Ragam Pesona Teluk Katurei

  • Bagikan

Ragam Pesona Teluk Katurei

Di Teluk Katurei ini berbagai ragam wisata yang dapat dinikmati oleh wisatawan yang berkunjung ke sana. Namun yang disayangkan, lokasi ini kendati sudah masuk dalam catatan Dinas Pariwisata sebagai salah satu kawasan wisata, tapi belum terlirik dan oleh pemerintah Mentawai sendiri untuk dijadikan investasi bagi pendapatan asli Mentawai.

Teluk Katurei ini terletak di Desa Katurei Kecamatan Siberut Barat Daya. Bila ingin berkunjung dan menikmati wisata yang ada, pengunjung dapat melakukan perjalanan dengan naik speed boat dari Tuapeijat, ibu kota Kabupaten Mentawai.

Dari arah Tuapeijat ini pengunjung akan masuk ke Teluk Katurei dengan melewati Dusun Malilimok. Dusun Malilimok ini ibaratnya sebagai dusun pintu masuk Teluk Katurei. Di depan Dusun Malilimok ada Dusun Toloulaggok. Berjejer dengan dusun sehabis Malilimok ada Dusun Sarausau dan Dusun Tiop. Semua dalam satu teluk yang memiliki air setenang cermin.

Dusun-dusun ini letaknya di kiri-kanan teluk. Sedangkan di tengah-tengah teluk terdapat pulau-pulau kecil yang jumlahnya mencapai puluhan, seperti pulau Sikobou, Logui I, Logui II,Toimiang, Takleleu, Sibokkoi, Gagaijak, Maseai, Beusaba dan lainnya.pulau-pulau kecil yang ada di tengah-tengah teluk Katurei ini ada yang sudah diberi nama oleh masyarakat setempat dan ada juga yang tidak.

Pulau-pulau kecil ini juga pada umumnya ditumbuhi bakau. Sebelum pemekaran kecamatan di Kabupaten Mentawai yang dilakukan pada tahun 2007 lalu yang mana dulunya Mentawai hanya empat kecamatan yang kini setelah mekar menjadi sepuluh kecamataan, Desa Katurei ini masuk ke Kecamatan Siberut Selatan.

Ragam Pesona Teluk Katurei
Ragam Pesona Teluk Katurei

Cocok untuk Jet Ski

Karena lokasinya yang berada di kawasan teluk, tentunya air teluknya cukup tenang dan sangat cocok dijadikan lokasi jet ski. Selain air yang tenang juga para pemain jet ski ini bisa meliuk-liukkan motor airnya mengelilingi puluhan pulau yang ada di tengah-tengah teluk. Sebebasnya dan sepuasnya. Asal tidak menabrak pohon bakau saja.

Bila nantinya sudah jenuh meliuk-liuk di Teluk Katurei, wisatawan bisa juga membawa motor skinya ke arah lautan melewati Dusun Malilimok, gerbang masuk tadi.

Ke arah lautan ini akan ditemukan gugusan pulau-pulau kecil yang juga sebagai tempat menginapnya wisatawan mancanegara, seperti wisawatan dari India, Australia, Amerika, Belanda dan wisatawan lainnya yang datang untuk menikmati ombak Mentawai.

Di pulau-pulau ini telah banyak berdiri resort-resort tempat menampung wisatawan, baik itu resort yang memiliki izin beroperasi maupun yang tidak memiliki izin sama sekali. Pulau-pulau yang ada di luar ini di antaranya pulau Nyang-nyang, Karamajat, Pananggalat Besar dan Pananggalat Kecil, Karoniki dan lainnya.

Terusan Monachi

Atau, kalau tidak mau ke a rah laut, ke arah Sungai Siberut bisa dilakukan. Untuk ke Sungai Siberut ini tak perlu susah-susah, karena dapat dilewati melalui terusan atau Bandar Monaci. Terusan atau Bbndar ini diberi nama Monachi karena di rintis oleh Pastor Monachi, sekitar tahun 1986.

Pembukaan Terusan Monachi ini tujuan utamanya agar masyarakat Katurei mudah dan aman ke ibu kota kecamatan Siberut Selatan. Tak perlu memutar lewat laut lepas lagi. Pembuatan terusan ini menggunakan tenaga manusia yaitu dengan mencangkul dan menyekop. Hasilnyapun terbilang fantastis, puluhan ribu orang telah yang melewati jalur tersebut hingga sekarang.

Yang memperlengkap keindahan teluk ini lagi untuk dapat dinikmati wisatawan yaitu perkampungan atau dusun. Dusun-dusun yang ada di pinggir teluk ini dirindangi dengan pohon kelapa yang berdiri berbagai macam gaya dan bentuk. Selain dikelilingi oleh pohon kelapa teluk ini dipagari oleh bakau-bakau yang lebat.

Namun sayang, karena kawasan Teluk Katurei ini dekat dengan resort-resort yang ada di perairan Siberut Barat Daya bakau-bakau yang ada terancam keberadaannya akibat maraknya penebangan yang dilakukan untuk pembangunan resort.

