negara, kawasan, provinsi, dan kota. Segmentasi demografis membagi pasar berdasarkan umur, jenis kelamin, jenis pekerjaan, jumlah pendapatan, agama, dan pendidikan. Dalam dynamic attribute segmentation,pendekatan yang dilakukan adalah dengan memerhatikan atribut-atribut yang dinamis, seperti psikografis dan perilaku (behavior). Segmentasi psikografis membagi pasar berdasarkan gaya hidup dan kepribadian. Sedangkan segmentasi perilaku berdasarkan sikap, penggunaan, dan respons. Segmentasi terakhir, yaitu individual segmentation, dilakukan atas unit terkecil pasar, yaitu individu perseorangan.

            Segmentasi pasar produk-produk lembaga keuangan syariah (LKS) di Indonesia, khususnya perbankan, adalah sebagai berikut: Pembagian pasar yang telah terbentuk adalah berdasarkan perilaku (behavior) yang terbagi dalam tiga segman (menurut karim Business Consulting), yaitu: sharia loyalist, floating market, dan conventional loyalist. Syariah loyalist ini saya sebut sebagai spiritual market; floating market sebagai emotional market; dan conventional loyalist sebagai rational market. Pembagian tiga segmen ini di riset lebih lanjut dari karim businessconsulting dengan temuan bahwa potensi pasar masing-masing segmen adalah: 10 triliun rupiah untuk syaria loyalist, 720 triliun rupiah  untuk conventional loyalist. Berdasarkan riset tersebut terlihat bahpa pasar yang terbesar adalah segmen floating market yang berarti bahwasegmen tersebut merupakan segmen yang paling potensial, bagi perusahaan-perusahaan syaria.

            Di markplus&co, segmentasi yang biasa digunakan adalah dynamic attribute segmentation,dimana kami mengombinasikan segmentasi psikografis dan prilaku. Dengan tampilan matriks, variable psikografis sebagai sumbu vertical  terbagi dalam kelompok konsumen yang berorientasi pada  quality atau benefit, value, dan price . sumbu ini berupaya memetakan harapan, kebutuhan, keyakinan atau opini yang akan membentuk bagaimana seseorang akan bersikap dan menentukan kebutuhan atau pilihan.  Sedangkan segmentasi  prilaku sebagai sumbu horizontal adalah eks-presi dari aspek  psikografis seseorang. Segmentasi ini adalah ekspresi dari aspek psigrafis seseorang. Segmentasi ini c menurut syafi’I Antonio,syariah mempunyai keunikan tersendiri. Syariah tidak saja konprehensif, tetapi juga universal. Yang dimaksud  dengan konfrehensif, adalah bahwa syariah islam merangkum seluruh aspek  kehidupan, baik ritual (ibadah ). Ibadah diperlukan  menjaga untuk ketaatan  dan keharmonisan hubungan manusia dengan penciptanya. Adapun aspek social diturunkan  menjadi rules of the game atau aturan main dalam  kehidupan masyarakat.sedangkan uninversal bermagna bahwa syariah dapat diterapkan dalam setiap waktu dan tempat oleh setiap manusia. Keuniversalan ini jelas terutama pada bidang social yang tidak membeda-bedakan antara kalangang mislim dan non-muslim.

            Prinsip # 6 Target customer’s Heart and soul (targeting)

Setelah membagi-bagi dan memetakan pasar dalam beberapa segmen, selanjutnya yang dilakukan adalah penentuan target pasar yang akan dibidik. Targeting adalah strategi mengalokasikan sumberdaya perusahaan secara efektif, karena sumber daya yang dimiliki terbatas. Dengan menentukan target yang akan dibidik, usaha kita akan lebih terarah. Saya mengambil contoh perubedaan antara rabo dan penembak jitu (sniper) dalam menembak musuhnya, Rambo menggunakan senapan mesin yang membidik secara acak sehingga tidak fektif  dan efisien. Sedangkan penembak jitu membidik musuhnya secara benar- benar  focus sehingga upaya yang dikeluarkan efektif dan efesien.  Untuk itulah pperusahaan prlu embidik pasar yang akan dimasuki yang tentunnya harus sesuai dengan keunggulan daya sain  ( competitive advantage) yang dimiliki perusahaan.

            Menurut werren keegan dalam bukunya , global marketing management, criteria untuk menentukan target market zise dengan dengan potential growtnya,potential competition, dan compatibility dengan feasibility.  Ia menerangkan bahwa perusahaan harus  menganalisis apakah segmen market yang akan dibidik cukup potensial. Apabila cukup potensial , bagaiman dengan pesaing yang ada dalam segmen tersebut? Apakah keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimiki aleh perusahan dapat memenangi paling tidak bersaing dalam situasi persaingan tersebut? Dan terakhir setelah yakin segmen pasar yang akan digarap cukup besar dan keunggulan komparatif dan kompatitif yang dipunyai perusahaan cukup mampu untuk bias bertahan dalam kompetisi, maka yang terakhir harus diprhatikan adalah recources yang dimiliki. Recources ini menyangkut kemampuan perusahaan untuk membidik target market yang dimaksud. Sehingga, ketika segemen pasar yang ada cukup besar dan pesaing sedikit, perusahaan dapat mengoptimalkan segala usaha yang ada secara efektif dan efisien.

