5 Fakta Menarik Jam Gadang Bukittinggi yang Legendaris

Jam Gadang Bukittinggi
Jam Gadang Bukittinggi

5 Fakta Menarik Jam Gadang Bukittinggi yang Legendaris

Di antara deretan ikon wisata Indonesia, Jam Gadang Bukittinggi menempati posisi istimewa.
Monumen bersejarah ini bukan hanya kebanggaan warga Sumatera Barat, tetapi juga simbol kejayaan masa lalu yang kini menjadi magnet wisata dunia.

Terletak di jantung Taman Sabai Nan Aluih, pusat Kota Bukittinggi, Jam Gadang telah menjadi landmark yang wajib dikunjungi. Dilansir dari laman resmi sumbarprov.go.id, Bukittinggi dikenal sebagai surganya wisata Sumatera Barat — dari alam, sejarah, hingga kuliner khas Minang.


Sejarah Singkat Jam Gadang

Jam Gadang dibangun pada tahun 1926, semasa pemerintahan Hindia Belanda.
Menara jam ini didirikan atas perintah Ratu Wilhelmina sebagai hadiah untuk Rook Maker, sekretaris Fort de Kock.

Arsitek pembangunnya adalah Yazid Rajo Mangkuto Sutan Gigi Ameh, seorang putra Minangkabau.
Dengan biaya sekitar 3.000 gulden, Jam Gadang berhasil berdiri megah tanpa bantuan teknologi modern.

Pada tahun 2010, monumen bersejarah ini resmi ditetapkan sebagai cagar budaya nasional melalui SK Nomor PM.05/PW.007/MKP/2010.
Sejak itu, Jam Gadang menjadi simbol kebanggaan masyarakat Minangkabau dan bagian penting dari sejarah Indonesia.

Jam Gadang Bukittinggi


4 Fakta Unik Jam Gadang Bukittinggi

1. Dibangun Tanpa Semen dan Besi Penyangga

Struktur Jam Gadang sepenuhnya menggunakan pasir putih, batu bata, kapur, dan putih telur.
Putih telur berfungsi sebagai perekat alami yang menggantikan semen, menjadikannya karya arsitektur tradisional yang luar biasa kuat hingga kini.

2. Angka Empat Ditulis IIII, Bukan IV

Keunikan lain terlihat pada penulisan angka Romawi di permukaan jam.
Alih-alih menulis “IV”, pembuat jam menuliskannya sebagai “IIII”, mengikuti tradisi kuno yang dipercaya memberi keseimbangan visual pada keempat sisi jam.

3. Atapnya Tiga Kali Berganti Bentuk

Seiring perubahan zaman, bentuk atap Jam Gadang juga mengalami transformasi.
Awalnya, atap berbentuk kubah dengan patung ayam jantan di puncaknya.
Kemudian pada masa penjajahan Jepang, diubah menyerupai atap kuil Shinto Jepang.
Setelah Indonesia merdeka, atapnya diganti menjadi bagonjong, khas rumah adat Minangkabau — bentuk yang masih bertahan hingga kini.

4. Mesin Jam Buatan Jerman, Sama dengan Big Ben

Mesin Jam Gadang dibuat oleh Vortmann Relinghausen, perusahaan asal Jerman.
Uniknya, mesin yang sama juga digunakan pada Big Ben di London, dan hanya ada dua unit di dunia.
Keduanya masih berfungsi hingga kini dengan keakuratan luar biasa.


Harga Tiket Masuk dan Jam Operasional

Untuk menikmati pesona Jam Gadang, pengunjung tidak dikenakan tiket masuk.
Kawasan ini terbuka untuk umum, dikelilingi taman kota dan area pejalan kaki yang nyaman.
Jam Gadang juga ramai dikunjungi pada malam hari, ketika pencahayaan menara menambah suasana romantis di pusat kota.


Rekomendasi Wisata Dekat Jam Gadang Bukittinggi

Setelah puas berfoto di depan Jam Gadang, jangan lupa menjelajahi berbagai destinasi menarik di sekitarnya:

1. Lobang Jepang Bukittinggi

Terowongan peninggalan masa penjajahan Jepang yang kini menjadi objek wisata sejarah populer.

2. Tabiang Takuruang

Tebing alami di Jorong Jambak, Agam, yang memberikan panorama “terkurung” nan indah — hanya 7 km dari pusat kota.

3. Rumah Kelahiran Bung Hatta

Wisata sejarah untuk mengenang Wakil Presiden pertama RI, berjarak sekitar 2 km dari Jam Gadang.

4. The Great Wall Koto Gadang

Jalur trekking indah mirip Tembok China, berjarak 2,7 km dari pusat Bukittinggi.

5. Tapian Rajo

Lembah indah di kawasan Sianok Anam Suku, hanya 4,4 km dari Jam Gadang — cocok untuk pecinta fotografi alam.

Untuk rencana perjalanan wisata lainnya di Sumatera Barat, kunjungi artikel menarik di Pituluik.com 🌿


Menjaga Warisan Budaya Minangkabau

Sebagai ikon Sumatera Barat, Jam Gadang bukan hanya simbol kota, tetapi juga saksi sejarah perjuangan dan budaya Minangkabau.
Menjaga kebersihan dan keindahan kawasan ini adalah bentuk penghargaan terhadap warisan leluhur yang telah bertahan hampir satu abad.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x