Jam Gadang Bukittinggi selalu menjadi pusat perhatian wisatawan yang datang ke Sumatra Barat. Menara jam yang berdiri megah di jantung kota ini bukan hanya penunjuk waktu, tetapi juga simbol sejarah dan identitas masyarakat Minangkabau. Hingga kini, kawasan Jam Gadang tetap ramai dikunjungi, baik pada siang maupun malam hari.
Jam Gadang dibangun pada 1926–1927 saat Bukittinggi masih bernama Fort de Kock. Pembangunannya diprakarsai oleh sekretaris kota Hindia Belanda, Hendrik Roelof Rookmaaker, dengan arsitek lokal Minangkabau, Yazid Rajo Mangkuto. Karena itu, bangunan ini memadukan gaya Eropa dengan sentuhan budaya daerah.
Keunikan Jam Gadang Bukittinggi terletak pada struktur bangunannya. Menara setinggi sekitar 26 meter ini tidak menggunakan semen, melainkan campuran pasir, kapur, dan putih telur. Meski demikian, bangunan tersebut tetap kokoh hingga hampir satu abad.
Selain itu, mesin jam yang digunakan tergolong langka. Mesin ini didatangkan langsung dari Jerman dan disebut kembar dengan mesin jam Big Ben di London. Fakta lain yang menarik perhatian adalah penulisan angka empat yang menggunakan “IIII”, bukan “IV”, sehingga menjadi ciri khas tersendiri.
Rekomendasi Produk Untuk Anda
Bentuk atap Jam Gadang juga mengalami perubahan sesuai perjalanan sejarah. Dari kubah pada masa Belanda, berubah menjadi kerucut saat pendudukan Jepang, hingga akhirnya menggunakan atap bagonjong khas Minangkabau seperti yang terlihat sekarang.
Saat ini, kawasan Jam Gadang telah ditata menjadi taman kota yang nyaman dengan pencahayaan menarik pada malam hari. Lokasinya yang strategis membuat tempat ini selalu menjadi titik kumpul wisatawan.
Bagi masyarakat Sumatra Barat, Jam Gadang bukan sekadar objek wisata, melainkan simbol kebanggaan yang terus hidup di tengah perkembangan kota.
Untuk informasi wisata dan cerita menarik lainnya, pantau terus pembaruan terbaru di Pituluik melalui https://pituluik.com.

Penggiat literasi digital, WordPress dan Blogger
website: alber.id , andesko.com , upbussines.com , pituluik.com