            Ada tiga kriteria yang harus dipenuhi perusahaan pada saat mengevaluasi dan menentukan segmen mana yang mau ditarget. Yang pertama adalah memastikan bahwa segmen pasar yang dipilih itu cukup besar dan akan cukup menguntungkan bagi perusahaan (market size). Atau, dapat pula memilih segmen yang pada saat ini masih kecil, tetapi menarik dan menguntungkan di masa mendatang (market growth).

            Kriteria kedua, strategi targeting itu harus didasarkan pada keunggulan daya saing perusahaan (competitive advantages). Keunggulan daya saing merupakan cara untuk mengukur apakah perusahaan itu memiliki kekuatan dan keahlian yang memadai untuk mendominasi segmen pasar yang dipilih.

            Kriteria ketiga adalah melihat situasi persaingan (competitive situation) yang terjadi. Semakin tinggi tingkat persaingan, perusahaan perlu mengoptimalkan segala usaha yang ada secara efektif dan efisien sehingga targeting yang dilakukan akan sesuai dengan keadaan yang ada di pasar.

            Di tengah situasi persaingan yang semakin crowdedini, perusahaan tidak bisa lagi sekedar membidik rasio atau benak konsumen. Jika hanya membidik benak konsumen ini, niscaya konsumen tidak bisa membedakan keunggulan masing-masing produk karena sudah terlalu banyak dan memang relatif           tidak berbeda satu sama lain dari sisi fungsionalnya. Misalkan saja perangkat telepon seluler. Sudah balasan merek yang tersedia di pasar, dan secara fungsional sebenarnya relatif tidak ada perbedaan signifikan antara satu merek dan yang lainnya.

            Karena itu, bagi perusahaan syariah, ia harus bisa membidik hati dan jiwa dari para calon konsumennya. Dengan begini, konsumen akan lebih terikat kepada produk atau perusahaan itu dan relasi yang terjalin bisa bertahan lebih lama (long-term), bukan hanya relasi yang bersifat singkat (short-term), karena konsumen ini kadung cinta sudah.

            Prinsip #7: Build A Belief System (Positioning)

            Selanjutnya, strategi yang harus dirumuskan adalah bagaimana membuat positioning yang tepat bagi perusahaan dan produk-produk syariah Anda. Positioning adalah strategi untuk merebut posisi di benak konsumen, sehingga strategi ini menyangkut bagaimana membangun kepercayaan, keyakinan, dan kompetensi bagi pelanggan.

            Saat ini, konsemen memegang peranan kunci untuk pembelian dan pemakaian produk-produk Anda. Tersedianya berbagai pilihan yang masing-masing mempunyai sisi positif dan negatifnya membuat konsumen selalu membanding-bandingkan produk yang ditawarkan  perusahaan Anda dengan lainnya. Untuk itulah, positioningdiperlukan agar citra terhadap produk atau perusahaan Anda dapat terbentuk sesuai dengan niat dan tujuan dari perusahaan.

            Menurut Philip kolter, Positioning adalah aktivitas mendasain citra dari apa yang ditawarkan perusahaan sehingga mempunyai arti dan memosisikan diri dari benak konsumen. Sedangkan bagi Yoram Wind, seorang profesor strategi pemasaran, positioningadalah bagaimana mendefinisikan identitas dan kepribadian perusahaan di benak perusahaan.

            Jadi, positioning adalah suatu pernyataan mengenai bagaimana identitas produk atau perusahaan tertanam dibenak konsumen yang mempunyai kesesuaian dengan kompetensi yang dimiliki perusahaan untuk mendapatkan kepercayaan, kredibilitas, dan pengakuan dari konsumen.

            Dalam menentukan positioning sebelum produk dilaunch, perusahaan sudah berusaha untuk menjadi perusahaan perusahaan yang custemer centric. Sebab, positioningadalah apa yang ada di benak konsumen.

            Sehingga, sebelum menentukannya, hal yang terlebih dahulu harus diperhatikan adalah “reason buy” dari konsumen. Positioning menawarkan value yang akan diterima oleh konsumen. Setelah mengetahui apa permintaan dari pelanggan,perusahaan harus menyesuaikannya dengan kekuatan dan keunggulan kompratif dan kompetitif yang dimiliki. Apakah kekuatan yang dimiliki bisa di stretch sedemikian rupa untuk memenuhi permintaan konsumen? Jika tidak, sebaiknya jangan anda lanjutkan positioningstatement Anda, karena ada kemungkinan Anda tidak akan berhasil men-deliverhal-hal yang dijanjikan.

            Setelah menemukan produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen, perusahaan harus mengetahui posisinya di tengah arena kompetisi. Apakah ada penawaran yang sama dari perusahaan lain? Dengan mengetahui posisi di tengah pemain yang lain, positioningi yang ditawarkan bisa berbeda dari positioningpesaing. Positioning ini juga harus bisa sustainable terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di pasar. Tetapi, walaupun positioning harus bisa berkelanjutan dan relevan dalam berbagai situasi, positioningharus dikomunikasikan secara konsisten dan tidak berubah-ubah.

            Bagi perusahaan syariah, membangun positioningyang kuat dan positif sangatlah penting. Citra syariah yang dengan sendirinya akan terbentuk harus bisa akan terbentuk harus bisa dipertahankan dengan menawarkan value-value yang sesuai dengan prinsip syariah. Pemenuhan terhadap prinsip-prinsip syariah merupakan hal generik yang wajib dan harus dijalankan berdasarkan kompetensi yang dimiliki perusahaan. Sehingga, dalam menentukan  positioning nya, perusahaan bisa menampilkan keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimiliki oleh perusahaan tersebut berdasarkan prinsip syariah.

            Jadi, positioning memegang peranan dalam memasarkan produk-produk perusahaan anda, karena membangun positioning berarti membangun kepercayaan dari konsumen. Dan untuk perusahaan berbasis syariah, membangun kepercayaan berarti menunjukkan komitmen bahwa perusahaan syariah itu menawarkan sesuatu yang lebih jika dibandingkan perusahaan non-syariah.

Syariah Marketing Tactic

Prinsip #8: Differ Yourself With A Good Package of Content and Context (Differentiation

            Positioning adalah inti dari strategi, dan deferensiasi adalah inti dari taktik. Dasar dari semua aktivitas pemesaran yang ada di perusahaan akan berbasis pada deferensiasi yang ingin ditawarkan. Setelah citra yang ingin dibentuk dalam positioningtelah terdefinisi, langkah selanjutnya adalah menyelaraskan taktik pemasaran dalam suatu diferensiasi.

            Diferensiasi didefinisikan sebagai tindakan merancang seperangkat perbedaan yang bermakna dalam tawaran perusahaan. Namun, penawaran ini bukan berarti janji-janji belaka saja, melainkan harus didukung oleh bentuk yang nyata. DiferensiasiIni bisa merupakan content (what to 0ffer) dan context (how to offer) dan yang tak kalah penting yaitu infrastructure ( capability to offer).

            Content adalah dimensi deferensiasi.Context merupakan dimensi yang merujuk pada value yang ditawarkan kepada pelanggan anda. Ini merupakan bagian tangible dari diferensiasi. Context  merupakan dimensi yang merujuk pada cara anda menawarkan produk. Ini merupakan bagian dari intangible dari dideferensi dan berhubungan dengan usaha-usaha anda untuk membantu pelanggan dalam”mempersepsi” tawaran andadengan cara yang berbeda dibandingkan tawaran pesaing. Dimensi terakhir ,infrastruktur, merujuk pada teknologi (technology),  SDM (people), dan fasilitas (facility) yang digunakan untuk menciptakan diferensiasi content dan context di atas.

            Sebuah perusahaan dapat melakukan diferensiasi  pada produknya saja atau cara penawarannya.tetapi, yang paling efektif adalah dengan mengintegrasikan keduanya sehingga diferensiasi yang ditawarkan menjadi kuat,apalagi didukung oleh infrastruktur yang kompeten. Gabungan antara ketiganya harus menjadi kekuatan bagi perusahaan untuk selanjutnya menjalankan aktifitasnya.

            Dalam se buah perusahaan syariah, sudah pasti diferensiasi yang berbentuk adalahdari content prinsip-prinsip syariah,perusahaan harus meng – customized infrastruktur yang diperlukan. Contohnya untuk mendukung trnsparansi dan kejujuran, perusahaan syariah dapat mengimplementasikan perangkat lunak yang mendukung oprasional perusahaannya, dan menjalankan reward dan punishment dengan benar terhadap sumber daya manusianya. Tetapi,  hal ini tidaklah cukup. Perusahaan harus mengidentifikasi kembali perbedaan yang bisa di-leverage dari content yang ditawarkan sehingga bisa memberikan  value-added bagikonsumen. Untuk itu, perlu dikaji bentuk-bentuk penawaran produk – produk  syariah dengan cara-cara yang berbeda atau bahkan  unconventional , yang tentunya tanpa mengindahkan prinsip-prinsip syariah marketing tersebut.

            Prinsip #9: Be honest with your 4 ps ( marketing –mix)

Kita mengenal 4 p  sebagai marketing-mix , yang elemen-elemnnya adalah product ( produk), price ( harga), place ( tempat/ distribusi ), dan promotion (promosi) yang diperkenalkan oleh jerome Mccarthy. Product dan price adalah komponen dari tawaran (offers) sedangkan place, dan promotion adalah komponen dari akses (access). Karena itu marketing-mix yang dimaksud adalah bagaimana mengintegrasikan tawaran dari perusahaan ( company’s offers) dengan akses yang tersedia ( company’s access) proses pengintegrasian ini menjadi kunci suksesnya usaha pemasaran dari perusahaan anda. Untuk itu kami juga menyebutnya  sebagai creation tactic karena marketing-mix ini haruslah berdasarkan penciptaan diferensiasi  dari sisi content, context, dan infrastructue.

            Bagi peruhaan syariah, untuk komponen tawaran ( offer), produk dan hausahaan rga haruslah didasari  dengan nilai kejujuran dan keadilan; sesuai dengan prinsip- rinsip  syariah. Kualitas produk yang diberikan  harus sesuai dengan yang ditawarkan. Jadi, sangat dilarang bila perusahaan menyembunyikan kecacatan dari produk-produk yang mereka tawarkan. Sedangkan dalam mnentukan harga, perusahaan haruslah mengutamakan nilai keadilan. Jika kualitas produknya bagus,harganya tentu bisa tinggi. Sebaliknya, jika seseorang telah mengetahui keburukan yang ada di balik produk yang ditawarkan harganya pun harus disesuaikan dengan kondisi produk tersebut.

            Komponen akses ( access) sangat berpengaruh bagaimana usaha perusahaan dalam menjual produk dan harganya. Promosi bagi perusahaan  yang berlandaskan syariah haruslah menggambarkan secara rill apa yang ditawarka dari produk-roduk atau servis-servis perusahaan tersebut.promosi yang tidak sesuai dengan kwalitas atau kompetensi, contohnya promosi yang menampilkan imajenasi yang terlalu tinggi bagi konsumennya, adalah termasuk dalam pratik penipuan dan kebohongan.untuk itu,promosi yang semacam tersebut sangat dilarang dalam syariah markting. Dalam menentukan places atau saluran distribusi,perusahaa harus mengutamakan tempat-tempat  yang esui dengan target market sehingga dapat efekfif dan efesien.sehingga, pada intinya,  dala menentukan marketing mix, proses integrasi terhadap offer dan access, harus didasari oleh  prinsip –prinsip keadilan dan kejujuran.

            Prinsip# 10: practice A Relationship – based selling ( selling)

Elemen bagi prakti yang terakhir adalah melakukan selling. Selling yang dimaksud disini ukanlah berarti beraktivitas menjual produk kepada konsumen semata. Penjualan dalam arti sederhana adalah penyerahan suatu barang atau jasa dari penjua kepada pembeli dengan harga yang disepakati atas dasar suka rela. Sedangka dalam penjualan dalam arti luas adalah  bagaimana memaksimalkan  kegiatan penjualan sehingga dapat menciptakan situasi yang win-win solution bagi si penjual dan pembeli.

            Dalam melakukan selling, perusahaan tidak hanya menyampaikan fiktur-fiktur dari produk dan jasa yang ditawarkan saja, melainkan juga  keuntungan dan bahkan solusi dari produk/ jasa tersebut. Begitu juga perusahaan yang berbasis syariah. Perusahaan ini juga harus bisa memberikan solusi bagi konsumennya sehingga konumen akan semakin loyal terhadap produk atau jasa perusahaan itu.salah satu carannya adalah dengan menciptakan hubungan jangka panjang dengan konsumen.

            Dalam melakukan aktivitas penjualan, janganlah berfikir jangka pendek, tetapi harus jangka panjang.tida boleh misalnya,menawarkan produk dengan harga rendah untuk memikat konsumen,tetapi kualitasnya diturunkan diam-diam.konsumen mungkin akan tertarik pada awalnya. Namun begitu tau telah dikelabui, mereka pasti akan pergi meninggalkan perusahaan yang curang itu.

            Paradigma lama bahwa konsumen hanyalah pembeli,haruslah diubah.perusahaan atau pembeli haruslah menganggap konsumen sebagai teman dalam sikap tolong menolong dengan sikap kejujuran sebagai landasan utamanya. Dengan menjalin persaudaraan dengan monsumen anda, hubungan jangka panjang akan terjalin secara harmonis. Sehingga, pada akhirnya konsumen anda akan menjadi pendukung dan pembela anda dikala produk atau perusahaan anda mengalami masalah atau krisis.

Syariah Marketing Value

            Prinsip #11: Use A Spiritual Brand Character ( Brand)

Brand atau merek adalah suatu identitas terhadap produk atau jasa perusahaan anda. Brand mencerminkan nilai ( value) yang anda berikan kepada konsumen. Seperti sudah dibahas sebelumnya, value didefinisikan sebai total get dibagi dengan total give diman total get terdiri dari komponen functional benefit dan emotional benefit, sedangaka total give terdiri dari  komponen price dan other expenses.

            Brand sebagai value indicator harus mencerminkan komponen keempat diatas, biasanya bila erusahaan punya total get  yang lebh tinggi dibandingkan dengan total give, brand yang dimiliki mempunyai lilai ekuitas yang kuat. Berkaitan dengan positioing dan diferentiation yang telah terbentuk, brand akan menabah value bagi produk dan jasa yang ditawarkan.

            Dalam pandangan syariah marketing,brand adalah nama baik yang menjadi identitas seseoarang atau perusahaan. Nabi muhamad saw. Mkisalnya,memiliki reputasi sebagai seseorang yang tepercaya sehingga mendapat julukan ai-amin. Membangun brand yang kuat adalah penting, tetapi dengan jalan yang tidak bertentangan dengan ketentuan prinsip-prinsip syariah merketing.

            Salah satu hal penting yang membedakan produk anda dengan roduk lainnya adalah karakter brand yang merupakan value indikator bagi konsumen. Brand yang baik adalah brand yang mempunyai karakter yang kuat, dan bagi perusahaan atau poduk yang menerapkan syariah marketing,suatu brand juga harus mencerminkan karakter-karakter yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah atau nilai-nilai spiritual. Mungkin anda bertanya,seperti apakah brand yang mencerminkan karakter yang sesui dengan prinsip syariah dan nilai spiritual? Yaitu brand yang tidak mengantuk unsur jadi,penipuan, riba, tidak mengandung unsur kezaliamn, dan tidak membahayakan pihak sendiri ataupun orang lain. Dan value yang anda tawarkan dalam brand hauslah sama dengan yang anda deliver. Untuk itu anda harus membangun brand dengan membangun nilai- nilai sepiritualitas yang didukung pengimplementasiannya ini ditunjukan untuk menjaga kepercayaan konsumen dengan sepenuh hati.

            Beberapa karakter yang bisa di bangun untuk menunjukan nialai sepiritual  ini bisa digambarkan denga nilai  kejujuran, keadilan, kmitraan, kebersamaan, keterbukaan an universalitas. Denga n membangu karakter brand anda dengan nilai-nilai ersebut, karakter brand anda pun akan semakin kuat sehingga menjadi  brand syariah yang kuat.

            Prinsip # 12: services should have the ability to transform (service)

Untuk menjadi perusahaan yang benar dan sustainable, perusahaan berbasis marketing harus memerhatikan servis yang ditawarkan untuk menjaga kepuasan pelanggannya. Perusahaan apa pun jenis dan industrinya harus menjadi pelayan bagi pelanggannya. Apalagi erusahaan itu sudah semakin besar,filosofi padi sepatutnya diterapkan,semakin tinggi harus semakin menunduk.

            Berkaitan dengan hal kehidupan masyarakat, sebenarnya sudah merupakan kewajiban seseorang untuk berbuat baik kepada sesama., termasuk didalamnya memberikan pelayanan. Dalam melakukan pelayanan yang baik, biasanya digambarkan seseoarang dengan sikap, pembicaraan dan bahkan dari bahasa tubuh (body language) yang bersifat simpatik,lembut,sopan, hormat,dan penuh kasih sayang.

            Dalam melakukan hubungan masyarakat, sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga prkataan ,baik perkataan melalui sikap, disebabkan untuk menghindarkan kita dari segala hal yang menimbulkan perselisihan diantara manusia sehingga dapat trcipta kehidupan yang penuh kedamaian.

            Hal ini memperkuat pengertian bahwa “every buseness is a service business”. Baik perusahaan minyak, pabrik sepatu, karoseri mobil, restoran ataupun hotel, semua harus memiliki paradigma sebagai pelayan bagi seluruh stakeholders-nya.stakehorders yang dimaksud disini mempunyai arti yang luas dan tidak hanya konsumen saja.,tetapi juga pemegang samam,pemerintah, dan para karyawan sendiri.

            Munkin timbul pertanyaan, mengapa servis itu menjadi sedemikian pentingnya bagi perusahaan?

Sebenarnya jawabannya sangat mudah. Sebagai manusia, kita suka sekali diperhatikan dan dilayani karena memang sudah merupakan nature dari manusia sejak kecil hidup diperhatikan dan dilayani oleh ayah, ibu, dan keluarga dekat lainnya. Begitu manusia terjun ke dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas, rasa haus akan kekeluargaan pun muncul sehingga mereka berusaha mencari tempat di masyarakat yang memungkinkan mereka mengaktualisasikan diri mereka dengan nyaman dan damai.