Ragam Pesona Teluk Katurei
Ragam Pesona Teluk Katurei

Sunset

Lebih mempesonanya lagi bagi wisatawan yang berkunjung yang jangan sampai terlewatkan yaitu menikmati matahari terbenam(sunset) di sela-sela rimbunan batang bakau. Sunset ini akan dapat kita nikmati perjalannya kembali keperaduan dengan bersantai di dermaga kayu Dusun Tiop Desa Katurei.

Dermaga kayu atau tambatan perahu ini dibangun dari dana Coremap Dinas Kelautan dan Perikanan Mentawai sekitar tahun 2007 lalu seakan ditata untuk dijadikan sebagai tempat memandang keindahan alam ciptaan Tuhan.

Kalau ingin lebih indah dan mengabadikannya, wisatawan dapat melakukan pemotretan sunset ini di atas dermaga kayu, dan juga jangan lupa dermaga kayunya diabadikan dengan melakukan pemotretan pada pagi atau sore hari ketika perkampungan sedikit berkabut.

Hasil yang didapat dari pemotretan ini seakan gambar yang dilukis indah oleh tangan-tangan seniman yang sangat terampil dibidangnya. Tujuan dilakukan pemotretan pada pagi atau sore hari, karena Dusun Tiop Desa Katurei ini berada dibawah bukit, sehingga pada pagi dan sore hari kabut pegunungan menyelimuti perkampungan tersebut. Anda akan terkesima dan berdecak kagum bila pengambilannya pada posisi dan waktu yang tepat.

Sup Kepiting

Selain menikmati tenangnya kawasan Teluk Katurei, matahari terbenam pada sore hari di sela-sela pohon bakau juga wisatawan dapat menikmati masakan kepiting bakau. Lokasi Teluk Katurei ini terkenal sebagai penghasil kepiting bakau karena kawasannya masih dapat dibilang perawan dengan tumbuhan bakaunya. Untuk dapat menikmati ini kita bisa meminta kepada masyarakat untuk dibuatkan sup sederhana. Rasanya bikin hidup lebih hidup.

Juga kepiting bakau ini bisa dijadikan oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung. Harganya tak semahal di Muara Siberut tempat penampungan hasil tangkapan masyarakat. Kepiting yang kecil atau berukuran S harganya Rp22 ribu per kilo. Untuk ukuran sedang atau M Rp35 ribu per kilo dan untuk ukuran besar atau L Rp45 per kilo. Dan biasanya setiap hari Selasa masyarakat akan menjualnya ke Muara Siberut atau penampung sendiri yang datang ke Desa Katurei tersebut.

Sebagai masyarakat Mentawai yang memiliki budaya dan tradisi, tentunya masyarakat masih menjaga dan mempertahankan budaya tersebut. Seperti halnya bangunan rumah masyarakat yang ada di sepanjang pinggiran Teluk Katurei atau rumah masyarakat yang dibangun dikiri-kanan badan jalan tak luput berbentuk dan bermotifkan uma sebagai rumah adat orang Mentawai.

Ini merupakan suatu kebanggaan. Selain bangunan rumahnya, masyarakat Desa Katurei khususnya Dusun Tiop berusaha menjaga lingkungan agar tetap bersih, seperti halnya badan jalan dan sungai-sungai kecil yang ada di tengah-tengah perkampungan.

Desa Katurei ini juga masuk sebagai salah satu daerah binaan Surfaid, seperti program pemberantasan malaria dan juga program siaga bencana. Seperti pada tahun 2006 dan 2007 di tingkat masyarakat dan sekolah dasar dilakukan pelatihan menyelamatkan diri dari bahaya gempa dan tsunami dan pemahaman lainnya yang menyangkut program.

Salah satu contoh lain yaitu diadakannya lomba pembuatan papan dan pondok informasi seputar gempa. Di sini terlihat berbagai macam informasi yang didapatkan dari koran-koran Nasional dan lokal seperti Puailiggoubat.

Nah, dengan berbagai macam bentuk keunggulan dan keunikan itu diharapkan kepada pihak pemerintah daerah Kabupaten Mentawai agar mengelola kawasan tersebut sehingga potensinya termanfaatkan secara maksimal. Misalnya pihak pemerintah bekerjasama dengan investor dalam pembangunan resort yang juga memanfaatkan tenaga lokal, selain itu juga dengan adanya resort masyarakat bisa menjual kepitingnya kepada pihak resort untuk dijadikan menu spesial dengan harga yang lebih tinggi dibanding kalau dijual di Muara Siberut.

Dan tak kalah penting yaitu kepada pihak pemerintah daerah dan aparat penegak hokum agar menindak pelaku illegal logging di kawasan Teluk Katurei yang merusak ekosistem bakau serta kayu yang ada di bukit.

Ini membutuhkan suatu ketegasan, karena kalau hutan bakau habis dan kayu yang ada di kawasan bukit Katurei rusak akan berdampak pada populasi kepiting bakau dan keindahan teluk Katurei tersebut.

Editor: Alber

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: