Sejarah
Falsafah nama
Pitulik dalam bahasa minang berarti alat tulis. Berasal dari bahasa belanda Potlot, yang kurang lebih berarti nama. Sebagai benda, pituluik terbuat dari kayu dan berisi bongkah arang yang lazim dipakai untuk membuat gambar atau tulisan. Alat tulis kuno ini berperan dalam dunia jurnalistik, dan kepenulisan yang umum dimasa lalu.
Hingga kini pituluik masih dipakai untuk membuat gambar sketsa, atau dasar sebelum menggariskan tinta lukisan. Dari semangat kesederhanaan dan vitalnya alat ini, sebuah tabloid hadir bagi dunia kesenian. Kesederhanaan sendiri menjadi roh yang menggerakkan seluruh personil. Segala kendala justru akan melahirkan solusi, seperi halnya pituluik yang bisa dipakai untuk jenis permukaan apapun.
Risalah
Tahun 1997, atas undangan Direktur Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Padangpanjang, (Almarhum) Prof. Dr. Mursal Esten meminta saya untuk menjadi salah seorang dosen jurusan teater. Jurusan seni teater baru di buka pada tahun itu, dan kekurangan dosen. Pembicaraan ini kami lakukan di Taman Budaya Riau, dalam acara Temu Teater Indonesia, saya membawa teater Aceh dalam event itu, dan Mursal Esten jadi pengamat. Mursal juga berpesan agar saya membawa mahasiswa yang berasal dari Aceh masuk ke jurusan teater.
Sekembali dari Temu teater tersebut, kami berkumpul di Taman Budaya Aceh membicarakan permintaan Mursal Esten. Akhirnya ada beberapa orang yang siap berangkat, diantaranya; Saya (sulaiman juned), Jamaluddin Sharief, Dharminta Soeryana, Zulfikar dan Marlina (Dedek). Resiko saya sangat tinggi, meninggalkan seorang istri, meninggalkan pekerjaan di Kanwil Depdikbud D.I. Aceh dan Redaktur Pelaksana di Surat Kabar Peristiwa, serta yang paling nyeri meninggalkan Sanggar Seni “Cempala Karya” yang berpuluh tahun bersama atas suka dan duka.
Tahun 1997 itu, kami berlima terdampar di ASKI Padangpanjang dengan harapan dapat menambah ilmu secara akademis tentang teater. Saya tak mau jadi dosen, secara diam-diam mendaftar sebagai mahasiswa jurusan seni teater tanpa sepengetahuan Mursal Esten. Jadilah kami mahasiswa. Mursal Esten marah besar sama saya, ketika mengetahui saya memilih jadi mahasiswa ketimbang dosen. Saya sebenarnya sudah menyelasaikan kuliah di FKIP/Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Syiah Kuala, Darussalam-Banda Aceh.
Selesai OSPEK di ASKI, saya berkenalan dengan Abdul Gani, Hafif HR, Sri Yeni, Sri Yono, Asdia, Wiko Antoni, Misda. Mereka senior saya, lalu kami berbincang-bincang tentang nasib Pers Kampus yang katanya ‘hidup segan mati tak mau’. Sekarang ini hanya tinggal Abdul Gani sebagai Ketua UKM-Pers sekaligus anggota. Rekan-rekan tersebut tahu saya wartawan umum, makanya mereka sepakat mengajak saya bergabung di UKM-Pers. Saya sepakat dengan syarat rekan-rekan juga siap untuk ‘berdarah-darah’. Bagi saya kerja seorang jurnalis sangat berat tantangannya, walau hanya Pers Kampus tetap ada tantangannya, pers harus memiliki idealisme untuk bekerja dan berjuang. Kerja di sebuah lembaga pers tidak boleh ada intervensi darimanapun. Tidak terkecuali pers kampus yang notabene ada biaya rutin dari kampus, tetap saja para pejabat kampus tidak boleh melakukan provokasi terhadap pekerja pers. Pers memiliki kemerdekaan, kemerdekaan yang terbingkai dalam estetika-etika dan logika. Saya sudah berpuluh tahun bekerja di pers umum. Rekan-rekan pers harus memiliki rasa kebersamaan.
Setelah ini disepakati, barulah saya berkenan bergabung dengan rekan-rekan UKM-Pers ASKI Padangpanjang. Rapat perdana, terpilihlah saya (Sulaiman Juned) sebagai Ketua UKM-Pers sekaligus Pepimpin Redaksi Majalah “Laga-Laga” ASKI/STSI Padangpanjang, terbit dwi bulanan.
Inilah orang-orang yang siap sedia ‘berdarah-darah’. Kerja siang dan malam tanpa henti. Bersyukur juga dalam perjalanan waktu mereka sudah mengikuti Diklat Jurnalistik tingkat lanjut, menengah dan bahkan ada yang sudah mengikuti Diklat Tingkat Nasional. Hafif HR sekarang jadi dosen di Jurusan Seni Karawitan, Pandu Birowo dan Afrizal Harun jadi dosen di juruan Seni Teater STSI Padangpanjang, Zulfikar jadi Wartawan di Majalah Aceh Kita, Jamaluddin Syarief jadi PNS di Kanwil PLN NAD, Sri Yeni jadi Guru di Perguruan Diniyah Putri, Rustam Efendi sekarang jadi Guru di SMIK Bengkulu. Sementara yang lain sampai kini aku rindukan mereka sebab tak tahu dimana mereka berada. Kebersamaan di Pers sebuah kenangan yang tak dapat kulupakan, sakit-senang-ngilu-bahagia kita jalani bersama. Aku rindu-bangga pada kerja kalian. Majalah laga-laga tetap dikenal dan diingat orang sejak tahun 1997-2000. Periode ini, majalah laga-laga tersebar di seluruh Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia, sampai hari ini pun rekan-rekan pers Kampus di seluruh Indonesia masih mengirimi kita majalah, tabloid atau korannya walau kita sudah tidak terbit lagi. Itu semua hasil dari kerja keras angkatan pertama. Rekan-rekan Pers Kampus tidak hanya mengikuti Diklat Jurnalistik yang dilaksanakan rekan persma di kampus lain. Namun kita juga melakukan Diklat seperti; Diklat Tingkat Dasar Jurnalistik Se-Sumatera Barat, dan DiklatTingkat Lanjut Jurnalistik Se-Sumatera. Pers STSI juga menjadi contoh buat Pers kampus se-Sumatera, Ganto yang sekarang menjadi pers kampus terhebat, mereka belajar pada Majalah Laga-Laga di awal pendiriannya. Begitulah sedikit masa lalu kita yang menyenangkan, walau ada kerikil dalam perjalanan majalah Laga-laga. Majalah laga-laga yang sangat pro aktif, waktu itu ada juga sebahagian mahasiswa STSI yang kurang senang atas kehadiran kami. Tetapi kami anggap itu sebagai pemicu, pelecut untuk menghasilkan kualitas pers yang bertanggungjawab sebagai kontrol sosial dan pencerdasan bagi masyarakat. Toh akhirnya keberadaan majalah “laga-laga” menjadi ruang pencerdasan dan berpikir kritis.
Periode saya selesai (pensiun sebagai mahasiswa), lalu dialih generasikan kepada Wiko Antoni dan kawan-kawan, pada tahun 2000. Sempat terbit tiga edisi. Lalu tahun 2003 Wiko juga pensiun, Persma juga pensiun (alias tidak terbit satu tahun). Waktu itu saya sudah PNS (dosen di jurusan teater), saya prihatin pers kampus sekarat, saya temui Pembantu Ketua III Firdaus, S.St. mengusulkan agar dilaksanakan Diklat Jurnalistik Tingkat Dasar untuk kalangan STSI saja, beliau setuju. Harapan saya agar pers kampus hidup kembali. Lalu pada tahun 2005 Qadafi dan kawan-kawan hadir pada waktu itu, saya di tunjuk sebagai pembimbing UKM-Pers, dana sudah tersedia-bahan penerbitan sudah siap cetak, namun sayang saya harus berangkat untuk melanjutkan studi S-2 di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta-Jawa Tengah. Terakhir saya dengar kabar yang sangat kabur, pers kampus tidak bernafas lagi.
Awal 2008, selesai dari studi S-2, saya di panggil Pembantu Ketua III, Martarosa, S.Sn., M.Hum, beliau meminta kesedian saya untuk membimbing Pers kampus, dengan senang hati saya bersedia jika mahasiswa berkenan untuk bekerja keras, dan ‘berdarah-darah’. Setelah beberapa kali melakukan rapat dengan para punggawa di UKM-Pers, saya mulai teringat 12 tahun yang lalu ketika pertama-pertama ingin membangun pers kampus. Semangat-kerja keras-pantang menyerah saya temui pada seluruh anggota UKM-Pers yang dipimpin Gusnita Linda, serta Tabloid Pituluik yang dikomandani Ryian Syair. Ini yang aku suka-senang. Mungkin ini saatnya Pers Kampus STSI Padangpanjang kembali jaya. Jaga kebersamaan agar tetap solid. Jurnalis laksana seorang serdadu, pantang menyerah sebelum nyawa lepas dari raga. Bravo! Jaya Pers Kampus-Jaya Pituluik