            Ada sebuah cerita tentang dua toko yang sama-sama menjual alat tulis dan perlengkapan sekolah, sebut saja toko A dan toko B. Toko A selalu ramai dikunjungi oleh pelanggannya, sedangkan toko B bisa dihitung dalam seminggu hanya dua hari tokonya ramai. Pemilik toko B bingung. Mengapa toko dia tidak bisa seramai toko A padahal ia menjual barang yang sama dan dengan harga yang sama. Lalu, ia berusaha mencari tahu dengan pura-pura menjadi konsumen di toko A. Begitu datang. Ia langsung disambut dengan sambutan dan senyuman ramah dari pelayan toko. Ia pun berjalan untuk melihat-lihat produk, seraya diikuti oleh sang pelayan yang menerangkan produk-produk tersebut dengan sopan. Cukup lama ia berkeliling dan ia merasa, sang pelayan ini berperan bagaikan seorang asisten yang selalu mengikuti ke mana pun ia melangkah, dan juga menjawab segala pertanyaannya. Tidak terlihat rasa kesal ataupun kecewa ketika akhirnya ia hanya membeli sebuah pulpen. Dan bahkan ketika ia membayar, sang pelayan memberikan bonus dan mengucapkan kata-kata yang  menggugah hatinya. Sang pelayan mengucapkan, “Terima kasih banyak atas kunjungan Anda ke toko kami. Kami senang berkenalan dengan Anda.

Apabila ada hal-hal yang diperlukan atau ingin ditanyakan, silahkan hubungi kami di nomor ini, kami akan dengan senang hati menolong Anda. Sekali lagi, terima kasih”. Begitu ucap pelayan tadi sambil tersenyum dengan lemut. Setelah mendengar kalimat itu pun, pemilik Toko B sadar ternyata memang Toko A sungguh berbeda dari pada toko miliknya. Toko A tersebut tidak hanya menjual barang, tetapi juga kenyamanan dan bahkan menawarkan solusi bagi kebutuhan pelanggannya.

            Contoh di atas memberikan masukan kepada perusahaan, khususnya perusahaan berbasis syariah marketing, agar berupaya menjadi yang terbaik. Perusahaan harus menjaga dan harus terus menerus memperkuat servis yang diberikan. Servis yang dimaksud disini bukan lagi layanan purnajual, prajual, ataupun selama penjualan semata. Namun, bagaimana servis yang ditawarkan perusahaan dapat membantu dan mentransformasi kehidupan semua stakeholders perusahaan tersebtu.

            Prinsip #13 : Practice A Reliable Business Process (Process)

            Prinsip terakhir dalam Syariah Marketing Value adalah proses. Proses mencerminkan tingkat quality, cost, dan deliveryyang sering disingkat sebagai QCD. Kualitas suatu produk ataupun servis tercermin dari proses yang baik, dari proses produksi sampai delivery kepada konsumen secara tepat waktu dan dengan biaya yang efektif dan efisien.

            Proses dalam konteks kualitas adalah bagaimana menciptakan proses yang mempunyai nilai lebih untuk konsumen. Dalam hal ini, perusahaan harus memerhatikan proses supply cain dalam perusahaannya, bagaimana proses produksi yang dimulai dari bahan mentah sampai ke barang jadi dijalankan secara teliti dan efektif, tanpa mengurangi value yang ditawarkan. Kualitas ini juga bisa tercermin dari sisi riset dan pengembangan terhadap produk atau servis baru yang dapat menambah value bagi konsumen. Karena itu, dibutuhkan komitmen dan disiplin yang kuat dari perusahaan untuk menciptakan yang terbaik.

            Proses dalam konteks cost adalah bagaimana menciptakan proses yang efisien yang tidak membutukan biaya yang banyak, tetapi kualitas terjamin. Yang juga dimaksud dengan konteks costdi sini adalah bagaimana menjaga efisiensi dengan melakukan strategic alliance, baik dengan departemen lain, pemasok, mitra atau bahkan dengan pesaing dengan tujuan untuk menciptakan kemaslahatan bersama.

            Sedangkan proses dalam konteks delivery adalah bagaimana proses pengiriman atau penyampaian produk atau servis yang ditawarkan perusahaan kepada konsumen. Proses deliverycukup penting karena merupakan contact point yang memungkinkan konsumen langsung bisa merasakan kepuasan atau tidak terhadap layanan perusahaan Anda. Proses delivery yang tepat waktu pasti akan membawa nilai lebih bagi konsumen. Selain itu, proses deliveryini juga mempunyai makna bahwa nilai ini ditawarkan dalam sebuah produk atau servis harus sesuai dengan yang disampaikan. Di sinilah kejujuran dan tanggung jawab dari perusahaan harus disampaikan sehingga dapat memberikan nilai lebih kepada konsumen.

Syariah Marketing Scorecard

            Prinsip #14: Create A Balanced Value to Your Stakeholders (Scorecard)

Prinsip dalam syariah marketing adalah menciptakan valuebagi para stakeholders-nya. Kemampuan perusahaan untuk menciptakan value bagi para stakeholders-nya ini akan menentukan kelangsungan hidup perusahaan.

Tiga stakeholders utama dari perusahaan adalah peoplecustomers, dan shareholders.Mengapa ketiga stakeholders ini penting? Karena peoplecustomers, dan shareholders adalah orang-orang yang sangat berperan dalam menjalankan suatu usaha. Dalam pasar komersial (commercial market), perusahaan harus bisa mengakuisisi dan merentensi pelanggannya. Dalam pasar kompetensi (competency market), perusahaan harus bisa memilih dan mempertahankan orang-orang yang tepat. Dan dalam pasar modal (capital market), perusahaan harus bisa mendapatkan dan menjaga para pemegang saham yang tepat. Dalam menjaga keseimbangan ini, perusahaan harus bisa menciptakan value yang unggul bagi ketiga stakeholdersutama tersebut dengan ukuran dan bobot yang sama.

            Dalam kehidupan manusia, ada hubungan horizontal dan ada pula hubungan vertikal. Hubungan secara horizontal adalah hubungan antar sesama manusia, sedangkan hubungan secara vertikal adalah hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta. Maka, Sang Pencipta sesungguhnya juga merupakan stakeholders yang paling utama. Dengan tekad untuk melayani Sang Pencipta ini, kita akan menghindari dalam melakukan hal-hal tercela atau hal-hal yang dilarang oleh agama. Sehingga, prinsip-prinsip syariah marketing akan tetap terjaga dalam perusahaan tersebut. Pencipta value terhadap para stakeholders ini akan membawa perusahaan untuk tetap menjadi perusahaan yang sustainable.

Syariah Marketing Enterprise

            Prinsip #15 Create A Noble Cause (Inspiration)

Setiap perusahaan, layaknya manusia, haruslah memiliki impian (dream). Untuk mencapai kesuksesan, Anda harus punya impian tentang apa yang akan Anda capai. Impian inilah yang akan membimbing Anda sepanjang perjalanan untuk mewujudkan goals Anda.

            Inspirasi tentang impian yang hendak di capai inilah yang akan membimbing manusia dan juga perusahaan sepanjang perjalanannya. Sebuah perusahaan harus mampu menggabungkan antara idealisme dan pragmatisme. Perusahaan harus mampu idealistik dan sekaligus pragmatis, dan mampu mengimplementasikan kedua hal ini sekaligus dan secara simultan, tanpa adanya trade-off.

            Sebagai contoh, pada era 1960-an, sebuah maskapai penerbangan regional kecil yan bernama Singapore Airlines punya mimpi untuk menjadi maskapai penerbangan berkelas dunia (word-class carrier). Sekarang, bisa kita lihat, Singgapore Airlines sudah identik dengan maskapai penerbangan kelas wahid yang selalu memberikan layanan terdepan. Impian ini memberikan inspirasi, motivasi, energi, dan panduan bagi perusahaan untuk mencapai goals-nya di masa depan.

            Memang benar bahwa suatu perusahaan merupakan entitas ekonomi yang aktivitasnya terfokus pada penciptaan profitabilitas dan stakeholders value. Namun, hal ini jangan diterjemahkan sebagai keuntungan yang bersifat material atau finansial semata. Sebuah perusahaan berbasis syariah marketing harus bisa menentukan tujuan akhirnya yang bersifat spiritual-universal. Charoen Pokphand dari Thailand, misalnya, sebenarnya sudah menerapkan prinsip-prinsip syariah marketing, paling tidak dalam hal inspirasi, karena mempunyai goal untuk menjadi “sumber energi manusia” (the source of human energy).

            Maka, dalam perusahaan berbasis syariah marketing, penetuan visi dan misi tidak bisa terlepas dari makna syariah itu sendiri, dan tujuan akhir yang ingin dicapai. Tujuan akhir ini harus bersifat mulia, lebih dari sekedar keuntungan finansial semata.

            Prinsip #16: Develop An Ethical Corporate Culture (Culture)

            Pada perusahaan berbasis syariah, budaya perusahaan yang berkembang dalam perusahaannya sudah pasti berbeda dengan perusahaan konvensional. Para karyawannya wajib menjaga hubungan antar-sesama, dari mulai tingkat paling atas (manajerial) sampai tingkat paling bawah (staf). Seluruh pola, perilaku, sikap, dan aturan-aturan dalam perusahaan itu harus mampu mencerminkan nilai-nilai syariah.

            Budaya perusahaan menggambarkan jati diri perusahaan tersebut: who we are dan how we do the business. Hal ini tercermin dari nilai-nilai yang di anut oleh setiap individu di perusahaan dan perilakunya ketika menjalankan proses bisnisnya. Budaya perusahaan yang sehat adalah budaya yang diekspresikan oleh setiap karyawannya dengan hati terbuka dan sesuai dengan nilai-nilai etika.

            Berikut ini adalah beberapa hal penting yang selayaknya menjadi budaya dasar sebuah perusahaan berbasis syariah.

  • Budayakan mengucapkan salam

Mengucapkan salam dengan senyuman adalah hal termudah yang bisa dilakukan. Namun, masih banyak yang enggan atau lupa untuk mengucapkan salam dengan berbagai alasan: terburu-buru, merasa hanya membuang waktu, atau merasa gengsi.

  • Murah hati, bersikap ramah, dan melayani

Bersikap rendah hati, sopan, dan ramah dalam melayani adalah hal penting yang harus dijaga dalam menjalankan hubungan antar-sesama rekan dilingkungan kerja. Sikap bersahabat dan murah hati akan mencairkan suasana dan akan memberikan ketentraman dalam melakukan pekerjaan sehari-hari.

  • Cara berbusana

Pada dasarnya, bagi perusahaan yang berbasis syariah, busana karyawan yang bekerja di perusahaannya haruslah pula mampu menampakkan nuansa syariah. Karena hal ini adalah aspek paling tangible yang membedakan antara perusahaan syariah dan non-syariah. Cara berbusana ini juga menjadi kontrol bagi karyawan yang bersangkutan dalam pergaulan sehari-hari.

             Dengan mengenakan busana rapi yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, niscaya kerapian dan kenggunan yang tercermin dari diri setiap karyawan pun dapat memperkuat jati diri perusahaan.

  • Lingkungan kerja yang bersih

Karakteristik lain yang tercermin dari perusahaan berbasis syariah, yaitu lingkungan kerjanya yang bersih. Mengapa harus bersih? Karena lingkungan kerja yang bersih melambangkan kebersihan hati orang-orang yang ada dilingkungan tersebut. Selain itu, lingkungan yang bersih juga akan menghadirkan suasana hati yang bersih dan bersahaja serta memudahkan pikiran dalam melakukan pekerjaan serta menjauhkan suasana hati yang kalut.

            Prinsip #17: Measurement Must Be Clear and Transparent (Institution)

            Prinsip yang terakhir, yang terpenting, adalah bagaimana Anda membangun organisasi/institusi Anda sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Organisasi sebagai “kendaraan” dalam menunaikan visi dan misi yang telah ditetapkan harus memiliki struktur yang baik dan target yang jelas untuk setiap miletone dari sasaran yang telah ditentukan sebelumnya. Jika organisasi Anda kuat, koordinasi kerja dalam organisasi Anda tidak hanya akan lebih efisien dan efektif, tetapi organisasi Anda juga akan mampu merespons secara cepat terhadap perubahan yang terjadi di lingkungan bisnis.

            Dalam perusahaan yang menerapkan prinsip-prinsip syariah, perusahaan tersebut harus punya sistem umpan balik yang baik dan bersifat transparan. Sistem umpan balik ini untuk memeriksa apakah ketiga stake-holders utama yaitu pelanggan, karyawan, dan pemegang saham sudah merasa terpenuhi kebutuhannya. Jika salah satu saja dari ketiga stakeholders utama ini merasa tidak puas, akibatnya akan sangat fatal bagi kelangsungan hidup perusahaan.

            Selanjutnya transparansi berarti bahwa ketiga stakeholders utama itu harus mendapatkan informasi yang sejelas dan sejujur mungkin dari perusahaan. Tidak boleh ada yang ditutup-tutupi. Dengan demikian, mereka pun akan merasa punya sense of ownership, bukan hanya sense of belonging,terhadap perusahaan tersebut.

            Dengan adanya sistem umpan balik dan transparansi ini, manajemen dan pengukuran (measurement) hasil perusahaan akan berjalan secara lebih baik. Intinya memang adalah bagaimana perusahaan mampu membangun kepercayaan terhadap ketiga stakeholders utama itu. Begitu pula sebaliknya, bagaimana ketiga stakeholdersutama itu mampu mempercayai perusahaan dengan sepenuh hati.

            Dalam perusahaan berbasis syariah, pengukuran yang jelas dan transparan merupakan suatu hal yang penting, karena prinsip-prinsip syariah mengajarkan mengenai keadilan dan kejujuran. Pengukuran yang jelas mengandung pengertian keadilan, yakni setiap pengukuran yang dilakukan memiliki komponen-komponen pengukuran yang terukur. Sedangkan transparan mengandung pengertian bahwa komponen-komponen pengukuran ini dikomunikasikan kepada semua yang bersangkutan. Perusahaan yang bersandar pada pengukuran yang jelas dan transparan, selain mencegah kemungkinan timbulnya kesalahpahaman di kemudian hari, akan meningkatkan keharmonisan perusahaan dengan stakeholders dan meningkatkan kredibilitasnya mereka di mata para stakeholders.   

Sumber: Berbagai sumber

Editor: Alber

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: